logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 20 September 2003 Berita Utama  
Line

PEMILU 2004

Pernyataan Budyatna Dinilai Politis

  • "SBY Tidak Terburu-buru"

SEMARANG- Pernyataan pengamat politik dari Universitas Indonesia Prof Dr Budyatna bahwa Susilo Bambang Yudhoyono sebaiknya tidak mencalonkan diri sebagai presiden dari Partai Demokrat, dinilai Ketua DPD Partai Demokrat Jateng Subyakto SH MH bertendensi politis.

Menurut Subyakto dalam siaran persnya kemarin, pernyataan itu terlalu prematur karena tanpa mengkaji dan menganalisis kondisi partainya. Bila dicermati, lanjutnya, pernyataan pengamat politik tersebut bertendensi politis dan bisa dianggap sebagai pesanan partai politik lain.

''Partai politik lain itu ingin melakukan penggembosan terhadap partai kami,'' katanya.

SBY, tambahnya, dua tahun lalu mendirikan Partai Demokrat serta melakukan pembinaan di partainya. ''Pernyataan bahwa SBY terburu-buru adalah sangat mengada-ada. Setidaknya, SBY telah mempersiapkan kendaraan politiknya.''

Budyatna menyatakan bahwa hasil penelitian menyatakan Partai Demokrat merupakan partai alternatif rangking pertama. ''Maka, kami mempertanyakan data, metode, dan analisis apa yang digunakan pengamat itu sehingga mengambil kesimpulan yang naif, prematur, dan tendensius,'' ungkap Subyakto.

Subyakto memberi contoh bahwa fakta menunjukkan verifikasi yang dilakukan Depkeh dan HAM. Partainya secara kuantitatif menduduki rangking pertama berkaitan dengan jumlah DPD, DPC, dan DPAC yang didaftarkan.

Pernyataan bahwa Partai Demokrat belum tentu lolos sebagai peserta pemilu juga dinilai mengada-ada. Karena anggota Partai Demokrat yang mengantongi KTA di masing-masing kabupaten/kota jauh melebihi dari kuota yang ditetapkan KPU.

Untuk Kota Semarang sebagai tolok ukur Jateng, kader yang berhasil direkrut mencapai 250 ribuan yang berarti lebih 10% dari jumlah pemilih. Sementara itu, Ketua DPC Purbalingga Sobirin SAg menyesalkan pernyataan Budyatna saat di Purbalingga. ''Pernyataannya itu merupakan upaya politik untuk membatasi langkah dan menakut-nakuti SBY dan keluarganya sehingga akhirnya dapat dikunci dan disingkirkan dengan cara-cara politik yang halus.''

Dikatakan, sebagai tokoh akademisi, tidak selayaknya Budyatna memberi komentar yang melemahkan laju demokrasi. Apalagi, lanjutnya, komentar tersebut belum didasari analisis yang kuat tentang seberapa besar dukungan masyarakat Purbalingga terhadap lahirnya partainya. ''Meskipun tergolong baru, partai kami mampu menempati hati rakyat.'' (G1,F10-78,13)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA