| Semarang & Sekitarnya | Minggu, 28 September 2003 |
"Keradikalan" Musik Radical CorpsSEMARANG - Meski langkahnya sempat tersendat dan perjalanan kariernya penuh hambatan, grup musik metal asal Semarang, Radical Corps tetap pantang menyerah. Semalam, di Ventura Cafe Jl Ki Mangunsarkoro 15 Semarang, band rock yang digawangi oleh Rudy Murdock (vokal, flute, dan gitar), Yus (perkusi dan drum), Enggar (bas), dan Novy (gitar) tersebut membuktikan "keradikalannya" dalam bermusik. Sore sebelum konser dimulai, didampingi Wawan dari Napi Record Bandung, Koming dari Event Organizer Daffa Production, dan Koordinator PT HM Sampoerna Semarang Panut Margono, para personel Radical Corps menggelar jumpa pers berkait dengan launching album kedua mereka Born in The Land of Hate. Album indie yang dipasarkan secara merger itu, berisi delapan lagu keras, yang merupakan adonan musik berbasis trash, progressif rock, nu metal, dan funk. Keistimewaan album itu terletak pada ketajaman lirik yang kritis, yang menyoroti persoalan kemanusiaan, sosial, dan lingkungan. Keistimewaan lain, pada lagu "The Hopes of Papua" mereka menyajikan perpaduan unsur etnis Papua yang mengandalkan alat musik tradisional tifa. "Kami sangat serius menggarap lagu ini," ujar Rudy Murdock. Keseriusan itu,dibuktikan dengan keterlibatan seorang seniman asal Papua, Metu Rumbiak, yang selain memasok lirik berbahasa asli sukunya, juga turut memberi kontribusi rasa musik tradisional di tengah keradikalan warna dan ingar bingar rock. Konser semalam, diawali dengan penampilan beberapa grup band yang sudah tidak asing lagi di komunitas underground, seperti Godless (menjamah aliran black metal), No Life (hard core), dan Castle (gothic) yang beberapa waktu lalu memenangi festival musik underground. Seperti dalam klip video pertama mereka, pada konser bertajuk "A Mild Life Production Presents The 2nd Album of Radical Corps" itu grup yang lahir sebelas tahun lalu dan telah menghasilkan dua album tersebut didukung pula oleh para seniman dari Papua membawakan tari-tarian adat pada lagu andalan "The Hopes of papua". Sebuah konser yang radikal, benar-benar tersaji dari dan untuk masyarakat Semarang.(Nana Swarasama-45) |