logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 20 September 2003 Ekonomi  
Line

Home Industry Kacang Atom di Rembang (1)

Pertahankan Rasa Produk dengan Resep Lama

Home industry pembuatan kacang atom di Rembang bisa dihitung jari, yaitu hanya dua, kacang atom merek Beringin dan Anggrek. Keduanya berlokasi di Kelurahan Tasikagung Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang. Meski hanya memproduksi kacang atom berskala kecil, mereka berani bersaing dengan produsen kacang atom besar. Mengapa? Ternyata rasa kacang atom ''rumahan'' itu memang lebih gurih. Tak heran jika digemari masyarakat dan laris manis. Apa rahasianya? ''Persaingan dagang kami rasakan semakin ketat. Karena itu kami lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas. Rasa kacang atom yang kami produksi menjadi perhatian utama,'' kata Agus Tiyono (46), salah satu penerus usaha pembuatan kacang atom merek Beringin. Kacang atom Beringin itu dirintis ayahnya, sedangkan Agus mulai mengambil alih pada 1995 ketika ayahnya meninggal.

Hingga sekarang, mereka mempertahankan resep-resep lama untuk mengolah kacang atom walaupun sudah menggunakan peralatan modern.

"Meski harga bawang, kacang, dan tepung naik turun, resep pembuatan kacang atom kami tetap, sesuai dengan takaran yang telah ditentukan," imbuh Ritnawati (40), istri Agus.

Adapun bagi Endang Susanti (55), putri Tejo Purwanto pemilik kacang atom merek Anggrek, selain menjaga kualitas agar dapat bersaing dengan produsen besar, ia juga melakukan perang harga. Meski harganya lebih murah dari kacang atom buatan pabrik besar, soal rasa dan mutu tidak kalah jauh. Bahkan, menurutnya, ada sebagian orang yang menganggap rasa kacang atom buatan home industry lebih enak daripada buatan pabrik besar.

"Dengan produksi terbatas, otomatis perputaran barang kan lebih cepat. Hal itu membuat kacang atom buatan home industry selalu baru. Jadi, rasanya masih enak dan harum. Kualitasnya pun akan terjamin terus," katanya.

Harus Kering

Untuk mempertahankan kualitas dan cita rasa kacang atom buatannya, baik Endang maupun Agus sangat selektif dalam memilih bahan baku. Pemilihan kualitas kacang pun ada standardisasinya. Mereka tidak mau menerima kacang dari penduduk kampung yang baru saja panen. Kacang-kacang tersebut harus sudah diolah sehingga kekeringannya pun bisa dijamin. Pada umumnya, mereka lebih banyak memesan kacang dari Tuban karena kualitasnya lebih bagus.

"Jika kacang tidak benar-benar kering, hasilnya pun akan sangat jelek," ungkap Endang.

Untuk mendapatkan kacang, memang tidak mudah. Mereka harus pesan lebih dulu ke pabrik, minimal dua hari sebelumnya. Jika beruntung, mereka bisa langsung mengambilnya. Namun, jika stok pabrik kosong karena tidak ada panen dari petani, mereka harus gigit jari. Dan, mereka dipaksakan untuk tidak membuat kacang atom. Sebab, mereka tidak mau menerima kacang yang kualitasnya kurang baik. Hal itu dilakukan untuk menjaga mutu dan kualitas.

"Jika tidak ada kacang dari pabrik, kami memilih tidak produksi. Itu lebih baik daripada kualitas kacang atom kami jatuh," tutur Agus.

Tidak hanya kualitas kacang yang diperhatikan, tapi juga minyak, tepung, dan bawangnya. Minyak goreng yang super diambil dari Surabaya. Hal itu untuk membuat kacang atom mereka awet hingga tiga bulan. Adapun tepung dipilih yang benar-benar putih dan baik. Pemilihan bawang sebagai pengharum pun tidak sembarangan.

"Tidak ada bahan pengawet. Semua bahan baku dipilih yang berkualitas dari pabrik," aku Endang.

Mesin Molen

Menurut Agus, rata-rata ia bisa memproduksi sekitar 400 kg kacang atom per hari, dibantu 10 pekerja. Karena itu, seminggu sekali ia biasa memesan kacang sebanyak 1,5 ton. Jumlah produksi tersebut dianggap wajar. Sebab, kini ia sudah menggunakan peralatan modern pembuatan kacang atom, yakni mesin molen. Sebelumnya, pembuatan kacang atom masih sangat tradisional, yaitu menggunakan ayakan. Tentu saja, produksinya jauh lebih kecil daripada sekarang. Selain itu juga kurang efisien karena dibutuhkan waktu lama. Dengan mesin molen ini, kacang yang digiling dan diberi adonan tepung bisa menjadi kacang atom hanya dalam waktu lima menit.

"Alat pembuat kacang atom sekarang sudah memakai mesin molen. Itu cukup efektif dan efisien," ungkap Agus yang berputra dua, Evelin Yunita (19) dan Edwin P (11).

Lingkup pemasaran produksi kacang atom tersebut juga sangat kecil. Mereka hanya memasarkan produksinya di daerah Rembang, Pati, dan Blora. Meski demikian, keinginan untuk memperluas daerah pemasaran tetap ada. Namun, keterbatasan dana menjadi penghambat utama mereka dalam peningkatan produksi.

"Untuk pemasarannya, kami tidak memakai sales. Para pembeli langsung datang ke rumah mengambil barang atau memesan. Namun, tahun ini kami akan mencoba memasarkan ke Bandung," terang Endang.

Akhir-akhir ini pasaran kacang atom di Rembang sangat sepi. Hal itu tidak lepas dari kondisi perekonomian masyarakat Rembang yang menurun akibat dampak kekeringan. Para petani mengalami gagal panen karena sawahnya kering. Adapun perolehan ikan nelayan juga sedikit karena angin dan ombak sangat besar. Hal itu membuat penghasilan mereka sangat berkurang. Hai-hal Itu yang dianggap memengaruhi daya beli masyarakat. (Budi Winarto-82i)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA