logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 20 September 2003 Berita Utama  
Line

Kolom Nurcholish Madjid

Lebih Dekat ke Titik Persamaan

SIMBOL adalah lambang yang biasa kita gunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang penting dan bermakna. Kita memerlukan simbol, karena kata-kata biasa tidak mampu lagi mengungkapkannya, terutama untuk suatu kenyataan tinggi yang ingin kita sampaikan.

Simbol, atau bahasa Indonesia menyebutnya "tamsil-ibarat" diperlukan sebagai alat mengungkapkan "kenyataan tinggi" kehidupan manusia. Secara etimologis, tamsil berarti perumpamaan, sedangkan ibarat adalah sesuatu yang yang harus diseberangi.

Keterangan ini perlu dikemukakan terlebih dahulu, karena hampir setiap hari kita menyebut kata tamsil-ibarat, tetapi seringkali tidak jelas apa yang dimaksudkan dengan kata itu. Dengan kata tamsil-ibarat itu, artinya segala sesuatu yang ditamsilkan baru kita ketahui maknanya secara benar apabila kita menyeberang ke apa yang ada di balik kata-kata itu.

Sebagai contoh, sering disebut bahasa merupakan suatu sistem simbol. Oleh karena itu, bahasa adalah suatu lambang yang tidak mempunyai maknanya sendiri. Makna bahasa ada pada benda atau barang yang kita namakan sesuai dengan kesepakatan.

Maka banyak teori yang menyebutkan bahwa bahasa itu sebenarnya satu, tetapi kemudian berkembang menjadi berbagai macam, karena terjadinya proses penamaan simbol yang berbeda-beda. Perbedaan simbol ini seringkali dipertengkarkan, akibat orang lupa akan esensinya ("apa yang hendak ditunjuk oleh simbol itu").

Jika orang mengetahui esensi dari simbol itu, dan tidak berhenti pada perbedaan simbolnya, maka pandangan orang dapat menjadi sama. Misalnya agama (yang seperti juga bahasa, pada hakikatnya agama adalah sistem simbol). Perbedaan memang ada pada agama-agama, karena setiap agama mempunyai perbedaan simbol -dalam agama biasa disebut syariah yang berarti jalan- tetapi sebenarnya pada tingkat esensinya ("pada tingkat transendennya") adalah sama, yang dalam bahasa Islam disebut "mengajarkan sikap kepasrahan kepada Tuhan" (makna dari Islam itu sendiri). Dalam bahasa Arab, sistem yang mengajarkan kepasrahan itu disebut dien, yaitu ketundukan.

Berkaitan dengan pemahaman esensi terhadap simbolisme ini, dapat dikemukakan simbolisme Kakbah (kiblat) yang banyak ditulis dalam berbagai literatur kesufian. Orang akan gagal untuk menghayati makna keagamaan menghadap Kakbah, jika tidak tahu makna di balik simbolisme tersebut.

Kenyataan tersebut ditunjukan pada saat Nabi Muhammad SAW melakukan perpindahan kiblat dari Yerusalem ke Makkah (Kakbah) secara dramatis. Dikisahkan, saat itu Nabi Muhammad SAW sedang melakukan shalat zuhur (dalam sumber yang lain disebutkan shalat asar). Pada dua rakaat awal, kiblat diarahkan ke Yerusalem, tetapi pada dua rakaat berikutnya, diperintahkan untuk mengarah ke selatan (Makkah). Melihat perpindahan kiblat itu, banyak di antara pengikut Nabi yang mengalami kebimbangan dan bahkan ada yang menjadi murtad.

Setelah itu turunlah ayat-ayat polemis dari Alquran yang menyatakan bahwa kebajikan itu bukan karena menghadap ke barat atau ke timur, tetapi orang yang beriman kepada Tuhan, sabar, menepati janji, berbuat baik, dan sebagainya. Sedangkan Barat dan Timur adalah milik Tuhan, ke mana pun manusia menghadap, di sana ada Wajah Tuhan. Dan setiap umat mempunyai arah tersendiri ke mana akan menghadap. Oleh karena itu, hal tersebut janganlah dipersoalkan, yang penting adalah berlomba-lomba kepada kebajikan.

Dalam perspektif keagamaan orang-orang awam, fenomena simbolisme seperti itu menjadi hilang, tetapi akan tetap ada bagi orang-orang yang khawash (khusus).

Pemahamannya dapat diterangkan dengan ilustrasi berikut. Ada seorang ahli kesufian yang menyatakan, seandainya kita bisa naik ke atas, dan secara imajiner bisa melihat bumi, maka secara imajiner pula kita bisa melihat lingkaran-lingkaran yang bersumbu sama. Lingkaran-lingkaran itu tidak lain adalah orang yang shalat, dan sumbunya adalah Makkah (Kakbah). Terjadinya lingkaran-lingkaran yang bersumbu sama itu dimungkinkan karena setiap saat di dunia ini terdapat orang yang shalat lima waktu di berbagai tempat, akibat bentuk bola dunia yang bulat menghadap titik yang sama di Kakbah.

Peristiwa tersebut diibaratkan sebagai garis lurus jeruji sepeda yang berporos di as atau sumbunya. Jeruji sepeda apabila makin dekat dengan as atau sumbunya, maka jaraknya makin dekat, sebaliknya jika jaraknya makin jauh, maka jaraknya semakin renggang.

Hal itu seperti juga simbolisme dari keagamaan kita. Apabila kita makin dekat dengan esensi nilai-nilai keagamaan, maka sebenarnya mempunyai titik persamaan. Sedangkan apabila makin jauh dari esensi, maka perbedaan itu semakin lebar.

Oleh karena itu, kemudian timbul suatu istilah "the heart of the religion" dan "the religion of the heart." Istilah ini muncul karena kiblat manusia menurut berbagai literatur kesufian sebenarnya terletak pada hati, sebagai simbolisasi dari kerinduan kepada sentralitas atau kesadaran mengenai makna pusat, seperti halnya simbolisasi kiblat di Makkah (Kakbah).

Hati adalah pusat kedirian kita yang merupakan tempat bersemayamnya atau lokus dari rasa kesucian, sebagai kelanjutan perjanjian primordial manusia dengan Tuhan. Oleh karena itu, secara kefalsafahan, manusia lahir membawa dorongan yang sangat alamiah, yakni dorongan untuk kembali kepada Tuhan, sesuai dengan perjanjiannya terdahulu. Dorongan tersebut kemudian diwujudkan dengan dorongan untuk menyembah (berbakti) kepada Tuhan.

Bagaimanakah dengan bentuk dorongan yang lain? Setiap manusia yang lahir, memiliki naluri instinktif, seperti makan dan minum. Seorang bayi yang merasakan lapar dan haus, ia diajari oleh Tuhan untuk menyatakan nalurinya berupa makan dan minum dengan menangis melalui bimbingan bapak ibunya. Tetapi jika dorongan instinktif ini tidak dibimbing dengan benar, maka akan berubah menjadi malapetaka.

Bayangkan jika seorang bayi yang karena nalurinya tersebut berkehendak untuk makan tanpa dibimbing oleh ayah ibunya, ia akan makan apa saja yang terkena mulutnya atau terpegang tangannya.

Demikian halnya dengan dorongan untuk menyembah, semata-mata ditujukan untuk kebahagiaan manusia itu sendiri. Tidak ada kebahagiaan yang lebih tinggi kecuali kebahagiaan kembali kepada Tuhan yang dapat digambarkan melalui "fenomena pulang". Pulang adalah gejala psikologi, bukan gejala fisik. Orang yang pulang, akan merasakan kebahagiaan meskipun secara fisik rumahnya hanya sederhana saja, misalnya melalui ungkapan home sweet home, dan sebagainya. Dengan demikian, kebahagiaan itu adalah sikap kejiwaan (state of mind) yang tidak tergantung kepada masalah kebendaan.

Maka kalau manusia dibiarkan untuk menyembah apa saja, maka dorongan tersebut akan berubah menjadi malapetaka yang luar biasa dahsyatnya, seperti terjadinya tiranisme pemujaan kepada manusia. Itu sebabnya, agama mengajarkan bebaskan diri manusia dari kepercayaan-kepercayaan palsu, baru setelah itu percaya kepada Tuhan yang sebenarnya: La ilaaha illa Allah (Tidak ada tuhan, kecuali Allah).

Ajaran ini muncul bukan karena manusia tidak percaya kepada Tuhan, tetapi justru karena terlalu banyak percaya kepada "tuhan" -artinya "tuhannya" manusia itu terlalu banyak. Dari sinilah kemudian agama muncul, dan karena agama menyangkut realitas tinggi tadi, maka itu dinyatakan dalam bentuk simbol-simbol.

Esensi yang dapat ditangkap, atau apa yang mau dikatakan dengan melalui simbol-simbol keagamaan itu adalah suatu kesadaran agar manusia kembali kepada dirinya. Atas dasar itulah, setiap potong firman Tuhan disebut ayat (artinya tanda-tanda [dari Tuhan] atau the sign of God. Semua makhluk ciptaan Tuhan adalah ayat-ayat Tuhan, baik manusia, binatang (bahkan sampai yang sekecil-kecilnya), maupun alam semesta. Mengapa demikian? Karena meskipun manusia telah dikumpulkan untuk membuat makhluk ciptaan Tuhan yang berbentuk sangat kecil sekalipun, manusia tidak akan mampu melakukannya. (29)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA