
| Selasa, 16 September 2003 | Sala |
Warga yang Digusur Keluhkan Pasokan ListrikPANULARAN - Sejumlah warga yang kini tinggal di bedeng-bedeng sementara RT 5 RW 3 Kelurahan Panularan, Kecamatan Laweyan, mengeluh soal kekurangan pasokan listrik. Itu terjadi setelah mereka meninggalkan hunian lantaran terkena proyek pembangunan rumah susun dan membangun hunian sementara di tanah hak pakai (HP) nomor 11 pemerintah Kota. "Dulu, sebelum pindah kemari, kami dijanjikan diberi dan listrik. Namun sampai sekarang kami terpaksa menggunakan listrik dari satu pos gardu terdekat dengan kapasitas sangat terbatas," kata Ketua Paguyuban Penghuni Warga Bekas Makam Begalon, Joni Armansyah, Senin (15/9) kemarin. Dia menuturkan setiap hari warga menggunakan pasokan listrik dari pos yang berkapasitas sekitar 1.300 Watt itu. Padahal , ada sekitar 30 keluarga membangun bedeng di tamah tersebut. Semua mengandalkan listrik dari tempat itu. Akibatnya, setiap keluarga hanya bisa menyalakan satu lampu setiap malam. Jika daya yang mereka gunakan melebihi otomatis listrik padam. Dalam semalam, imbuh dia, listrik bisa padam 15-16 kali karena kelebihan beban. Peralatan elektronik seperti televisi atau radio tak mungkin dihidupkan. Semua warga dijanjikan disambungkan listrik secara terpisah dengan daya 3.500 Watt. "Kalau ada satu keluarga menyalakan lampu lebih dari satu buah langsung njegleg. Semalam bisa terjadi 15-16 kali," tutur warga lain, Wulan. Pemerintah Kota akan membangun rumah susun di Kampung Begalon senilai Rp 6,55 miliar yang didanai Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. Ke-55 warga yang menempati tanah bakal rumah susun milik pemerintah itu sementara diminta meninggalkan hunian mereka. Setelah rumah susun jadi, merekalah yang menempati. Setiap keluarga mendapat uang bantuan pindah Rp 5,9 juta, tanpa dibangunkan hunian sementara. Sekitar 30 keluarga membangun di tanah hak pakai nomor 11, sedangkan yang lain mengontrak di tempat lain. Direncanakan, pembangunan mulai awal September dan lokasi harus dikosongkan akhir Agustus. Joni dan beberapa warga sudah mengadukan kekurangan listrik ke pemerintah. Mereka memperoleh jawaban sudah diusahakan, namun tergantung pada PT PLN yang menyambung. Warga kesulitan menghubungi kontraktor. Akhirnya, sekarang mereka terpaksa hanya bisa menggunakan lampu rata-rata 10 Watt. "Kalau hanya tidak menyalakan televisi atau radio tak terlalu masalah. Kami cuma prihatin, listrik tiba-tiba mati saat anak-anak belajar. Lampu pun tidak cukup terang," kata Wulan. (G18-17g) |