
| Sabtu, 20 September 2003 | Surat Pembaca |
Pengalaman di Bengkel Surya Jaya Variasi Saya mendapat pengalaman yang tidak mengenakkan atas pelayanan bengkel mobil "Surya Jaya Variasi" di Jl Siliwangi 438 Semarang. Saya punya mobil yang kacanya tergores wiper. Beberapa waktu lalu mobil saya bawa ke bengkel tersebut. Sebelum dikerjakan, disepakati biaya selep kaca Rp 150 ribu dan pemilik bengkel mengatakan goresan dan pelangi kaca mobil akan hilang. Setelah dikerjakan sampai 3 kali, ternyata terlihat goresan tidak berkurang sedikit pun. Pegawai bengkel mengatakan kaca yang tergores tidak bisa hilang. Memang sebelum dikerjakan ada celetuk pegawai yang mengatakan kaca goresan tidak bisa hilang. Tetapi saya kira hanya gurauan, karena pemilik bengkel mengatakan bisa hilang jika diselep. Ketika saya menyampaikan kepada pemimpin bengkel, dengan enteng dia menjawab sudah bekerja semaksimal mungkin dan goresan memang tidak bisa hilang kecuali kacanya diganti dengan biaya Rp 2,2 juta. Kalau saya keberatan membayar Rp 150 ribu, boleh dipotong Rp 50 ribu sehingga hanya Rp 100 ribu. Setelah melalui perdebatan akhirnya saya bayar Rp 50 ribu tanpa kuitansi. Yang saya masalahkan bukan uangnya, tetapi cara pemilik bengkel yang tidak fair . Mengapa tidak mengatakan sejak awal tidak bisa menghilangkan goresan kaca tersebut. Menurut saya, Anda tidak profesional dalam menjalankan bisnis dan justru akan merugikan Anda sendiri. Andang Prananindya *** Prihatin Guru Bantu Guna mengatasi kekurangan tenaga pendidik, pemerintah menerapkan sistem kontrak Guru Bantu. Mereka tak ubahnya seperti pendidik yang lain (baca: guru negeri), yang mempunyai tanggung jawab kemajuan dunia pendidikan. Tetapi kesejahteraan dan perlakuan terhadap mereka seakan hanya berstatus guru "abu-abu". GTT tidak, negeri pun tidak dan hal ini membuat kita prihatin. Pertama, tiga bulan semenjak SK turun, mereka sama sekali belum menerima upah mengajar yang Rp 460.000/bulan dipotong pajak 5%. Sementara dari sekolah masing-masing, honor dikurangi sedemikian rupa karena dianggap mereka sudah gajian layaknya guru negeri. Kedua, untuk subsidi kelebihan jam mengajar, Guru Bantu sama sekali tidak berhak mendapatkan. Padahal guru negeri justru masih berhak (terlampir). Ketiga, sebagian Guru Bantu mengatakan takut untuk bertingkah atau rewel soal nasibnya karena mungkin akan berisiko pada perpanjangan kontrak dua tahun mendatang. Termasuk pada saat penyaringan PNS nantinya. Kepada yang berwenang baik pusat, daerah, dan khususnya sekolah serta Komite Sekolah mudah-mudahan tergerak untuk lebih memperhatikan keberadaan Guru Bantu. Antara lain menghitung jam mengajar mereka: Sampai dengan 18 jam, dihargai 50% - 75% dari waktu masih GTT. Selebihnya dari 18 jam sampai sebanyak yang diampu, tidak hanya 12 jam seperti untuk perhitungan pada PAK yang disamakan dengan GTT dan negeri. Subsidi kelebihan jam mengajar sebaiknya tetap berhak sebagaimana GTT dan negeri. Kalau tidak berlebihan, ke depan Guru Bantu sebaiknya secara otomatis diangkat sebagai guru negeri, atau setidaknya diberi prioritas untuk penegerian, terutama yang berijazah. Hal tersebut mengingat prosedur untuk menjadi Guru Bantu mirip dengan penyaringan PNS, dengan syarat utama ijazah dan akta, syarat kelengkapan surat dokter Pemerintah, SKKB dan tes tertulis. Hasil tes pun langsung dari pusat, murni kemampuan peserta. Bagus, walau dalam penempatan di daerah banyak dikeluhkan. Harapan kita, memperhatikan mereka yang terlibat sebagai tenaga pendidik untuk menapaki kehidupan yang lebih baik, akan membawa ketenangan dalam menuntun dan mengasuh anak didik. Wakhid Santoso *** Tanggapan PT Askes Berkenaan dengan Surat Pembaca 15 September 2003 atas nama Bapak H Soetarno berjudul: ''Nasib Pensiunan Jadi Peserta Askes,'' kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Bapak terhadap PT Askes. Kami telah mendatangi Bapak tanggal 15 September 2003 dan diperoleh informasi sejak Bapak pensiun belum pernah memiliki kartu Peserta Askes. Sehingga saat berobat ke rumah sakit diberlakukan sebagai pasien umum, harus membayar sendiri biaya obat dan biaya pelayanan kesehatan. Setelah diberikan penjelasan, yang bersangkutan kini telah memiliki kartu Peserta Askes. Kami imbau kepada para peserta yang belum memiliki atau memperoleh kartu Askes, menghubungi kantor PT Askes setempat agar dapat diterbitkan kartunya. Pengurusan kartu tidak dipungut biaya/gratis dan selesai pada hari itu juga. Plh Kepala, *** Kita Belum Merdeka Kami orang Wonosobo heran karena bangsa ini sudah merdeka 58 tahun, tetapi yang terjadi malah kemunduran dibandingkan zaman Belanda. Kalau dilihat bekas pembangunan zaman Belanda masih ada yaitu rel KA dan bekas bangunan irigasi yang mengairi lahan ratusan hektar di sekitar Puntuk Jati Desa Bener dan Desa Kepil. Apakah ini berarti zaman Belanda lebih maju dibanding sekarang. Belum lagi kalau melihat pembangunan berbagai kota yang super megah dan canggih. Tetapi kami yang hidup di sini belum menikmati sarana pembangunan dari jalan aspal, listrik, telepon apalagi jaringan internet. Ironi memang. Tetapi begitu kenyataannya. Di zaman kemerdekaan ini ternyata kita belum merdeka karena masih harus berjuang melawan ketertinggalan, kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan dan ketidakpastian masa depan. Padahal sebentar lagi akan memasuki era perdagangan bebas. Lalu apa jadinya jika masih tertinggal seperti sekarang. Mampukah kita bersaing dengan bangsa lain. Bapak pejabat yang terhormat jangan biarkan kami tertinggal terlalu jauh. Imam Al-Huda *** Hidup Makin Berat Nama saya Heni Novita tinggal di Desa Karanggondang RT 3/RW 8 Mlonggo Jepara, punya 2 anak bernama Elvin Tina Novinta (SMP) dan Oki Oktavianus (SMU). Saya buka warung kecil-kecilan, suami sakit-sakitan sehingga penghasilan tidak menentu. Setiap hari saya memikirkan biaya sekolah yang cukup berat. Tiap bulan uang SPP saja masing-masing Rp 30.000, masih ada uang gedung sekian ratus ribu rupiah. Uang transpor mereka Rp 10 ribu/hari. Belum lagi harus beli buku-buku pelajaran/wajib yang harganya tinggi. Rasanya hidup ini sangat berat. Untung hanya dikaruniai 2 anak. Seandainya lebih banyak lagi, bagaimana mereka nantinya. Yang jelas siang malam saya hanya bisa berdoa dan menyerahkan keadaan kepada Sang Pencipta. Dengan kondisi keluarga seperti ini saya terpaksa menulis dan mengetuk hati para pembaca, e... siapa tahu mungkin ada yang bersedia membantu meringankan beban tersebut. Syukur jika ada yang sudi menjadi orang tua asuh dari anak saya tersebut. Heni Novita S |