logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 3 September 2003 Sala  
Line

Pendirian Pura Mangkunegaran

Ilham tentang Pulihnya Kebesaran Majapahit

ENAM BELAS tahun sudah Raden Mas (RM) Said melawan Keraton Kasunanan Surakarta, Keraton Kasultanan Yogyakarta, dan Kompeni (Belanda). Namun, peperangan belum memperlihatkan tanda segera berakhir.

Putra Pangeran Mangkunagoro (anak Sunan Mangkurat IV) itu pun harus menghabiskan hidup di hutan dan kampung-kampung yang jauh dari kota praja. Suatu saat, ketika bersama pasukannya beristirahat di Ngendo, Garesan (salah satu wilayah Kasultanan Yogyakarta), dia memperoleh ilham.

"Kebesaran Majapahit pulih kira-kira 200 tahun kemudian," begitu kira-kira bisikan gaib yang dia terima.

Karena memercayai ilham itu, RM Said menuruti permintaan Sunan Paku Buwono III yang berkali-kali mengajaknya kembali ke Surakarta untuk berunding bersama Kompeni dan Sultan. Pada 14 Februari 1757 dia bertemu Sunan Paku Buwono III dan Gubernur Hartingh dari Kompeni di Grogol.

Perundingan itu, sebagaimana terungkap dalam buku Karya Budaya KGPAA Mangkunagara I-VIII karangan Prof Dr Suwaji Bastomi, mengakhiri pengembaraan RM Said.

Cikal Bakal

Dalam buku itu disebutkan pula, dalam perundingan kedua di Salatiga, 17 Maret 1757, tuntutan RM Said dipenuhi dalam sebuah perjanjian yang terkenal dengan nama Perjanjian Salatiga. Hadir dalam perundingan itu antara lain Patih Pringgalaya sebagai wakil Sunan Paku Buwono III, Sultan Hamengku Buwono dari Keraton Kasulatanan Yogyakarta, dan Hartingh.

Perjanjian Salatiga menjadi cikal bakal pendirian Pura Mangkunegaran. RM Said diangkat menjadi adipati dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario (KGPAA) Mangkunagoro I. Dia diberi kekuasaan atas wilayah Nglaroh, Keduwang, Metesih, Pacitan, dan daerah pegunungan selatan. Dia juga diizinkan mengadakan upacara dengan berbusana kebesaran lebih mewah daripada adipati yang lain.

Berbekal kekuasaan itu, KGPAA Mangkunagoro I mendirikan sebuah istana di sebelah baratdaya Keraton Kasunanan. Istana itu diberi nama Pura Mangkunegaran.

Dalam perkembangan, pura yang sekarang berada di Jalan Ronggowarsito (di sebelah utara Pasar Pon) Surakarta itu masih berdiri tegak berikut kehidupan istananya. Pemimpin Pura Mangkunegaran sekarang bergelar KGPAA Mangkunagoro IX.

Meski demikian, seiring dengan pelimpahan aset ke negara kesatuan Republik Indnesia setelah proklamasi kemerdekaan, otoritas Pura Mangkunegaran tak lagi seperti dulu. Status kekuasaan wilayah di luar istana pun beralih ke negara. Itulah perjalanan panjang Pura Mangkunegaran. (Wisnu Kisawa-83g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA