| Bincang Bincang | Minggu, 28 September 2003 |
dr Jose Rizal Jurnalis SpBOApa Salah Menolong Orang yang Dizalimi
D OKTER Jose Rizal Jurnalis SpBO dalah ''pria aneh'' dari Presidium MER-C (Medical Emergency Rescue Committee). Pada saat dokter lain ingin menjauh dari ''bom'', dia malah mendekat baik dalam arti simbolik maupun makna sebenarnya. Namanya kian berkibar setelah menangani ''kesehatan'' Ba'asyir dan berangkat ke Afghanistan untuk melakukan misi kemanusiaan, menangani kesehatan orang-orang yang diduga sebagai teroris. Apa protes dia terhadap aparat? Apa tujuan dia menangani kesehatan yang diduga sebaga ''teroris'' dan keluarganya? Berikut percakapan Suara Merdeka dengan pria yang juga bekerja di di RS Setia Mitra, RS Budi Asih, dan RS Siaga Raya Jakarta itu.
Bagaimana penanganan MER-C terhadap istri dan keluarga dari mereka yang disangka sebagai teroris? Sebelumnya perlu kami tegaskan, MER-C tidak akan melakukan tindakan politik, kecuali politik kemanusiaan. Politik kemanusiaan adalah sebuah situasi ketika kita terpanggil melakukan sesuatu jika melihat seseorang atau sekelompok orang mengalami perlakuan di luar kemanusiaan. Pendek kata, kami akan menolong mereka yang diperlakukan secara sewenang-wenang itu. Ini sudah lama kami lakukan, sejak terjadi pengambilan paksa terhadap Ustad Abu Bakar Ba'asyir. Kami berteriak-teriak, protes, mengapa hal ini sampai terjadi. Saat itu Ustad Ba'asyir sakit. Sekarang ada kasus penangkapan aktivis yang masih debatable apakah sesuai dengan prosedur atau tidak. Kalau tidak mengikuti prosedur, bahkan ada penyiksaan, wajar dong jika hal itu dikatakan sebagai penculikan dan pelanggaran kemanusiaan. Ini kan juga masalah serius. Memang serius. Namun...? Coba kita bayangkan bagaimana mereka merasakan depresi akibat penangkaan dan penyiksaan itu. Apalagi jika ternyata mereka tidak bersalah atau aparat salah comot. Bagaimanapun, mereka merasakan kehilangan suami atau ayahnya. Rasakan bagaimana ketika tiba-tiba rumah mereka digeledah tanpa prosedur yang jelas. Belum lagi kalau mereka juga menerima teror atau telanjur dicap teroris oleh masyarakat sekitar. Ini kan juga masalah kemanusiaan. Yang terdengar di lingkungan kan suami atau ayah mereka adalah anggota teroris. Jadi, sekali lagi ini masalah serius yang harus diperhatikan. Kemudian mari kita lihat saat awal-awal kasus ini mencuat tidak ada lembaga lain yang menolong nasib mereka. Karena tidak ada, ya kami dari MER-C menanganinya. Begitu awalnya. Namun untuk advokasi dalam hal hukum, itu di luar kemampuan kami. Untuk itu, kami minta tolong kepada LSM lain. Jadi, fokus kami di bidang medis dan kemanusiaan. Termasuk penyaluran bantuan kemanusiaan. Bagaimana mereka bisa bertemu dengan MER-C? Ini bisa dibilang kebetulan juga. Awalnya relawan MER-C, Azzam, ditangkap aparat. Kami harus menolong dia. Kami ingin tahu apa alasan dia ditangkap. Apakah kuat dasar penangkapannya? Maka kami menjenguk dia di Polda untuk memberikan dukungan moral dan mengupayakan bantuan hukum. Kebetulan beberapa keluarga dari mereka yang dituduh terlibat terorisme juga datang ke Polda untuk maksud sama. Akhirnya mereka tahu MER-C dan akhirnya mereka mohon bantuan kami. Namun sebelum menyatakan bersedia, kami sudah menawarkan kepada LSM-LSM lain. Karena responsnya kurang, kami memutuskan untuk membantu. Alhamdulillah setelah kami tangani ternyata beberapa lembaga advokasi menyatakan bersedia membantu para istri tersebut. Menurut pendapat Anda, apa yang paling dibutuhkan mereka? Banyak sekali. Namun yang paling penting adalah menumbuhkan rasa kebersamaan. Itu suatu support psikologis yang sangat efektif. Bagaimana tidak? Mereka kini dijauhi banyak orang. Ada rumor siapa yang berhubungan dengan mereka, misalnya dalam hal bisnis, pasti akan dipanggil polisi untuk dimintai keterangan. Masyarakat kita kan belum siap menghadapi "ketidakenakan" seperti itu. Karena itu dipilihlah jalan praktis dengan cara menjauhi mereka. Ada aktivis yang bernama Sutikno itu ditangkap hanya gara-gara membantu keluarga tersangka bom Bali. Kok berlebihan sekali. Kami kenal, kami melihat keluarganya telantar karena ayah atau suami mereka ditangkap. Kan wajar kalau kami menolongnya. Ini semua benar-benar terbukti. Mereka yang dicap teroris, bisnisnya mengalami penurunan. Kami perlu juga men-support materi bagi mereka yang mengalami kerugian seperti itu. Karena itu, sebaiknya kalau memang mereka tidak terbukti terlibat atau bersalah, nama mereka harus segera direhabilitasi. Apakah selama ini ada tekanan kepada MER-C akibat menangani kasus ini? Jelas ada. Ada juga kritikan kepada MER-C. Kritikan itu juga muncul dari kalangan intern MER-C. Mereka mengatakan MER-C telah keluar dari visi dan misi. Saya tegaskan kalau menyangkut masalah kemanusiaan, tindakan MER-C tidak keluar dari visi dan misi. Mungkin kritik dari dalam itu muncul karena banyak intel yang mendatangi sekretariat MER-C. Mungkin juga karena ada teror terhadap relawan MER-C. Relawan kami pernah berkali-kali disrempet. Teror itu juga dirasakan beberapa cabang MER-C. Cabang MER-C itu ada di Malang, Solo, Jogja, Semarang, Pontianak, Medan, dan Jerman. Tentang cabang di Jerman itu untuk mengantisipasi masalah Bosnia dan Checnya. Wajar saja bila ada pengurus MER-C yang merasa ngeri. Namun kini semuanya bisa diatasi. Mereka sadar semua itu merupakan risiko perjuangan. Bayangkan bagaimana jika ada orang yang menurut agama masuk dalam kategori dizalimi tidak ada yang menolong nasib mereka! Apakah salah kalau kami menolong orang yang dizalimi. Namun perlu ditegaskan, kami punya beberapa patokan. Kami tidak akan menggunakan kosmetik atau lipstik human interest. Kalau menolong ya menolong beneran. Kalau kami ikhlas insya Allah Allah beserta kami. Kabarnya MER-C juga ke Afghanistan? Afghanistan menjadi misi luar negeri kami yang pertama. Kami waktu itu berhasil masuk Kandahar empat hari sebelum pemerintahan Taliban di Kabul menyingkir ke gunung-gunung untuk terus melawan invasi AS. Jadi saat itu masih gencar-gencarnya AS melakukan gempuran pada kota-kota di Afghanistan. Waktu itu saya berangkat bersama dr Yogi, dr Hendri, dr Dani, dan Azzam. Tahun 2003 kami melancarkan misi kedua ke Afghanistan. Saya berangkat bersama Sarbini, dan Arismunandar. Saat itu pasukan pendudukan AS melancarkan operasi Anaconda. Apa pengalaman paling berkesan di sana? Jujur saja saya sangat kagum kepada orang-orang Afghan. Mereka tawakal dan hanya bergantung pada Allah. Mereka miskin, susah, punya alam gersang yang dibom setiap hari. Banyak ulama dan pemimpin Taliban yang zuhud dan hidup bersahaja. Bertemu dengan mereka sangat menenteramkan batin. Ada ketenangan di tengah hujan bom dari pesawat tempur AS. Memang banyak komentar yang nadanya tidak mendukung langkah kami. Misalnya ngapain mesti ke sana sementara di sini banyak yang mesti ditolong. Namun saya berpendapat tidak perlu menunggu turunnya fatwa ulama yang menyatakan berangkat ke Afghanistan. Ini fardhu'ain atau fardhu kifayah. Misi ke luar negeri yang lain adalah ke Irak dan Palestina. Untuk Palestina kami baru bisa sampai di perbatasan. Kami masih menjajaki, tetapi kami sangat ingin ke sana, karena setelah sampai di perbatasan, kami melihat bahwa peran kami masih sangat dibutuhkan. Lalu aktivitas Anda di dalam negeri? Selain menangani masalah Ambon, kami juga "terjun" pada saat gempa bumi di Bengkulu serta bencana tanah longsor di Jawa, banjir Jakarta, dan sebagainya. Termasuk juga saat terjadi kerusuhan di Sampit antara masyarakat Dayak dan Madura. Banyak sekali aktivitas MER-C. Dari mana dananya? Inti dari MER-C itu adalah pada kekuatan sumber daya manusianya. Masalah dana kami anggap sebagai permasalahan kedua. Namun kalau ada orang yang rela bersusah payah untuk kerja kemanusiaan seperti ini, insya Allah dana mengalir. MER-C tidak pernah mengandalkan dana dari luar negeri, meski tidak dimungkiri ada juga dana dari sana. Dari mana? Dari dunia Islam, tapi itu sekali lagi tidak kita andalkan karena jumlahnya masih kalah dari dana dalam negeri. Berapa besar dana yang bisa dihimpun dari dalam negeri? Saat akan berangkat ke Afghanistan, alhamdulillah kami berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 1,3 miliar. Dari jumlah itu memang ada sedikit dana bantuan dari pemerintah yaitu sebesar Rp 100 juta. Jadi, bisa dilihat potensi dan kesadaran masyarakat kita ternyata membaik. Hanya perlu peningkatan pengelolaan secara profesional saja. Kembali ke masalah SDM, anggota MER-C alhamdulillah sudah banyak. Jumlah relawan medis dan nonmedis mencapai 400 orang. Dari jumlah itu kami bagi lagi mereka yang mau turun ke medan perang dan mereka yang tidak mau turun ke lapangan. Namun itu sama baiknya. Karena mereka yang masuk kategori tidak mau turun itu, mau turun ke bencana alam seperti gempa bumi banjir, tanah longsor, dan sebagainya. Hanya, mereka tidak atau lebih tepat belum bersedia turun ke medan perang. (Hartono Harimurti-72c) |