
| Sabtu, 20 September 2003 | Berita Utama |
PEMILU 2004Yakini Masih Ada Nurani
SEMARANG-Salah satu tokoh Partai Golkar yang cukup vokal, Marwah Daud Ibrahim PhD, mengaku optimistis dalam menjalani proses pemilihan calon presiden dari partainya. Bahkan ia meyakini kader-kader partainya akan memilih calon terbaik sesuai dengan hati nuraninya. Dia mengatakan hal itu seusai acara sosialisasi pemilihan calon presiden Partai Golkar di gedung Sasana Widya Praja Srondol, Semarang, Jumat (19/9). ''Saya optimistis masih ada nurani untuk memutuskan siapa yang bisa dan pantas menjadi calon presiden.'' Dia memandang forum konvensi untuk mengindikasikan kebangkitan perempuan. Lebih lanjut dikatakan ibu dari tiga anak ini, hal ini bisa untuk mengoptimalkan visi untuk mendesakkan suara perempuan. ''Nurani di sini juga terutama kesempatan bagi perempuan dan bagaimana bisa menyuarakan perempuan, untuk kesejahteraan mereka.'' Perempuan asal Sulawesi Selatan ini menyatakan cukup optimistis dengan proses menuju tahap selanjutnya. Ia mengaku mendapat dukungan dari kader beberapa daerah seperti Jabar, Jateng, Aceh, dan Papua, selain dari daerah Sulawesi Selatan sendiri. Hadir dalam acara tersebut, pada sesi pertama yakni Theo L Sambuaga, Surya Paloh, Ny Lasikin Murpratomo, Rifai Siata. Adapun pada sesi kedua hadir Prof Dr Muladi SH, Drs Rivai, dan Setiawan Djody. Dalam visi misinya, Theo menjabarkan janjinya dalam visi horison Indonesia baru. Janji itu antara lain penyelenggaraan good governance dengan pengembangan demokrasi, civil society, dan otonomi daerah. Ia pun berjanji menegakkan supremasi hukum dan hak asasi manusia. Bagikan VCD Sementara itu, Djody tampil dengan kemeja abu-abu senada dengan celananya membagikan visi dan misi yang dikemas dalam buku setebal 194 halaman dan pidato politik. Tak hanya itu, ia pun membagikan VCD berisi profil dirinya. Dalam visinya terdapat 9 hal yang menjadi perhatiannya (Sembilan Amanat Rakyat/Semarak). Ke-9 hal ini menyangkut masalah pendidikan (etika dan budi pekerti), ekonomi (pembangunan berkelanjutan dengan visi kesejahteraan), politik (masyarakat sipil yang bebas terbuka), sosial budaya (emansipasi individu yang bermartabat), lingkungan hidup, perempuan, buruh (aset nasional), tanah (kepemilikan dan hak ulayat), dan kerja sama dunia untuk penguatan negara miskin. (H6-13) |