
| Sabtu, 20 September 2003 | Berita Utama |
25 Pabrik Rokok Diketahui Fiktif
KENDAL - Ironis memang. Kendal yang gudang tembakau dan menjadi pemasok utama kebutuhan bahan baku pabrik rokok di berbagai daerah, justru tak memiliki industri bidang tersebut. Itulah yang mengherankan Bupati H Hendy Boedoro SH MSi. Lebih heran lagi, karena sebetulnya dia bukan sekali dua kali menandatangani izin operasional pabrik rokok. Dalam catatannya, ada 25 izin pabrik rokok yang dia tanda tangani. Lalu bagaimana kondisi sebenarnya pabrik-pabrik tersebut? Itulah pertanyaan yang senantiasa menggodanya. "Ternyata pabrik-pabrik itu fiktif belaka. Ndak ada apa-apanya," jelas dia kepada wartawan. Bekas pengacara itu dikenal tidak suka merokok. Sebagai bupati, dia paling tidak suka jika ada pegawainya merokok di ruang atau pada saat kerja. Karena itu, sulit dipercaya ketika ternyata dia menelusuri sendiri izin pabrik rokok yang dikeluarkannya. Dia mendatangi satu per satu alamat si pemohon izin. Tentu saja dengan cara menyamar. "Orang kan tidak tahu yang datang bupati. Karena itu, mereka (para pemilik izin- Red) bicara apa adanya dan menjawab semua pertanyaan saya," ungkapnya. Jual Cukai Hasilnya membuat dia tercengang. Selain pabrik rokok itu ternyata fiktif, dia mengetahui ternyata izin itu hanya digunakan oleh pemiliknya untuk membeli label cukai yang kemudian dijual kepada pabrik rokok sebenarnya. "Hanya dengan begitu mereka (para pemegang izin-Red) sudah mendapatkan keuntungan. Ada yang setiap kali jual bisa untung Rp 6 juta." Kenyataan itu yang mendorongnya mendirikan BUMD yang bergerak dalam pembelian tembakau rakyat dan sekaligus mengelola industri rokok. Niat awalnya, mengangkat nasib petani tembakau yang selama ini selalu dipermainkan oleh tengkulak. BUMD itulah nantinya yang akan membeli tembakau petani, kemudian menjualnya kepada pabrik rokok. Rokok itu nantinya hanya dipasarkan secara lokal. Dengan industri itu, Bupati berharap, posisi keuangan Pemkab menjadi kuat. Hasilnya, akan dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk pembangunan. Dia ingin menerapkan pola negara Cina, yang mengharuskan rakyat membeli sepeda produk dalam negeri. "Kalau Cina menjadi kuat, ya karena begitu," tegasnya. (C23-13j) |