
| Rabu, 3 September 2003 | Tajuk Rencana |
Laju Pertumbuhan Mestinya di Atas Inflasi- Bulan-bulan rawan inflasi akan segera datang. Inilah salah satu tantangan bagi pemerintah, yakni bagaimana agar inflasi tetap terkendali dan lebih menurun lagi. Selama Agustus tercatat 0,84 persen yang berarti naik relatif tinggi dibandingkan dengan Juli lalu yang hanya 0,03 persen. Namun secara akumulatif laju inflasi selama Januari sampai Agustus 2003 masih rendah hanya 2,11 persen, sementara year on year yakni akumulasi Agustus 2002-Agustus 2003 mencapai 6,36 persen. Angka-angka itu cukup melegakan karena ada kecenderungan inflasi makin menurun. Walaupun bulan Agustus inflasinya agak naik dibandingkan dengan periode yang sama tahun-tahun sebelumnya, namun secara akumulatif pada tahun berjalan, masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2002 maupun 2001 yang tercatat 5,6 persen dan 7,48 persen. - Bila sampai akhir tahun ini laju inflasi bisa ditekan hingga sekitar 6 persen, maka itu merupakan prestasi yang cukup baik dalam upaya menjaga kestabilan moneter. Dan dalam perhitungan di atas kertas hal itu bukan tidak mungkin dicapai asalkan dalam bulan-bulan rawan inflasi mulai September hingga Desember mendatang tetap ada upaya meredam kenaikan harga-harga barang maupun jasa. Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Soedarti Subakti, kenaikan laju inflasi Agustus 2003 terutama dipicu oleh kenaikan harga pada kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga yang mencapai 7,82 persen. Sedangkan kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau yang selama ini banyak menyumbang inflasi terbesar malahan mengalami deflasi minus 0,11 persen. Hal itu barangkali terkait dengan musim pendaftaran dan liburan sekolah. - Faktor-faktor yang mulai mendorong kenaikan laju inflasi misalnya bencana kekeringan yang akan berdampak pada penurunan hasil pertanian seperti beras. Padahal, seperti diketahui pengaruh komoditas pangan dalam inflasi amat signifikan. Seberapa parah tingkat kekeringan yang dihadapi akan menentukan seberapa kuat tekanan terhadap kenaikan harga pangan, terutama beras. Di samping kekeringan, ada siklus tahunan yang segera akan dihadapi, yakni pada saat bulan Puasa dan hari Idul Fitri yang jatuh pertengahan Oktober. Dalam waktu singkat akan disusul hari Natal dan Tahun Baru. Itulah masa-masa rawan yang patut diwaspadai. Kita sudah berpengalaman dalam hal ini terutama menjaga pasokan kebutuhan bahan pokok. Apabila fungsi tetap berjalan, maka kemungkinan inflasi tak membahayakan. - Secara umum kestabilan moneter sudah terjaga. Rendahnya angka inflasi adalah salah satu indikator penting. Di samping penurunan suku bunga bank dan menguatnya kurs rupiah. Indikator makro seperti itulah yang menjadi salah satu prestasi tim ekonomi dalam kabinet sekarang terlepas dari beberapa kelemahan yang juga dimilikinya. Bahkan, ketika terjadi teror bom di Hotel JW Marriott, dampaknya terhadap pasar uang dan pasar modal tak begitu terasa. Ini menandakan perilaku pasar sudah makin matang dalam arti tidak mudah terpengaruh oleh peristiwa sesaat. Dan yang lebih penting adalah kepercayaan terhadap kemampuan pemerintah untuk mengatasi. Masalahnya seberapa jauh kestabilan moneter akan memberi manfaat bagi pertumbuhan ekonomi, itulah yang masih menjadi pekerjaan rumah. - Kendati inflasi rendah, suku bunga bank menurun dan indeks harga saham tak membaik, peningkatan kegiatan ekonomi di sektor riil belum begitu besar. Termasuk investasi dan ekspor sebagai tulang punggungnya. Indikatornya dapat terlihat pada laju pertumbuhan ekonomi yang baru berkisar 3-4 persen per tahun. Laju pertumbuhan sekecil itu jelas kurang memadai terutama untuk menyerap pertambahan angkatan kerja secara nasional. Karena itu, perlu kiranya diingatkan menjaga stabilitas moneter dan menahan laju inflasi penting, namun tidak cukup hanya sampai di situ. Sampai pada batasan tertentu inflasi rendah baik, tetapi kalau terus menurun hingga menjurus ke deflasi juga kurang baik karena menggambarkan kemerosotan gerak perekonomian. Hasil akhirnya yang terpenting dan itu tidak lain pertumbuhan ekonomi. - Pada masa Orde Baru kombinasi antara kestabilan moneter dan pertumbuhan ekonomi tinggi relatif terjaga. Sayang waktu itu pertumbuhan kurang dilandasi oleh fundamen yang kuat karena defisit perdagangan masih besar dan ketergantungan pada impor serta utang luar negeri amatlah tinggi. Dalam soal utang kita sudah lampu merah, artinya sudah melampaui batas kewajaran atau batas keamanan. Pada masa sekarang kestabilan moneter sudah tepat, tetapi masih diperlukan langkah-langkah untuk mempercepat gerak di sektor riil demi peningkatan produksi dan pertumbuhan. Di sinilah kendala-kendala yang ada baik yang bersifat ekonomi maupun nonekonomi perlu diatasi. Bagaimanapun kestabilan moneter dan terkendalinya inflasi sudah merupakan modal yang baik. Tetapi laju pertumbuhan mestinya di atas inflasi. |