logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 16 September 2003 Berita Utama  
Line

Lopez, antara Kepahlawanan dan Kontrak Rp 500 Juta

Nelson Leon Sanchez dan Julio Lopez

AKHIRNYA PSIS terhindar dari zona play off. Dalam pencapaian hasil itu, peran Julio Lopez tak bisa dibilang kecil. Selama musim ini, pemain asal Cile itu mencetak 16 gol. Dia juga menjadi pahlawan kemenangan atas Persib Bandung di Stadion Jatidiri, Minggu lalu. Sebab, satu-satunya gol yang tercipta merupakan hasil dari keakuratannya dalam melepaskan tendangan bebas.

Kubu Lopez agaknya juga sadar akan tingginya posisi tawar mereka. Muncul berita, mereka mematok harga yang tidak tanggung-tanggung, Rp 500 juta untuk perpanjangan kontrak setahun.

Agennya, Nelson Leon Sanchez dikabarkan menawarkan kepada pihak manajemen nilai kontrak Rp 500 juta/setahun dengan gaji Rp 25 juta per bulan.

Jelas tawaran itu terhitung luar biasa, karena naik tiga kali lipat dari sebelumnya. Ketika direkrut dari Persela Lamongan, harga kontraknya ''hanya'' Rp 150 juta/tahun dengan gaji Rp 15 juta/ bulan.

''Kenaikan tersebut kami anggap gila-gilaan,'' tutur sebuah sumber yang layak dipercaya.

Kepada sumber ini, Sanchez juga berceritera, Persija Jakarta Pusat dan PSM Makassar sudah sepakat dengan harga tersebut.

Ketika Sanchez menyaksikan latihan PSIS, Sabtu lalu, dia tidak mau secara detail menjelaskan penawarannya kepada kubu Mahesa Jenar. ''Kalau kami naikkan, itu sudah pasti. Mengenai jumlahnya, Anda tidak perlu tahu. Yang jelas, prioritas utama untuk PSIS. Kalau gagal, baru kami tawarkan kepada PSM dan Persija,'' tuturnya.

Mantan pemain Persma Manado dan PSMS Medan itu menolak penilaian bahwa prestasi pemainnya itu menurun dalam putaran kedua. Selama putaran kedua, Lopez baru mencetak tiga gol, kalah banyak dari gol yang dijaringkan Diallo Abdoelaye Djibril. Pemain asing asal Guinea itu mampu menjebol gawang lawan enam kali.

''Harus diingat, sepakbola adalah permainan kolektif. Kalau prestasi tim menurun, kepercayaan diri Lopez pun ikut menurun,'' tandasnya sambil mengaku di Indonesia dia mengageni 35 pemain asing.

Kecemburuan

Pada musim depan, Ketua Umum yang juga Wali Kota Semarang Sukawi Sutarip SH SE telah merencanakan mengalokasikan dana Rp 8 miliar. Dari jumlah itu, yang terbesar tentu untuk mengontrak dan menggaji pemain.

Bila tawaran Lopez disetujui, tentu pemain-pemain lain juga akan ramai-ramai menaikkan harga. Jika begitu, bisa jadi dana yang disiapkan harus ditambah.

Kalau tawaran dari pemain-pemain lain tidak dituruti, tentu akan memunculkan kecemburuan, seperti ketika gaji Lopez dinaikkan dari Rp 15 juta menjadi Rp 17,5 juta. Gaji pemain bernomor punggung sepuluh itu dinaikkan, karena ketika itu pamornya sedang menanjak.

Manajer Tim Yoyok Sukawi tidak bisa mengelak ketika dimintai konfimasi mengenai tawaran harga yang fantastis tersebut, sekalipun pada awalnya dia terkejut. ''Anda kok tahu? Berita dari mana itu?'' ujarnya.

Kendati jumlah sebesar itu dinilai gila-gilaan, pihak manajemen akan mencoba menawarnya, mengingat apa yang disampaikan oleh Sanchez baru penawaran.

''Saya sudah mendengar Lopez diminati Persija dan PSM. Mengenai harganya kami belum tahu. Kalau kontraknya Rp 250 juta dengan gaji Rp 20 juta, masih bisa kami pertimbangkan,'' katanya.

Dianggap terlalu dini kalau penawaran itu segera direspons. Sebab, setelah lolos dari jerat degradasi, tim akan diistirahat untuk sementara. ''Kalau harganya sama dengan yang lain, saya kira Lopez masih betah di Semarang. Harga sebesar itu belum kami tawar,'' tandasnya

Dipertahankan atau tidaknya Lopez bergantung pada pelatih mendatang. Belakangan muncul dua nama selain Daniel Roekito, yakni pelatih Deltras Suharno dan mantan pelatih Persita Benny Dollo.

Ketika masih memperkuat Persela, memang nama Lopez belum banyak dikenal orang, karena selama Kompetisi Divisi I dia hanya menyumbangkan dua gol. Pamornya melejit setelah direkrut sejak awal kompetisi Liga Indonesia oleh PSIS, Agustus tahun lalu.

Ketika kali pertama PSIS tampil di Stadion Jatidiri, sepulang dari pertandingan tandang dari Gresik dan Banjarmasin, Lopez membuat gol tunggal yang membuahkan kemenangan atas Persik Kediri. Gol yang dibuatnya dari tendangan bebas itu membuat Stadion Jaidiri yang disesaki 22.000 penonton gegap gempita.

Tendangan Melengkung

Dalam sudut tembak yang begitu sempit dan lapangan yang licin akibat diguyur hujan sebelumnya, pemain bertubuh gempal mirip Maradona itu berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Tendangan yang dilepaskan dari jarak 25 meter itu melengkung dan akhirnya melesat ke pojok kanan gawang. Sorak sorai ribuan penonton pun seolah-olah menggetarkan stadion, menyambut gol kelas dunia tersebut.

Sejak itu pula nama Lopez dielu-elukan penonton. Keperkasaannya semakin menjadi-jadi. Gol demi gol berhasil dia ciptakan.

Tercatat hingga akhir putaran pertama, dia menyumbangkan 13 dari 23 gol yang dihasilkan timnya. Nama Lopez terus diidolakan. Malah, akhirnya muncul istilah Lopez sentris untuk menggambarkan perannya yang vital dalam tim. Kostum bernomor punggung 10 dengan gambar Lopez pun laris terjual.

Namun, seiring dengan itu Lopez juga mulai bikin ulah. Dia mendesak supaya manajemen menaikkan gajinya. Dia mencontohkan rekannya, Oscar Aravena di PSM, yang kini menjadi top scorer KLI IX dengan 31 gol. Oscar saat itu meminta kenaikan gaji. Akhirnya gajinya dinaikkan PSM, dari Rp 15 juta menjadi Rp 20 juta. Permintaan Lopez pun dituruti, dari Rp 15 juta menjadi Rp 17,5 juta.

Sebenarnya, kalau dihitung secara ''dagang'', PSIS rugi. Setelah gajinya dinaikkan, Oscar bisa mengangkat timnya menjadi runner up KLI IX. Namun, setelah gaji Lopez dinaikkan, timnya malah nyaris masuk zona play off. (Mundaru Karya-22e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA