| Bincang Bincang | Minggu, 28 September 2003 |
"OrangAneh" Made in Padang
BANYAK orang menilai dr Jose Rizal Jurnalis SpBO (Spesialis Bedah Orthopedi) adalah orang aneh. Betapa tidak, pada saat dokter lain sibuk melayani pasien di berbagai rumah sakit dengan upah melimpah, dia justru berpayah-payah menjadi dokter sukarelawan ke daerah perang yang sangat mengancam nyawanya. Berbagai medan perang mulai dari Ambon, Galela, Halmahera, hingga Afghanistan telah diterjuni. Tentu dengan menyisakan sebuah kenangan tersendiri. Terutama saat dirinya berhadapan dengan keadaan yang serba terbatas. Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengaku pernah melakukan operasi dengan peralatan seadanya. Bahkan sewaktu di Galela (Maluku Utara) Jose pernah mengamputasi kaki pasien dengan gergaji kayu. ''Saya selalu teringat kejadian itu. Secara etis kedokteran itu dibenarkan. Karena kondisi yang sangat terbatas sekali saat kita dikepung musuh. Namun kalau dilakukan di Jakarta atau kota besar lain tidak bisa dibenarkan,'' kata pria kelahiran Padang, 11 Mei 1963. Jose kembali mengalami hal yang sama saat di Afghanistan. Saat itu pasien akibat pemboman gencar AS begitu membeludak, sementara fasilitas rumah sakit sangat minim. Akibatnya peralatan menyuntik pun terpaksa dipakai beberapa kali. Karena itu, alkohol atau zat untuk mensterilkan peralatan itu akhirnya tidak ada. Maka satu-satunya jalan yang bisa digunakan Jose adalah merebus di air mendidih. Selain itu saat di Afganistan Jose merasakan sendiri apa yang disebut guyuran bom di Kandahar. ''Serangan datang silih berganti. Hujan bom membuat telinga saya sakit dan berdengung-dengung. Kejadian ini akan selalu saya ingat,'' kata suami Dian Sulistiawati MSi tersebut. Menurut pendapat dia walaupun berpengalaman di Ambon dan Aceh, tetapi tetap saja untuk ke Afghanistan membutuhkan nyali tinggi. Tidak ada gempuran dahsyat di Aceh dan Ambon, sedangkan di Afghanistan peristiwa tembak-menembak saja sudah puluhan kali lipat lebih sengit. Belum lagi hujan bomnya. Bersama rekan-rekan dari berbagai negara Islam, Jose dan tim MER-C mengendarai mobil sejauh seribu kilometer lebih. Itu dilakukan untuk mengunjungi tempat yang tak ada lagi dokter yang mau mendatangi. ''Saya dan kawan-kawan berhasil menembus Afghanistan melalui Quetta yaitu perbatasan Afghanistan-Pakistan di sebelah tenggara kemudian saya menerobos wilayah Selatan sampai ke Kandahar yang masih dikuasai Taliban,'' kata ayah Aisha, Nabila, dan Saladin ini. Saat ini Jose bekerja di RS Setia Mitra, RS Budi Asih, dan RS Siaga Raya Jakarta. Untuk melaksanakan tugas sebagai dokter relawan, Jose juga harus sering mengeluarkan harta selain mengandalkan peran masyarakat yang peduli pada aksinya sebagai dokter relawan. ''Prinsipnya saya harus ikhlas mengeluarkan semua harta yang saya punyai. Insya Allah kalau bekerja dengan ikhlas kita akan mendapat berkah yang jauh lebih berarti dan bernilai dibandingkan dengan apa yang kita keluarkan,'' kata pria bernama asli Jusrizal Jurnalis Mengenai namanya yang menjadi Jose Rizal, dia mengatakan bahwa hal inilah satu-satunya bentuk ketidaktaatannya pada orang tua. Jose yang menghabiskan masa kecilnya hingga tamat SMA di padang mengaku sebagai anak yang taat kepada perintah orang tua. ''Semula saya ingin jadi tentara atau astronot. Namun karena saya selalu menuruti keinginan orang tua, maka saya jadi dokter,'' katanya. Gelar dokter diraih (1988). Jose lantas bertugas di sebuah Puskesmas di Padang. Ketaatan pada orang tuanya pula yang mendorong Jose mengambil program spesialis bedah orthopedi. Ceritanya bermula dari sebuah tragedi, ketika ibunya ditimpa musibah kecelakaan. Kakinya patah dan harus menjalani operasi. Dua tahun kemudian ternyata tulang yang patah itu tidak tersambung sehingga harus dioperasi ulang. Rupanya ini memberikan kesan yang mendalam, dan sejak saat itu Jose ingin mendalami spesialis bedah orthopedi. Gelar ini digondol pada 1999. (Hartono Harimurti-72c) |