logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 16 September 2003 Semarang & Sekitarnya  
Line

40% Penghuni LP Wanita Kasus Narkoba

SEMARANG- Jumlahpengguna narkoba kian memprihatinkan. Buktinya, sekitar 40 % penghuni Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wanita Bulu Semarang karena mengonsumsi narkoba.

''Dari 85 penghuni LP Wanita, sebanyak 35 orang karena kasus narkoba. Mereka tidak hanya narapidana, namun juga tahanan,''ujar Kasubsi Bimbingan Pemasyarakatan dan Perawatan LP Wanita Bulu Semarang, Susana Tri A di kantornya, kemarin.

Meski jumlah narapidana dan tahanan narkoba cukup banyak, namun dalam pembinaannya antara pengguna narkoba dan bukan pengguna, perlakuannya sama saja. Setiap pagi disuruh olahraga, membersihkan lingkungan, dan mengikuti aneka kegiatan di LP.

''Kondisinya memang tidak memungkinkan, kecuali jika sudah ada LP khusus narkoba,'' tuturnya.

Untuk menjaga agar penghuni LP tidak mengonsumsi narkoba, pihaknya melakukan pengawasan yang ketat, seperti larangan merokok. Tak hanya itu, bagi keluarga yang membawakan obat-obatan pun akan diperiksa terlebih dahulu.

''Tim kesehatan LP Wanita akan memeriksa setiap obat yang masuk,'' katanya.

Selain itu, pihaknya juga melakukan pembinaan pada mereka mulai pagi hingga sore. Pembinaan tersebut diberikan dalam bentuk fisik maupun nonfisik. ''Seminggu sekali anak-anak mengikuti Pramuka, latihan musik, kasidahan, paduan suara, menari, dan bermain drama,'' ungkap Susana.

Setiap ada kunjungan pejabat misalnya, LP Wanita Bulu Semarang akan menampilkan kepandaian narapidana dalam bermain musik, bernyanyi, dan menari.

Dalam menjalankan misinya untuk membina narapidana agar menjadi lebih baik, LP Wanita merangkul berbagai lembaga atau institusi yang peduli pada masa depan para narapidana.

Pesantren Suryalaya

Secara terpisah, Kalapas Dra Engkuy Kurniasih BCIP mengatakan, untuk menyadarkan para napi khususnya yang terkait dengan narkoba, pihaknya telah bekerja sama dengan pihak Pesantren Suryalaya, Jabar. Kehadiran ustad dari pesantren itu untuk membimbing para napi sadar dan lebih mengenal dirinya dan Tuhannya.

''Setiap sebulan sekali, para napi diajak untuk zikir untuk mengingat Allah di malam hari. Sedangkan setiap Jumat, diisi dengan pengajian usai shalat Asar,'' katanya.

Sistem pembinaan napi, kata dia, menggunakan metode pesantren terkurikulum. Ku-rikulum disusun oleh Departemen Kehakiman dan HAM Pusat. Penerapan kurikulum sudah dilakukan sejak tiga bulan lalu.

''Semua itu, tujuannya untuk membentuk pribadi napi yang baik. Diharapkan, mereka mampu mengatasi persoalan hidupnya setelah keluar dari LP dan hidupnya bisa lebih tenteram,'' katanya.

Sementara itu, Koordinator Pemasyarakatan Kantor Wilayah Departemen Kehakiman dan HAM Jateng, Paulus Sugeng BCIP, SH mengatakan, beberapa waktu lalu pihaknya berhasil menangkap orang yang hendak memasukkan narkoba ke Nusakambangan. Di Solo juga terjadi hal serupa. ''Ada orang dari luar yang mencoba memasukkan narkoba. Kini mereka sudah tertangkap dan diserahkan ke polisi,'' katanya.

Untuk itu, kini pihaknya sedang menggagas agar pegawai LP yang berprestasi mendapat penghargaan. Hal itu mengingat beratnya beban yang mereka emban. (H3,G5-76)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA