logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 20 September 2003 Semarang & Sekitarnya  
Line

Dyah Sari Marhaeny

Anggota KPU Termuda, Dianggap Siswi SMU

DARI Lima anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Salatiga, hanya Dyah Sari Marhaeny (24) yang masih lajang. Empat lainnya, sudah berkeluarga. Bahkan, ketuanya Drs Tamam Qaulany, malahan sudah bercucu.

Justru, ketika sedang berada di tengah-tengah komunitas yang baru itu, dianggapnya sebagai berada dalam lingkungan keluarganya sendiri. Mereka semua bagai kakak, orang tua, bahkaneyangnya.

Sebagai satu komunitas, kelima anggota KPU itu telah sepakat menjalin hubungan kerja sama yang cukup harmonis dengan tujuan menyukseskan Pemilu 2004 di Kota Salatiga.

Dalam kesehariannya, perempuan manis berjilbab ini selalu tampil ceria. Tak heran jika dirinya sempat dianggap sebagai siswi SMU yang sedang menunggui bapaknya mengikuti rapat kerja (raker) di Yogyakarta.

Ceritanya, beberapa saat setelah terpilih sebagai anggota KPU, dia yang tinggal di Jalan Veteran 65 Salatiga itu mengikuti raker di Yogyakarta. Pada saat dirinya mau mengisi daftar peserta, seorang panitia bertanya, ''Peserta juga ya, Dik? Saya kira ikut bapaknya sedang rapat! Saya kira Adik ini baru lulus SMU,'' cerita Sari sambil tersenyum.

Namun, ''pelecehan'' seperti itu dianggapnya sebagai suatu tantangan tersendiri. ''Ini merupakan tantangan buat saya untuk berusaha maksimal menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai anggota KPU dalam rangka menyukseskan Pemilu 2004 .'' Sebelum mengikuti proses seleksi KPU, putri pasangan Budi Prasetyo SPd (kepala SKB Ngebul Salatiga) dan Ny Tri Murtiningsih itu, sudah mengetahui bahwa tugas-tugas KPU cukup berat.

Antara lain, karena sistem Pemilu 2004 yang berbeda dengan pemilu sebelumnya. Kemudian, parpolnya pun makin banyak.

''Sebelum mendaftar, saya sebenarnya sudah tahu bahwa tugas menyukseskan pemilu merupakan pekerjaan berat. Bukan main-main. Makanya, ketika nama saya masuk menjadi anggota KPU, saya tidak syukuran dengan buat pesta. Ini justru ujian dari Tuhan buat saya. Saya harus banyak belajar, mengingat saya yang paling muda di KPU Salatiga,'' aku Sari yang dilahirkan di Pontianak 15 Juli itu.

Memang, dia mengaku tidak punya pengalaman. Satu-satunya yang bisa menjadi bekal adalah saat berpartisipasi menjadi pemantau pemilu.

Justru, dengan bekal yang cukup minim itu, dijadikannya tantangan tersendiri untuk bertindak secara profesional, adil, independen, menjaga amanah undang-undang dan masyarakat.

Yang lebih penting lagi, keberadaannya dalam KPU antara lain untuk memperjuangkan keterwakilan 30 persen perempuan (Dwi Pamuji Sulistyanto-73)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA