
| Selasa, 16 September 2003 | Semarang & Sekitarnya |
Temukan Cek Rp 100 Juta Mendapat Penghargaan
SEMARANG - Judul tersebut tampaknya terlalu berlebihan dan bombastis untuk menghargai keputusan Margianto (31) mengembalikan cek temuan Rp 100 juta kepada pemilik sah. Keputusan staf front office Hotel Horison itu mencengangkan, sangat langka, dan fenomenal. Sebab, terjadi pada saat banyak orang di kolong langit dibutakan oleh semangat menguasai harta melalui jalan pintas. Ingin bukti? Lihatlah fakta berikut. Korupsi di semua tingkatan merajalela di mana-mana. Koruptor dalam klasifikasi ini adalah orang yang menguasai barang bukan miliknya. Juga penilap uang haram dengan menaikkan angka proyek. Hal lain yang paling memalukan adalah perilaku masyarakat yang memelintir kekuasaan Tuhan lewat jasa dukun untuk maksud tertentu. Sekadar ingin mendapat sedikit uang judi, misalnya, adakalanya orang menyuap iblis dengan dupa dan kemenyan sekaligus meniadakan kekuasaan absolut Yang Mahakuasa sebagai sumber rezeki halal paling abadi. Belum lama berselang, selagi puncak keramaian pagi hari di Hotel Horison, kebanyakan tamu keluar hotel dan terkonsentrasi di lobi. Di tempat itulah tas hitam kecil berisi cek Rp 100 juta ditemukan. Barang tertinggal di hotel adalah biasa. Pagi itu dua kali barang tertinggal. Satu ditemukan di kamar, dan diambil sang pemilik tak lama kemudian. Satu lagi ditemukan Margianto, salah satu kru valet di bawah departemen front office. Bujang kelahiran Purwokerto 3 Oktober 1972 itu berencana menyerahkan tas temuan tersebut jika belum diambil pemiliknya hingga pukul 12.00 ke lost and found, bagian di bawah departemen house keeping yang menangani barang hilang di hotel. Sebagai petugas valet, seperti biasa Margianto memindahkan kendaraan tamu yang akan meninggalkan hotel dari lantai V ke lantai dasar. Tiba di lantai dasar dia mendapati pemilik mobil bingung mencari tas yang hilang entah di mana. Sayang, tamu itu gagal mengingat-ingat kali terakhir meletakkan barang. Apalagi tas lepas dari genggaman tangan sejak pagi hari. Yakin bahwa pemilik mobil itu benar-benar pemilik tas berisi cek Rp 100 juta saat itu juga Margianto menyerahkan temuannya. Ternyata benar. Setelah dibuka, di dalam tas itu ada cek tersebut. ''Kalau mau bisa saja Margianto menguasai uang temuan itu. Lagi pula tas itu hilang di luar kamar, yang bukan tanggung jawabnya. Cukup dengan diam, habis perkara dan dia bisa mengantongi cek Rp 100 juta tanpa ada yang tahu,'' kata PR Officer Horison, Uli Artha. Margianto, yang mendapat sertifikat dari manajemen segera setelah kejujurannya teruji berpendapat, yakin tak bisa kerja sendirian. Semua staf Hotel Horison didesain bekerja dalam tim. Sebauh departemen merupakan mata rantai departemen lain. Artinya, satu departemen rusak hampir pasti memperburuk kinerja manajemen secara keseluruhan. ''Kepercayaan publik dan nama baik hotel lebih berharga dari apapun. Karena itu hasrat menguasai barang milik tamu yang tertinggal di hotel jauh dari pikiran kami,'' kata dia. (B15-76g) |