logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 16 September 2003 Sala  
Line

Holopis Kuntul Baris, Usreke Bakul Ora Uwis-uwis

KISAH pasar induk Wonogiri Kota sepertinya tak kunjung tamat, meski pasar baru sebagai pengganti pasar lama yang terbakar sekitar 14 bulan yang lampau, kini berdiri megah dan para pedagang di pasar darurat diinstruksikan segera pindah ke pasar baru.

Namun yang terjadi justru sebaliknya, para pedagang oprokan dan pedagang kaki lima serta bakul masih enggan pindah. Bahkan mereka mempermasalahkan soal pembagian tempat jualan yang dinilainya tidak adil. Apa mau dikata, itu ibarat holopis kuntul baris, usreke bakul ora uwis-uwis (pedagang selalu saja begolak-Red).

Betapa tidak. Ketika pasar baru selesai dibangun, dan Bupati menginstruksikan untuk segera ditempati, ternyata itu masih saja ditanggapi secara kontroversial oleh para pedagang.

Tidak semua pedagang memberikan respons positif segera masuk ke pasar baru. Ada saja alasan yang mereka buat, sehingga oleh petugas hal itu dipahami sebagai sikap rewel (sulit diatur-Red).

Sebagaimana pernah diberitakan harian ini beberapa hari lalu, Bupati H Begug Poernomosidi SH memberikan ultimatum proses pemindahan bakul dengan deadline 15 September 2003.

Namun sampai batas waktu yang ditentukan, ternyata belum sepenuhnya ditanggapi para bakul. Baru sebagian kecil bakul yang peduli segera memindahkan dagangannya ke lokasi pasar baru berlantai tiga.

''Mana mungkin kami dapat pindah ke pasar baru, kalau pada kenyataan los pasar masih terbuka seperti itu. Padahal kami perlu menyimpan dagangan, dan itu perlu dibuatkan sekat-sekat pengaman lebih dulu,'' kata para bakul grambatan (penjual dagangan kebutuhan sehari-hari).

Argumentasi yang sama, juga dikedepankan para bakul kelontong. ''Kalau kenyataannya sampai batas waktu yang ditentukan kami belum pindah, bukan maksud kami mengabaikan instruksi Bupati. Sebab untuk pindah kami juga perlu waktu pembenahan tempat lebih dulu,'' kata para pedagang kelontong yang menempati lantai dua.

Nardi dan beberapa pedagang kain serta bakul pakaian jadi, berupaya mematuhi tepat waktu untuk pindah ke pasar baru. Terbukti, Senin (15/9), dia berkemas memindahkan dagangannya ke lokasi pasar baru.

Demikian pula dengan beberapa pedagang sayur. Namun apa yang kemudian terjadi? ''Di tempat baru belum kedatangan pembeli, seharian berjualan tak ada yang membeli,'' keluh Ny Sayem penjual sayur.

Keluhan dia juga dialami oleh beberapa bakul kain dan konveksi. Mereka menyatakan kios darurat yang menjadi tempat jualan lama, keburu dijarah orang. Penjarah tak memedulikan di dalam kios masih tersimpan dagangan atau tidak.

''Ini memang menjadi kenyataan yang ironis. Mestinya Pemkab segera tanggap untuk mengamankan dan menyelamatkan aset bangunan kios dan los darurat dari penjarah yang tak bertanggung jawab,'' kata anggota DPRD Wonogiri Subandi Pr SPd.

Bentuk Posko Pasar

Anggota Dewan yang juga bakul komoditas barang-barang elektronik itu menyatakan, mestinya Pemkab membentuk posko pasar, demi mengantisipasi hal-hal negatif yang tidak diinginkan bersama.

''Seperti untuk mengantisipasi penjarahan seperti ini misalnya. Namun usul saya untuk segera membentuk posko pasar, sejak dulu ternyata tidak pernah dihiraukan. Hanya dianggap angin lalu. Celakanya, sekarang pasar darurat ramai-ramai dijarah. Mestinya kasus penjarahan seperti ini tidak perlu terjadi kalau sejak dini diantisipasi dengan mendirikan posko keamanan pasar misalnya,'' ucap Subandi. (Bambang Pur-14s)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA