logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 13 September 2003 Surat Pembaca  
Line

Pensiun Dini PNS

Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang ingin mengajukan pensiun dini, perlu mendapat perhatian dan imbalan yang menarik. PP yang mengatur pensiun dini sekarang tidak menguntungkan. Padahal bagi pemerintah bila banyak yang mengajukan pensiun dini sangat menguntungkan.

Pemerintah bisa mengganti PNS yang sudah tidak produktif karena usia dan pendidikan, dengan tenaga muda. Untuk itu pemerintah agar meninjau kembali PP tersebut dan menggantinya dengan yang lebih menarik dan menguntungkan.

Misalnya, pangkat dan golongan PNS yang mengajukan pensiun dini dinaikkan satu tingkat dengan syarat pangkat terakhir sudah diduduki selama dua tahun atau lebih. Batas usia pensiun dini minimal 50 tahun atau sudah bekerja/punya masa kerja minimal 25 tahun meskipun umurnya belum 50 tahun.

PNS yang mengajukan pensiun dini juga melalui masa persiapan pensiun (MPP) atau bebas tugas (BT) selama satu tahun dengan gaji penuh, tanpa tun jangan jabatan. Uang Taspen diterima penuh seperti PNS yang pensiun sudah waktunya dan mendapat bonus pengabdian.

Selama ini banyak yang mengajukan pensiun dini merasa dirugikan. Ada yang sudah bekerja 30 tahun lebih, pangkatnya delapan tahun mandek tidak bisa naik, mengajukan pensiun dini umur 58 tahun dari seharusnya pensiun umur 60 tahun. Setelah pensiun pangkatnya ajek, uang Taspen tidak penuh, tidak ada bonus.

Untuk itu peraturan yang mengatur batas usia pensiun diseragamkan. Batas usia 56 tahun hendaknya berlaku untuk seluruh PNS. Batas usia pensiun 60 tahun atau lebih diberikan hanya yang punya pengabdian luar biasa atau punya keahlian tertentu yang sangat dibutuhkan.

Suhari
PNS NIP 130870309
Bumiayu Brebes

***

Kir Kendaraan Pribadi

Membaca dan menyimak berita tentang akan diadakan pemberlakuan kir bagi kendaraan pribadi (mobil dan motor) mulai tahun depan, membuat saya heran bercampur sedih. Kebijakan yang diambil tersebut pada akhirnya hanya menambah beban masyarakat yang sudah cukup berat.

Apakah semua ini tak membuka mata hati pengambil kebijakan untuk membuat masyarakat nyaman dan tenang?. Untuk pengurusan SIM dan STNK saja sudah mentradisi ada uang tambahan di luar prosedur resmi dan tanpa tanda terima.

Kami hanya berharap agar wakil-wakil kami yang terhormat jika masih merasa mempunyai nurani, bisa membantu agar kebijakan yang memberatkan tidak didukung. Masyarakat sudah terlanjur tak simpati dan apriori terhadap tindakan Anda yang hanya memikirkan kesejahteraan dan kantongnya sendiri.

Akibatnya masyarakat bawah merasa tak punya harapan lagi dan pesimistis memandang masa depannya. Bahkan kini banyak yang bermimpi menjadi jutawan mendadak dengan mengadu nasib memasang togel. Sebab hanya itulah hiburan dan harapan mereka.

Ingat sebentar lagi Pemilu di mana biasanya banyak partai mencari simpati masyarakat dengan janji-janji manis dan melenakan hati. Namun akhirnya semua hanya omong kosong belaka seperti yang sudah terjadi selama ini.

Semoga unek-unek ini dapat menggugah hati para pemimpin dan wakil rakyat sebelum mengambil keputusan. Selama ini masyarakat hanya bisa diam dan menerima tapi jangan dianggap bodoh dan tolol. Dampak dari beban hidup yang makin berat bisa menimbulkan kerawanan sosial dengan banyaknya tindak kejahatan.

Maaf seandainya kata-kata saya menyinggung sebab hanya dengan ini saya bisa menyatakan unek-unek dan mungkin saja masih ada yang mau menerima saran dan keluhan dari masyarakat.

Halim Setiawan SST
Gareman 7A Semarang

***

Kecewa Layanan BRI Unit Gumayun

Awal Agustus lalu, saudara saya menerima fasilitas kredit dengan agunan sertifikat tanahnya. Setelah cair, dia agak kaget sebab potongannya banyak antara lain biaya notaris, meterai dan biaya pegawai BRI Unit Gumayun (5 orang).

Untuk biaya notaris dan meterai saya maklum, namun yang saya tidak habis pikir biaya pegawai itulah yang jadi masalah. Mereka kan sudah dapat gaji dari pemerintah, masak sih masih minta pada nasabah.

Saudara saya tanya pada mantri kreditnya, namun dijawab hal itu sudah peraturan, apa betul. Terus peraturan yang mana dan adakah Perdanya. Apa pihak BRI mengeluarkan peraturan untuk setiap pencairan kredit, nasabah "dipungut biaya" untuk itu atau biaya bagi mantri kredit yang ngurusi prosedur pencairan.

Semua nasabah BRI Unit di mana pun berada adalah golongan "elit" alias ekonomi sulit. Saya kecewa atas layanan BRI Unit Gumayun. Mohon pihak BRI menindak pegawai yang berbuat semau nya, menekan rakyat kecil dengan alasan yang tidak masuk akal.

Pitasih
Dukuhwaru Kabupaten Tegal

***

Usul untuk BPN Tegal

Saya setuju dengan tulisan "Hati-hati dengan oknum BPN Tegal" agar ditindaklanjuti dengan pembinaan intern sehingga oknum tersebut bersikap ksatria, jujur, tidak munafik dan jauh dari KKN. Saya juga prihatin dengan layanan BPN Kabupaten Tegal yang memungut biaya tinggi.

Dari segi mutu layanan pun, setiap "pos" pasti ada uang pelicinnya, bila ingin layanannya cepat. Sudah tradisikah ini. Petugas ukur bisa "bermain tarip". Bila tidak ada uang lelahnya, tidak mau mengukur. Inikah aparat publik yang mengayomi wong cilik atau memang moral petugasnya yang bobrok.

Saya usul untuk pemimpin BPN Kabupaten Tegal, agar menindak para petugas yang "bermain tarip" di lapangan. Mereka sudah digaji negara, bila mengulur-ulur waktu ukur mohon secara ksatria undur diri statusnya sebagai PNS. Banyak calon yang mau menggantikan yang mutunya jauh lebih baik.

Tamin
Tuwel Rt 7/Rw 4 Bojong

***

Hati-hati Beli Pasir

Saya beberapa waktu lalu beli pasir Muntilan 1 truk di toko bahan bangunan PP di Jl Kedungmundu Raya 4 B. Pertama pesan kami sudah dibuat agak kecewa, karena pasir yang saya pesan diberikan kepada orang lain.

Memang beberapa hari kemudian pasir datang dalam keadaan bagus dan saya puas. Tetapi pesanan pasir kali kedua sangat mengecewakan. Pasir seperti abu gosok, banyak akar dan krakalnya. Saya pesan sekali lagi dengan permintaan berkali-kali agar pasirnya jangan seperti yang kedua.

Eeee ternyata lagi-lagi kecewa karena pasirnya terlalu banyak menghabiskan semen, juga banyak akar. Saya jadi dirugikan apalagi truk itu merusakkan pondasi taman di depan rumah saya. Saya kan beli dengan uang sekian ratus ribu rupiah bukan minta cuma-cuma, kok barangnya tidak memuaskan.

Toko tersebut tidak bertanggung jawab dan pelayanannya kurang memuaskan. Saya seribu kali kapok tidak akan beli ke toko itu lagi. Kiranya pembaca hati-hati kalau beli pasir, cukup saya saja yang mengalami.

Sarini
Jomblang, Semarang


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA