logo SUARA MERDEKA
Line
 Olahraga Minggu, 14 September 2003  
Line

Mereka Butuh Kompetisi Berkualitas

TUNAS- tunas muda berguguran. Inilah gambaran yang tampaknya paling tepat untuk melukiskan perjuangan petenis-petenis potensial Indonesia di turnamen Wismilak Internasional 2003 di Grand Hyatt Nusa Dua, Bali.

Maya Rosa dkk terhenti di babak kualifikasi. Praktis, mereka tak bisa menikmati babak utama. Keinginan "mencicipi" pertarungan melawan petenis-petenis top dunia pun harus dikubur.

Turnamen Wismilak Internasional 2003 boleh jadi memang tidak "ramah" terhadap para calon penerus dari Angelique "Angie" Widjaja ini. Mereka harus puas menjadi penonton lebih awal.

"Dana menjadi kendala pembinaan kita. Bagaimana mungkin bisa menjadi petenis top kalau minim kompetisi," kata pelatih tenis Deddy Prasetyo. Selain itu, menurut dia, pemain juga harus mendapatkan pelatih bagus. Tapi, keinginan para petenis muda ikut turnamen sangat layak dihargai.

"Menjajal pemain top dunia merupakan bagian paling bagus untuk membentuk mental bertanding petenis muda. Jangan dilihat kalah-menangnya," kata dia.

Angelique Widjaja, yang kini menjadi petenis putri terbaik Indonesia, pun menilai pemain-pemain muda perlu lebih dimatangkan. Mereka harus diberi ruang kompetisi yang bermutu dan bertaraf internasional. Di sini, peran PB Pelti sangat penting, misalnya dengan mencarikan dana sponsorship.

"Indonesia masih minim kompetisi internasional. Ini menyulitkan pemain muda. Mereka tak mungkin bisa berkembang ke pentas internasional kalau persaingannya tidak keras dan intens," tutur Angie.

Keberadaan Wismilak di Indonesia ikut diakui menguntungkan pemain muda. Perusahaan ini sanggup membiayai Ayu Fani dan Maya Rosa berlatih dan bertanding di dalam dan luar negeri. Ini kesempatan emas.

"Daya dukung dana memang segalanya. Pemain bagus kalau tidak pernah bertanding tak akan ada artinya. Indonesia sebenarnya memiliki banyak bibit bagus, sayangnya tak pernah ada intergrasi antara dana dan metode latihan, serta kualitas pelatih," tambah Deddy Prasetyo.

Petenis Asing

Meskipun di babak kualifikasi, pertarungan petenis muda di Wismilak Internasional tidak hanya antarpemain Indonesia. Mereka juga terlibat bentrok dengan petenis-petenis asing. Septi Mende bertekuk lutut dari seniornya Liza Andriyani dengan skor 2-6, 6-2 dan 6-7. Diana Julianto dikalahkan Shiso Hisamatsu (Jepang) 4-6 dan 2-6. Maya Rosa harus mengakui kehebatan Napaporn Tongsalee (Thailand) 3-6 dan 2-6. Ayu Fani ditekuk Zi Yan (Cina) 4-6 dan 3-6.

Sandy Gumulya sempat "lolos" dari bekapan Abigail Spears (AS). Petenis anggota Piala Fed 2003 ini menang 4-6, 6-2 dan 6-1. Sayangnya di babak kedua kualifikasi dia kandas di tangan Ivana Abramovich (Kroasia) 3-6 dan 1-6.

"Masih berat bagi Sandy untuk melewati Ivana. Ivana pemain yang lolos babak utama AS Terbuka. Kualitas permainannya masih di atas Sandy. Tapi, ini pengalaman berharga," kata mantan "ratu" tenis Indonesia Yayuk Basuki.

Mengomentari penampilan petenis muda Indonesia, terutama Septi Mende dan Sandy, mantan petenis nasional Suzana A Wibowo mengatakan, baik Septi maupun Sandy masih sangat muda dan kurang pengalaman. "Mereka harus banyak ikut turnamen. Dibutuhkan kompetisi panjang dan berjenjang untuk menciptakan pemain bagus," tutur Suzana.

Menurut nonplaying captain tim Piala Fed Indonesia 2003 itu, perjalanan Septi dan Sandy masih panjang. Dengan banyaknya mengikuti turnamen, mental bertanding dan teknik bermain mereka akan meningkat. "Petenis Cina bisa jadi rujukan. Lihat mereka. Dari sini mereka tidak langsung pulang ke negaranya, tapi ikut berbagai turnamen lagi. Jam terbang mereka tinggi," kata Suzana.

Sandy dan Septi juga mengaku kalau mereka harus lebih banyak melakukan pertandingan berkualitas. "Saya senang ikut turnamen ini. Banyak pengalaman yang bisa diambil," kata Septi dan Sandy. Pernyataan kedua petenis muda ini pantas dibedah mendalam. Bisa saja mereka ingin terus dikirim ke berbagai turnamen dan mendapatkan sponsor untuk peningkatan prestasi.

Kini, semua dapat ditebak. Mewujudkan prestasi butuh biaya, pelatih dan strategi yang bagus. Tunas-tunas muda tenis putri Indonesia itu mungkin tidak akan berguguran lagi di setiap turnamen jika mereka terus dipacu untuk berprestasi. Salah satu caranya, mengikutkan mereka di banyak turnamen. Semangat dan daya juang saja tidak akan cukup bagi mereka untuk menorehkan tinta emas tenis nasional. (Budi Yuwono Alatas-77)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA