logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 16 September 2003 Berita Utama  
Line

Akhir Pelarian Gunawan (1)

Sempat ke Pesantren Milik Anton Medan

Gunawan Santosa

MANUSIA kalau sudah dirasuki dendam, biasanya akan berurusan dengan aparat kepolisian. Dendam itu biasanya berakhir dengan tindak pidana. Caranya, bisa dengan melukai lawannya, menyakiti, atau bahkan tidak segan-segan membunuh.

Gunawan Santosa (40) tergolong yang memilih alternatif membunuh lawannya. Namanya belakangan melejit ke permukaan, karena berbagai aksi kejahatan yang melibatkannya. Terakhir kasus pembunuhan terhadap Dirut PT Asaba, Boedyharto Angsono, yang juga merupakan mantan mertuanya, dan pengawalnya, Serda Edy Siyep.

Peristiwa itu terjadi pada Sabtu 19 Juli 2003. Kedua korban ditembak beruntun di halaman parkir Gedung Sasana Krida, Gelanggang Olahraga Pluit, Jakarta Utara. Sebelumnya, penembak merobohkan Edy Siyep, anggota Satuan Penanggulangan Teroris Komando Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat.

Akibat aksi kejahatannya menembak mati Boedyharto beserta pengawalnya itu, sejak beberapa bulan lalu polisi langsung melakukan pengejaran. Karena dari sejumlah saksi, tersangka lain, dan sejumlah barang bukti, Gunawan adalah otak pembunuhan yang direncanakannya sejak beberapa tahun lalu.

Sebenarnya Gunawan bisa saja diciduk langsung aparat kepolisian, kalau dia masih mendekam di LP Kuningan, Jawa Barat, karena kasus penggelapan uang. Namun baru saja dia menjalani hukuman beberapa bulan, dengan akal bulusnya dia bisa melarikan diri dari LP Kuningan. Dan dipastikan dia punya dendam kesumat dengan mantan mertuanya, sehingga terjadi pembunuhan yang menewaskan dua korban.

Hari demi hari, polisi melakukan pengejaran di berbagai tempat. Hasilnya diperoleh informasi, Gunawan akan menyerahkan diri kepada aparat kepolisian di sekitar kawasan Sukabumi, Jawa Barat. Rencana penyerahan diri Gunawan Santosa itu akan dilakukan pada Rabu (23/7) malam di Sukabumi. ''Tetapi saat anggota ke sana, dia tidak ada,'' jelas aparat kepolisian dari Mapolda Metro Jaya.

Pernah ke Pesantren

Menurut keterangan yang dihimpun di kepolisian, buronnya Gunawan dari LP Kuningan terjadi pada 15 Januari lalu. Modus pelariannya dengan menjebol atap ruang tahanan. Sejak dia buron, polisi kehilangan jejak. Padahal, yang bertanggung jawab menjaga Gunawan di LP adalah aparat Kalapas Kuningan dan jajarannya, tapi polisi yang dibuat sibuk mencari lagi.

Menurut mantan napi yang juga pemilik sebuah pesantren, Anton Medan, dia sempat bertemu dengan Gunawan sekitar 5 bulan lalu, setelah yang bersangkutan melarikan diri dari tahanan. Saat itu Gunawan datang ke pondok pesantrennya di Cibinong dua kali. Tapi hanya sekali Anton bertemu Gunawan. Ketika itu, Gunawan disuruhnya pulang, karena tidak memiliki bukti surat bebas dari tahanan.

Saat dikonfirmasi mengenai batalnya penyerahan diri Gunawan, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya tidak bersedia berkomentar. ''Anda tahu informasi itu dari mana. Saya tidak tahu. Kalau dapat informasinya dari luar, kok kenapa harus tanya saya,'' tuturnya saat itu.

Sementara itu, Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia (Menkeh HAM) Yusril Ihza Mahendra ketika ditanya wartawan mengenai pelarian diri Gunawan, mengaku belum mengetahui informasi tersebut.

''Saya baru terima informasi ini dari wartawan,'' katanya usai acara di Mabes Polri, Kamis (24/7).

Yusril menegaskan, apabila dalam proses kaburnya Gunawan dari LP Kuningan itu karena ada unsur KKN, pihaknya akan memberikan sanksi tegas. Namun dia tidak bersedia menjelaskan sanksi tegas seperti apa yang akan diberikan.

''Yang pasti kalau memang terbukti dia (Gunawan-red) melarikan diri karena ada KKN, maka saya akan berikan sanksi. Tapi saya akan cek dulu ke Kalapas di sana,'' tuturnya.

Ancaman Serius

Melihat gelagat Gunawan yang penuh dendam dan bisa menjadi ancaman serius aparat kepolisian dalam menanggulangi kejahatan, maka sejak peristiwa pembunuhan itu polisi melancarkan perburuan. Terakhir polisi menurunkan lima tim sekaligus.

''Soalnya, Gunawan merupakan ancaman serius. Sebelum pembunuhan atas Boedyharto Angsono pada 6 Juni, Direktur Keuangan PT Asaba Paulus Tedjakusuma ditembak orang tak dikenal di Jalan Angkasa, Kemayoran, Jakarta Pusat. Untunglah, tak sampai tewas,'' ungkap seorang petugas.

Sehari kemudian, kata dia lagi, seorang yang mengaku keponakan Boedyharto mengirim faksimile ke markas PT Asaba. Isinya: ''Boedyharto dan Stephen, putra nomor tiga Boedyharto, hendaknya berhati-hati.''

Catatan hitam Gunawan Santosa dimulai dari perselisihannya dengan mertua, Boedyharto Angsono. Setelah menikahi Alice Angsono, anak nomor dua Boedyharto, pada 5 Januari 1991, Gunawan 'dihadiahi' saham di lima anak perusahaan Asaba dan dipercaya mengelola sejumlah perusahaan.

Namun dia bukannya berterima kasih kepada mertuanya, melainkan justru berbalik. Dia melakukan aksi penggelapan terhadap aset perusahaan yang dikelolanya, sehingga kejahatan itu akhirnya tercium oleh staf sendiri, yaitu Paulus Tedjakusuma.

Jelasnya, aksi Gunawan dilakukan enam tahun setelah menikahi Alice Angsono atau tepatnya tahun 1997. Dia melakukan manipulasi besar-besaran yang diperkirakan mencapai Rp 40 miliar.

Akibat perbuatan nekat mengelabui mertuanya itu, maka dia berurusan dengan hukum. Singkatnya di pengadilan, Gunawan dijatuhi vonis dua setengah tahun penjara. Dia sempat menghuni LP Salemba, Jakarta, sebelum dipindahkan ke LP Kuningan, Jawa Barat.

Dari penjara terakhir inilah Gunawan buron pada Januari 2003. Sudah pasti, dia ingin membalas sakit hatinya kepada mertua dan keluarga besar PT Asaba, termasuk adik-adik iparnya.

Tidak Jauh

Dalam pelariannya, dia tidak pernah menjauh dari Jakarta. Tapi justru berada di Ibu Kota Negara RI ini, bahkan berpindah-pindah tempat tanpa ada rasa takut.

Kenapa demikian? Karena dia punya senjata pamungkas yang cukup kuat, yaitu identitas diri. Jelasnya, Gunawan punya tiga KTP dari tiga kecamatan berbeda, yaitu dengan nama Kevin Martin, Dustin Bakrie, dan Indra Amapta.

Lebih dari itu, berkat jasa sebuah salon kecantikan di Jakarta, dia pun sudah mempermak parasnya. Hidung dimancungkan, bibir ditebalkan, dan mata dibuat agak mencorong.

Tapi justru dengan penampilan yang baru inilah, dia ditangkap oleh tim yang dipimpin langsung Ajun Komisaris Besar Polisi Tito Karnavian di sebuah rumah kos mewah di Gunung Sahari, Jakarta Pusat.

Banyak hal bisa terungkap dari penangkapan ini. Dari yang paling ringan, seperti pemalsuan KTP dan STNK mobil, sampai pada kasus pelariannya dari LP Kuningan, penembakan Paulus Tedjakusuma, dan pembunuhan Boedyharto Angsono serta Edy Siyep.

Lebih dari itu, pemeriksaan terhadap Gunawan juga akan menuntaskan sekaligus membersihkan sejauh mana para anggota marinir itu terlibat dalam urusan yang sudah memakan korban jiwa ini. (Bambang Usdeky HP-64t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA