logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 16 September 2003 Berita Utama  
Line

Kekecewaan Kiai NU di Bawah Memuncak

SURABAYA-Kinerja DPP yang buruk, yang ditandai dengan banyaknya konflik politik di partai itu mengakibatkan banyak kiai NU di level bawah sangat kecewa terhadap performance PKB. Jika kondisi tersebut tak segera dibenahi, PKB khususnya di Jatim kemungkinan besar mengalami penurunan sangat signifikan pada Pemilu 2004 nanti.

Prediksi politik tersebut disampaikan pakar masalah-masalah NU Drs M Asfar MS menjawab pertanyaan Suara Merdeka, Senin malam (15/9). Staf pengajar Fisip Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu mengaku, dalam tiga bulan terakhir ini mengadakan riset ke ponpes-ponpes NU di Jatim.

"Informasi yang saya dapat di tingkat kiai-kiai NU lokal pimpinan ponpes seperti itu," katanya.

Peraih gelar master ilmu politik dari UGM Yogyakarta itu mengemukakan, kasus reposisi Saifullah Yusuf (Gus Ipul) hanya sebagai pemicu kemarahan kiai-kiai NU kepada PKB. Sebelumnya banyak policy partai itu yang dinilai tak mendengarkan dan memperhatikan taushiyah serta harapan kiai-kiai NU.

Misalnya, dalam persoalan pemilihan gubernur Jatim, pemilihan bupati di beberapa daerah di Jatim, gaya kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid yang terlihat one man show dan kadang terlihat kurang konsisten, pengurus DPW PKB Jatim yang tak mengindahkan suara dan aspirasi kiai.

"Jadi ultimatum forum Lirboyo dan Pati Jateng tak bisa dinafikan elite PKB, baik di Jatim maupun pusat. Kalau tidak, PKB kemungkinan besar gembos. Riset saya selama tiga bulan ke ponpes-ponpes NU di Jatim menunjukkan bahwa sebagian besar pimpinan ponpes di bawah kecewa terhadap DPW dan DPP PKB. Dalam persoalan ini, harga diri kiai tingkat lokal merasa dilecehkan," jelas Asfar yang beberapa kali melakukan penelitian soal NU.

Berdasar riset yang dilakukan Asfar di beberapa kawasan basis tradisional NU, seperti Madura, banyak kiai lokal di Pulau Garam tersebut telah menjalin hubungan dengan PPP. Hasil Pemilu 1999 lalu menunjukkan, Bangkalan dan Sumenep berhasil dimenangkan PKB, karena banyak kiai NU yang dulunya mendukung PPP hijrah ke PKB.

"Tapi di Sampang dan Pamekasan, suara PPP bertahan karena kiai-kiai NU di tingkat lokal di kedua daerah itu konsisten mendukung PPP. Saya melihat banyak kiai lokal NU di Madura sekarang main dengan PPP," katanya.

Tak hanya PPP yang merengkuh keuntungan politik dari konflik yang merusak di tubuh PKB. Menurut Asfar, ada kiai-kiai NU di tingkat lokal yang menjalin hubungan dengan Partai Golkar dan partai lainnya. "Secara kultural dan kepentingan politik praktis, PPP lebih dekat. Yang penting PPP jangan sekadar menjadikan kiai-kiai NU di tingkat lokal sebagai vote getter, tapi harusnya caleg jadi. Singkatnya mesti ada negoisasi politik sifatnya pragmatis," tandas Asfar.

Tetap Ngotot

Adanya pihak-pihak yang memprovokasi ketenangan dan persatuan umat NU sebenarnya sudah disinyalir lama oleh banyak pihak. Salah satu contohnya tentang hubungan Hasyim Muzadi dengan Gus Dur yang disebut-sebut Hasyim sudah keterlaluan memusuhi Gus Dur.

Kondisi itu sudah didengar lama oleh kalangan kiai. Apalagi dengan santernya isu yang menyebut Hasyim Muzadi masuk dalam bursa calon presiden, menambah kencangnya angin yang menggoyang hubungan antara dua pentolan NU tersebut.

Namun Rois Syuriah PWNU Jatim KH Masduqi Mahfudz tidak memungkiri bila ada pihak-pihak yang menilai posisi Hasyim Muzadi memang makin kuat di tengah masyarakat, dan khawatir ia akan menjadi saingan berat Gus Dur untuk menjadi presiden. Apalagi Gus Dur tidak mungkin untuk jadi wakil presiden dan tetap ngotot ingin jadi RI-1.

"Sampai sekarang, ia (Gus Dur-Red) tetap percaya diri. Bahkan sudah mengatakan tahun 2004 akan jadi presiden. Saat ditanya alasannya, Gus Dur dengan tegas mengatakan kalau PKB sudah mendapat 58% (suara) dan hal itu diyakini,'' katanya.

Kalau itu sudah menyangkut keyakinan, tambah dia, terserah Gus Dur sendiri, meski keyakinan itu ada dasarnya atau tidak. Kalau dari NU sendiri yang menghendaki Gus Dur tetap naik jadi presiden paling hanya beberapa cabang, meski persentasenya sangat kecil.

Yang makin menambah ramai lagi, satu masalah selesai ternyata muncul masalah lain yang mencuat, seperti dikatakan Gus Dur kalau Hasyim mencalonkan sebagai salah satu capres. Padahal Hasyim Muzadi sudah menegaskan kalau dirinya tidak ada keinginan jadi presiden, bahkan sampai sekarang tidak ada partai politik satu pun yang melamar secara resmi kepadanya untuk dijadikan capres.

Sementara ada pihak-pihak yang menginginkan agar Gus Dur jadi presiden lagi, dan harapan pihak-pihak itu akan memperoleh konsensi. Dalam pertemuan di Jakarta antara orang-orang NU dan PKB, ternyata PWNU di luar Jawa justru menginginkan supaya Hasyim Muzadi bisa jadi RI-1. Tapi oleh Gus Dur ditanggapi lain, kalau Hasyim jadi presiden pihaknya (Gus Dur-Red) tidak akan menghalang-halangi tapi harus keluar dari jabatan PBNU. PWNU di Jawa tidak ada yang menginginkan Hasyim jadi RI-1.

Sebagai orang yang dekat dengan semua pihak di kalangan NU, KH Masduqie Mahfudz langsung menyatakan ketidaksetujuannya atas pendapat Gus Dur tersebut.

"Gus katanya PKB itu anaknya NU. Kalau PKB mengaku sebagai anaknya NU sangat lucu kalau melarang bapaknya. Misalnya, sekarang bapaknya dapat undangan tapi anaknya melarang untuk datang ke undangan tersebut. Kalau tetap datang akan dipecat sebagai bapak, itu kan tidak lucu," katanya.

Isu perseteruan antara Hasyim Muzadi dan Gus Dur sebenarnya ada, seperti yang dikatakan Rois Syuriah PWNU Jatim dihadapan KH Abdurachman Wachid, justru Hasyim Muzadi yang memberikan pembelaan kepada Gus Dur, terutama di wilayah Jawa Timur.

Yang lebih unik lagi, ada kabar santer yang menyebut Hasyim juga sudah tidak menghargai Gus Dur lagi. Salah satu contohnya, ada yang mengatakan Hasyim Muzadi ketemu Gus Dur di lift saja tidak mau jabat tangan. "Saya diminta menasihati Hasyim, dan saat ketemu langsung saya tanyakan masalah itu. Apalagi ada informasi katanya saat berada dalam satu lift dengan Gus Dur, Hasyim tidak mau jabat tangan."

Hal itu dibantah Hasyim, bahkan dijelaskan kalau kantor Gus Dur di lantai 1 dan kantor Hasyim di lantai 8, sehingga tidak pernah berada dalam satu lift. ''Jangankan terhadap Gus Dur, kepada siapa pun saya selalu jabat tangan, sekalipun pada orang lain,'' jelas Hasyim pada KH Masduqi. (G14,jo-69)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA