logo SUARA MERDEKA
Line
 Bincang Bincang Minggu, 14 September 2003  
Line

Eko "Patrio" Indro Purnomo

Saya Lebih Suka Jadi "Tahanan Kota"

Eko Patrio bersama Nova Eliza dalam sebuah acara E...Kok Ngegosip   SM/Tresnawati

SORE itu Eko Indro Purnomo (33) yang lebih akrab disapa Eko Patrio muncul di studio Trans TV, tempat dia syuting tayangan "E...Ko Ngegosip" dengan penampilan santai. Dia ber-t-shirt abu-abu dengan celana jins biru dan sepatu kets cokelat. Rupanya sepatu kets itu menarik perhatian para kru "E...Ko Ngegosip". ''Tumben pakai sepatu kets, Mas'' kata salah seorang dari mereka. Yang ditanya cuma nyengir. Eko memang identik dengan penampilan yang rapi, serapi dia menata hidup selama ini. Serapi dia mengelola bisnis dan keluarga. Berikut bincang-bincang Suara Merdeka dengan pentolan Patrio itu.

Tayangan infotainment sangat menjamur di stasiun televisi. Satu stasiun televisi bisa punya 4-6 infotainment. Padahal, sebenarnya peristiwa yang dikabarkan dari itu ke itu saja. Akibatnya muncul kesan, infotaiment lebih banyak ketimbang peristiwa nyatanya. Apa komentar Eko?

Eko bicara secara general dulu. Program infotainment atau program televisi lain, sekarang sudah seperti fashion. Maksudnya, cuma sesaat-sesaat. Kalau sebuah stasiun membuat tayangan misteri, infotainment, atau dangdut, tasiun lain pasti mempunyai acara serupa. Itu sah-sah saja karena segala yang dilakukan stasiun televisi sesungguhnya hanya menyikapi keinginan pemirsa. Kemarin muncul sinetron bermuatan Betawi, lalu semua televisi bikin tayangan sejenis. Apa boleh buat.? Yang penting, tinggal bagaimana kita menyikapi, bagaimana sebuah production house meng-create sebuah program menjadi enak ditonton. Misalnya Ekomando Production bikin infotainment yang live, stripping setiap hari, berdurasi satu jam dan lebih mengungkapkan klarifikasi tokoh atas gosip yang beredar.

Ada upaya supaya "E...Ko Ngegosip" lain dari infotainment lain?

Oh ya pasti. Saya lebih bermain ke klarifikasi, lebih menanyakan kepada narasumber karena jargon "E...Ko Ngegosip", jangan sampai ngegosip doang, ada cover both side-lah. Ada penyeimbangnya. Makanya, selalu tidak pernah ada informasi yang berupa ''katanya surat kabar begini-begini''.

Apa yang Anda lakukan agar ide-ide Anda berhasil?

Pertama, tentu saya bekerja dengan tim yang solid. Kedua, dengan membuat format yang lebih mengikat pemirsa dan melibatkan teman-teman seperti Nova Eliza, Dian Nithami, dan Elma Theana. Sebab, ngegosipin teman-teman sendiri, buat Eko lebih enak, lebih masuk.

Kelebihan tayangan ini karena Anda dekat dengan para artis?

Salah satunya ya itu, tetapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana mengungkapkan kebenaran. Ada ajang klarifikasi. Kedua, saya memberi kesempatan pada yang bermasalah untuk curhat securhat-curhatnya. Ketiga, dengan memberikan kuis buat mengikat pemirsa.

Pernah ada keluhan?

Alhamdulillah justru sampai sekarang saya dipercaya teman-teman. Contohnya Sarah Vi kawin dengan Sopie Agil, tiba-tiba saya dapat infonya. Desy Ratnasari, susahnya bukan main kalau disuruh ngomong, eh akhirnya bisa juga tampil. Jihan Fahira dan Agnes Monica, semua mau ngomong. Bahkan soal Rhoma Irama, bukan kami yang minta, malah dia datang ke sini. Jadi, kami senang diberi kepercayaan. Saya ingin acara itu jadi tayangan kredibel dan sebagai ajang klarifikasi.

Apa rencana ke depan "E...Ko Ngegosip"?

Saya berharap mudah-mudahan acara itu bisa sejajar dengan infotainment. Minimal sebagai penyeimbang infotainment lain. Saya senang bisa diterima masyarakat. Alhamdulillah, sekarang diberi kesempatan untuk membuat tayangan setiap hari. Kontraknya sampai akhir tahun.

Sekarang soal kesibukan. Seperti hari ini, siang Anda di "Kocok-kocok", sore "E...Ko Ngegosip", dan malam hadir di "Kemilau". Bagaimana membagi waktu?

Kebetulan acara saya banyak yang live sehingga lebih gampang membagi waktu.

Apa tak membuat Anda jadi seperti ''tahanan kota''?

Setelah berkeluarga, saya lebih suka jadi tahanan kota. Saya beruntung sekali jadi tahanan kota karena saya jadi bisa lebih dekat dengan keluarga. Sebab sudah jelas, pukul 11.00-13.00 saya ada di SCTV, pukul 17.00-19.00 Trans TV, dan pukul 21.00 saya sudah pulang. Pagi saya berangkat antara pukul 10.00-11.00. Yang menyangkut urusan kantor, sudah dikelola oleh teman-teman.

O...Ekomando sudah diurus orang lain to?

Ya mereka lebih pinter ngurus perusahaan jika dibandingkan dengan saya. Semua urusan saya serahkan pada mereka. Tinggal production house yang saya kelola sendiri karena ruang lingkupnya cukup banyak.

Bisnis Anda dimulai dari mana sih?

Tahun 1998 saya mulai bisnis dari sebuah kafe tenda. Waktu itu asetnya hanya jutaan rupiah. Kemudian berkembang jadi rumah produksi, salon, dan percetakan. Alhamdulillah, sekarang nilainya sudah miliaran rupiah.

Apa kunci sukses bisnis itu?

Kuncinya, sejak awal saya menyerahkan sebagian besar pengelolaan bisnis itu kepada kalangan profesional yang kompeten. Mereka yang lebih mengerti ketimbang saya. Saya memilih berkonsentrasi sebagai pelawak.

Berawal dari penyiar radio, Anda kemudian semakin tenar setelah "Ngelaba" di TPI bersama Patrio. Dalam perjalanan panjang itu, apa yang dirasakan paling membekas di hati?

Mungkin waktu jadi penyiar. Perjalanan saya sebagai penyiar cukup panjang. Delapan tahun saya jadi penyiar Radio SK. Dari 1989-1996 dengan Ulfa Dwiyanti. Waktu itu nama Ulfa sudah tinggi. Semua orang mencari Ulfa, bukan Eko. Namun nggak apa-apa karena perjalanan karier orang memang berbeda-beda. Saya kira itu salah satu didikan alam kepada saya. Saya dididik seperti itu.

Mungkin ada ''dendam''' ingin bisa setenar Ulfa ketika itu?

Nggak-nggak. Saya jadi penyiar karena saya senang. Saya kuliah di IISIP untuk menunjang siaran.

Jadi semua sudah terencana?

Ya memang terencana seperti itu. Lalu 1995 membentuk grup lawak Patrio. Membanyol di radio, lalu ditawari TPI untuk siaran. Setelah masuk TPI nama saya mulai dikenal lebih luas. Ada tawaran untuk menjadi presenter dan sebagainya. Namun karena saya ingin menyelesaikan kuliah, saya baru mau jadi presenter "KISS" 1998. Terus beralih ke "E...Ko Ngegosip". Jadi, dari gosip ke gosip.

Nggak takut dibilang biang gosip?

Saya lebih suka dibilang pekerja seni ajalah. Sebenarnya sah-sah saja orang mau bilang saya sebagai raja gosip. Di Indonesia ini kan perlu dicatat, terlalu banyak raja. Ada raja blambangan, Raja Hayamwuruk, raja dangdut, atau raja kayu. Ada juga ratu ekstasi, ratu ngebor. Kalau tiba-tiba dijuluki raja gosip, buat saya sih sah-sah saja. Sebab, semua itu toh bagian dari pekerjaan. Nanti akan hilang dengan sendirinya. Dianggap sebagai raja infotainment atau raja gosip, buat saya nggak apa-apa. Nggak jadi aib. Akan jadi masalah kalau jadi raja singa, he he he. Saya nggak mau dianggap sebagai raja copet atau raja korupsi.

Eh, tapi jujur, saya disebut raja gosip, raja production house atau apa, saya nggak senang. Saya lebih suka disebut pelawak saja.

Pelawak itu tidak ada sekolahnya, tetapi dengan melawak saya banyak teman. Dari preman sampai presiden.

Mungkin saat berjalan di Jl Sudirman, Anda bertemu berpuluh-puluh polisi, atau lima dokter, tetapi mungkin Anda akan bertemu dengan sedikit pelawak. Jadi, orang yang diciptain jadi pelawak itu mendapat berkah yang kelewat-lewat.

Sekarang beralih ke soal Patrio. Setelah masing-masing anggota bersolo karier, bagaimana hubungan kalian?

Masih seperti keluarga kayak dulu-dulu. Barusan sebelum saya bertemu Anda, saya meeting sama anak-anak Patrio. Setiap Kamis kami mengadakan pertemuan.

Seperti apa kondisi dunia lawak di Indonesia sekarang ini?

Dunia lawak di Indonesia jika dilihat dari sisi demand dan supply-nya, ternyata masih banyak permintaannya. Alasannya, di gedung-gedung tinggi di Jakarta ini, katakanlah ada 20 perusahaan, dalam setahun butuh dua kali hiburan, family gathering sama ulang tahun. Bisa juga ditambah dengan acara silaturahmi, pergantian jabatan, dan sebagainya. Berarti, dalam setahun ada 40 acara. Padahal, ada berapa ratus gedung di Jakarta?

Yang terjadi sekarang, banyak permintaan, tetapi pelawaknya itu-itu aja. Eko, Parto, Akri, Srimulat, atau Bagito. Karena itu, kami memiliki banyak kesempatan tampil. Karena itu saya berharap, mudah-mudahan kian banyak pelawak yang sukses dan bermunculan.

Profesi pelawak itu amat menjanjikan. Contohlah Ulfa. Pemain sinetron kalah kaya dari Ulfa Dwiyanti. Bahkan, pemain sekelas Tamara Blezskinsky pun keok. Tiap hari, siang, sore, malam, Ulfa beredar ke mana-mana. Tamara cuma main satu sinetron. Jangan bicara masalah kesehatan atau apa, tetapi yang kita bicarakan adalah masalah pendapatan. Jadi buat saya sudah saatnya ibu-ibu meminta anak-anaknya agar jadi pelawak.

Bisa bikin orang tertawa itu nggak mudah lo...

Nah ini, jangan bicara masalah bakat. Demi Allah saya tuh nggak punya bakat. Dari keluarga saya juga nggak ada bakat. Mungkin 99% adalah kemauan dan kemampuan. Kemauan untuk melawak dan kemampuan untuk menciptakan lawakan.

Kepikir nggak membuat sekolah untuk para pelawak?

Mungkin saja. saya tak tahu di luar negeri ada sekolah lawak atau tidak. Yang jelas, ada klub tawa.

Masih ada obsesi yang ingin diraih?

Apa ya? Udah. Semua sudah saya dapatkan. Saya harus bersyukur. Kini tinggal nikmatin hidup, bikin anak sebanyak-banyaknya dari satu istri. Ya, saya tak ingin mencari istri lain. Cukup mamanya Sawal. (Tresnawati-72n)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA