logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 16 September 2003 Berita Utama  
Line

''Ketika Ditangkap Belum Sarapan ...''

LELAKI itu datang sekitar pukul 16.00. Ketika itu anak-anak Rohadi (45) sedang bermain, satu anak di rumah bersama emaknya, Ny Ratun (42). Lelaki itu memakai topi hitam lusuh bertuliskan 'De Antonio Spure'. Dengan tas gendong, tamu itu tampak gagah.

Setelah sampai di depan pintu rumah, dia menanyakan Rohadi. ''Suami saya sudah 15 hari tidak pulang. Dia sedang kerja,'' jawab Ny Ratun. Lelaki itu adalah Susanto (22), napi yang baru lari LP Nusakambangan. Dia mengatakan sebagai teman Rohadi ketika bersama-sama menghuni LP Purwokerto, 4 tahun lalu.

Saat itu gerimis mulai tiba, suasana perkampungan Dukuh Karanglo, Pejogolan, Cilongok, mulai sepi. Anak-anak Ny Ratun yang bermain sudah pulang. Tamu itu meminta izin untuk menginap, tuan rumah mengizinkannya.

Menjelang magrib gerimis mulai lebat, suasana perkampungan itu makin sepi. Ny Ratun menyalakan tampu minyak untuk menerangi rumahnya. Dia menyuguhi tamunya segelas air putih. Lepas magrib, ketika anak-anaknya sudah makan, tamu itu pun disuruh makan nasi dengan lauk sambal. ''Kula tiyang mboten gadah (saya orang tak punya),''ujarnya.

Tidak ada yang dibicarakan antara tamu dan Ny Ratun. Selama di rumah itu, Susanto hanya duduk dan diam. Malam mulai larut dan wanita itu tidur bersama tiga anaknya. Seorang anaknya tidur di atas risban barat, sedangkan Susanto tidur di risban bambu sebelah timur, hanya berbatas meja.

Pagi hari, wanita yang dua pekan tidak ketemu suaminya itu menanak nasi untuk makan tiga anaknya. Karena tak ada gula, teh, dan kopi, dia menyuguhi tamunya dengan segelas air putih.

''Ketika ditangkap polisi, dia belum sarapan,'' katanya.

Kedatangan tamu tak diundang rupanya diketahui tetangga Ny Ritun. Mereka memberi tahu RT, kemudian dari mulut ke mulut tersiar kabar ada orang tak dikenal di rumah Ny Ritun. Kabar itu sampai ke sejumlah warga Karangkemiri, tetangga desa Pejogolan. ''Setahu saya yang telepon ke polisi itu orang Karangkemiri, dia bekerja di LP Nusakambangan,''kata warga setempat.

Tak Mengira Buron

Ny Ratun sama sekali tidak mengira bahwa tamu itu adalah buron polisi. Dia sangat ketakutan ketika ada polisi menggerebek rumahnya. ''Saya gemetar ketika polisi datang ke sini, takut sekali,'' ujarnya.

Dia pantas ketakutan. Itu mengingatkan dia 4 tahun lalu ketika suatu hari suaminya diambil polisi, karena bersama teman-temannya terlibat pencurian.

''Waktu itu suami saya tidak ikut mencuri televisi, tapi dijebloskan temannya. Sekarang ada tamu, dan polisi datang. Saya benar-benar ketakutan,'' ujarnya.

Setelah mengetahui tamunya adalah napi yang kabur dari LP Batu, Nusakambangan, dan tidak ada kaitannya dengan suaminya, wanita itu mulai tenang. Dia kini sedang menunggu suaminya pulang ke rumah.

Dalam pelarian, Susanto rupanya selalu membawa tas gendong warna merah hati kombinasi warna hitam. Di dalamnya dua celana panjang, dua baju, dan satu kaus. Dia tidak lupa membawa sikat gigi dan sabun mandi.

Tas dan baju itu masih tertinggal di rumah sahabat lamanya. Dia tidak sempat membawa tas dan mengambil baju yang dijemur di depan rumah Rohadi. Baju-baju itu masih dibiarkan di atas jemuran. (Khoerudin Islam-t).


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA