
| Selasa, 16 September 2003 | Semarang & Sekitarnya |
Petani Ancam Bakar Tanaman TembakauGROBOGAN - Beberapa petani tembakau di Kecamatan Pulokulon dan Bolo, Kecamatan Toroh, mengancam membabat dan membakar tanaman tembakau di sawah. Sebab, harga tembakau basah dalam bentuk daun lembaran anjlok drastis, yaitu Rp 200 - Rp 300/kg. Tidak ada tembakau basah di daerah itu yang laku Rp 3.000 - Rp 3.500/kg. Karena itulah, banyak petani tembakau di Pulokulon dan sekitarnya tidak mampu membayar utang ke bank. ''Modal yang kami tanamkan melalui tanaman tidak dapat kembali utuh. Sebab, pasar tak menjanjikan,'' kata Ngadiman (40), petani tembakau di Pulokulon, kemarin. Dia menuturkan untuk menanam tembakau, tidak semua petani mengandalkan modal dari hasil panen padi sebelumnya. Sebab, pada masa panen sebelumnya banyak petani merugi karena harga gabah di pasaran rendah. Untuk menanam tembakau, mereka terpaksa meminjam ke bank. Bahkan tak sedikit petani meminjam ke BRI Unit dan BPR-BKK. Beberapa petani di daerah itu mengaku sudah dikejar-kejar mantri bank. Mereka hanya bisa berjanji membayar setelah tembakau laku. Dia mengakui belakangan ini petani tembakau seperti dipermainkan tengkulak. Sebab, harga daun tembakau rendah, bahkan jauh lebih rendah ketimbang harga daun jati. Padahal, kualitas tembakau itu betul-betul pilihan. Lembaran daun utuh dan tua. Harga penawaran itu, kata dia, sama sekali tak dapat untuk menutupi modal tanam. Sebab, modal dan hasil panen tidak seimbang. Jual Sapi Karena itu wajar bila petani tembakau yang mengambil modal dari BRI Unit atau BPR-BKK tak dapat mengembalikan pinjaman. Namun karena pinjaman itu harus dikembalikan dalam waktu yang disepakati, petani umumnya menjual sapi atau barang lain untuk membayar pinjaman. ''Sapi pun di pasaran laku rendah. Sebab, pakan hijauan belakangan sulit didapat,'' ujar Ngadiman. Dia dan petani tembakau lain mengusulkan pemerintah memberikan bantuan beras, benih, atau yang lain seperti petani padi dan jagung yang tanamannya puso dan rusak berat akibat kekeringan. Bila perlu diikutkan program padat karya. Mererka berharap bisa menggunakan upah itu untuk meringankan beban angsuran pinjaman ke bank. ''Tanaman kami memang tidak rusak akibat kekeringan, tetapi karena harga rendah. Kami sebenarnya sama-sama jadi korban kekeringan,'' ujar dia. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kehutanan dan Perkebunan Grobogan, Ir Edhie Sudaryanto, menyatakan petani tembakau dengan modal pinjaman dari bank umumnya tak dapat mengembalikan pinjaman itu. Sebab, hasil panen dan modal tidak klop. Namun petani tetap bertanggung jawab atas utang mereka. Dia menyatakan secara khusus tak ada bantuan kekeringan untuk petani tembakau. Bantuan itu hanya untuk petani padi dan jagung. Namun mereka diupayakan mendapat bantuan benih padi untuk persiapan tanam padi musim hujan. Pemerintah berencana membantu 100 ton benih. (A23-76g) |