
| Sabtu, 20 September 2003 | Berita Utama |
Asmunah Sering Meninggalkan BayinyaASMUNAH (41). Dialah seorang ibu yang menjadi tersangka jual beli bayi, warga Jalan Petek Kampung Banjar RT 1 RW 8 itu tega menjual darah dagingnya yang baru berusia 11 hari kepada orang lain, seharga ratusan ribu rupiah. Akibatnya, dia harus berurusan dengan polisi. Bahkan menurut polisi, suaminya, Baihaqi (45) alias Andi yang kesehariannya bekerja sebagai kernet angkutan umum juga ikut digiring ke Mapolresta Surakarta, Kamis (18/9) untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ditangkapnya Asmunah disatu sisi membuat sebagian familinya lega, karena kini tidak ada lagi pertikaian antara mertua dan menantu. Persisnya, antara Asmunah sebagai menantu dan mertuanya, Hj Komariah. Namun di sisi lain juga mengundang rasa iba, sebab tiga anak Asmunah lainnya kini tidak lagi bersama sang ibu. Untuk sementara, ketiga anaknya dipelihara saudara ipar tersangka, baik makan setiap harinya maupun biaya sekolah. "Ditangkapnya dia (Asmunah-Red) memang melegakan. Tetapi saya juga sedih karena anak-anaknya yang kasihan. Keluarga kami tetap bertanggungjawab terhadap nasib anak-anaknya yang masih membutuhkan perhatian," kata salah seorang wanita yang mengaku kakak kandung Baihaqi. Dari sejumlah tetangga yang ditanya Suara Merdeka, ternyata banyak yang bungkam. Mereka umumnya mengaku, tidak tahu persis soal kasus yang menimpa Asmunah dan Baihaqi. Hanya saja, kebanyakan mereka mengatakan, kalau tidak sering bergaul dengan suami-istri itu, meski satu kampung. Sementara itu, untuk mengorek lebih dalam kasus tersebut, Suara Merdeka berusaha mencari dukun bayi yang disebut-sebut manangani proses persalinan Asmunah. Di Jalan Layur Kampung Kranjangan Kecil No. 80, dukun bayi itu ditemukan. Dia adalah Ny Masriah (80). Kondisi pendengaran dan penglihatannya sudah tidak sempurna lagi. Karena sulit berkomunikasi dengan baik, akhirnya anak Masriah yang bernama Suharti (51) dan cucunya Nuri (25) yang memberikan keterangan kepada Suara Merdeka. Diantar Suami Menurut mereka, Asmunah datang ke rumahnya, Senin malam (8/9). Saat itu tersangka diantar suaminya, Baihaqi dengan keperluan minta bantuan ibunya, Ny Masriah karena perutnya mulai ada tanda-tanda akan melahirkan. "Bayi lahir Selasa subuh (9/9) sekitar pukul 05.00. Jenis kelamin bayi itu perempuan, tubuhnya cukup montok. Berat badan sekitar 3,5 kg dan panjang 45 cm," katanya. Sebagai seorang ibu, Asmunah beberapa kali menciumi bayinya. Namun dia menyusui bayinya itu hanya sebentar-sebentar saja. Bayi itu dititipkan di rumah Dukun Bayi, Ny Masriah selama seminggu. "Saya melihat hanya setiap pagi dia menyusui bayinya. Kalau sudah siang, dia pergi entah ke mana. Sedangkan bayinya ditinggalkan sendirian di kamar ibu," jelasnya. Selama berada di rumah dukun bayi, perilaku Asmunah seperti orang bingung.
Sepertinya ada beban berat yang sedang dipikirkan setelah melahirkan. Kebetulan Asmunah belum membayar biaya persalinan sebesar Rp 350.000. Asmunah kerap kali keluar masuk kamar. Tak satu pun kalimat yang keluar dari mulutnya. Namun dia sempat ngomong kalau antara dia dengan mertuanya, Hj Komariah sudah tidak cocok tinggal bersama. Menurut Asmunah, ibu mertuannya tidak pernah memperhatikan dirinya sebagai menantu. "Dia seperti orang stres. Tetapi kalau saya tanya sesuatu, dia masih menanggapi," katanya. Asmunah selalu pergi ke luar rumah setelah menyusui anaknya, yaitu sekitar pukul 10.00 atau 11.00. Setelah itu dia pergi hingga larut malam. Karena bayi yang ditinggalkan sering menangis, Suharti terpaksa menyuapinya dengan air putih dan pisang. Hingga suatu saat, dia menawarkan kepada Asmunah agar bayi itu dia yang merawat. Tetapi Asmunah menolak tawaran itu. Yang membuat resah Suharti, Asmunah pernah meninggalkan bayinya dua malam berturut-turut. Tangisan bayi itu membuatnya iba. Namun di sisi lain, dia merasa jengkel dengan sikap Asmunah yang sering meninggalkan bayi itu. "Tidak ada yang bisa saya lakukan, kecuali menetesi air putih dan menyuapi pisang di mulut bayi itu. Saya jadi kasihan, baru lahir kok sering ditinggal-tinggal," katanya. Belum Lunas Nuri (25) menuturkan, Selasa (16/9) sekitar pukul 12.30, Asmunah datang ke rumah Ny Masriah untuk mengambil bayi. Saat itu juga dia membayar biaya persalinan Rp 350.000 yang tertunda. Biaya sebesar itu meliputi biaya persalinan sampai membersihkan bayi dari segala kotoran. "Itu pun Asmunah belum bisa membayar lunas. Dia hanya bisa membayar Rp 300.000. Sedangkan kekurangannya akan dibayar nanti. Saya tidak tahu kapan kekurangannya akan dibayarkan," kata Nuri. Saat membayar biaya persalinan, Asmunah mengatakan, kalau uang ini hasil pinjaman dari kakak iparnya. Katanya, kakak iparnya utang kepada sejumlah tetangganya untuk membayar biaya persalinan. Sedangkan bayinya itu akan dipelihara oleh kakak iparnya. "Tetapi saya tidak tahu kakak ipar yang mana, Wong dia tidak menceritakan, siapa nama kakak iparnya yang akan memelihara bayi itu," katanya. Suharti sempat jengkel ketika mengetahui, ternyata Asmunah menjual bayinya seharga Rp 600.000 kepada seseorang. Dia menilai, perlakukan Asmunah terlalu kejam terhadap bayinya. Tidak seharusnya dia bersikap begitu bila mau menuruti tawarannya.(Karyadi-69) |