logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 3 September 2003 Sala  
Line

Kekeringan di Lahan Pasang Surut Kedungombo

Sebagian Warga Terpaksa Merantau ke Kota

KONDISI kering pada musim kemarau ini tampaknya tidak lagi bersahabat. Kawasan genangan Waduk Kedungombo di Kecamatan Kemusu, Boyolali ikut-ikutan mengering. Dampaknya, lahan pertanian di lahan pasang surut gagal panen.

Warga Kedungombo hanya bisa gigit jari melihat tumpuan hidupnya gersang dan mati. Salah seorang warga Kedungombo, Yono (38), Minggu lalu mengatakan, sejak proyek Waduk Kedungombo dibangun sebelas tahun lalu warga memanfaatkan lahan pasang surut. Pemanfaatan lahan pasang surut sebenarnya tidak dilarang, karena menimbulkan sidementasi atau pengendapan lumpur. Bila tingkat pengendapannya tinggi, berdampak pada usia waduk.

Namun, kebiasaan menanam padi di lahan pasang surut tampaknya sulit dikendalikan. Warga tetap menanam padi dengan konsekuensi jika tiba-tiba genangan meningkat, harus merelakan tanamannya hancur. Sebaliknya, bila kekeringan berkepanjangan harus legawa tanamannya mati dan tak bisa dipanen.

''Seperti yang terjadi pada musim kemarau ini, tanaman padi di lahan pasang surut mati akibat kekeringan yang berkepanjangan. Lahan pertanian tak lagi mendapat air dari genangan waduk. Inilah risiko yang harus saya hadapi,'' katanya.

Terus Merembes

Pendamping warga Kedungombo, Boyamin, mengungkapkan, kekeringan di Kedungpring dan Kedungombo kali ini memang benar-benar menimbulkan penderitaan warga. Sejak tak ada hujan lahan pertanian di kawasan Kedungombo, yakni Dukuh Tremes, Mlangi dan Kedungpring benar-benar mengering.

Air genangan yang diharapkan mengairi lahan pertanian ternyata bablas (hilang-Red). Artinya, air genangan terus merembes ke bawah, sehingga kondisi lahan pertanian pasang surut di ketiga dukuh itu mengering.

''Dampaknya tanaman padi mati, sehingga tak bisa dipanen,'' tandasnya.

Luas tanaman padi di lahan pasang surut, lanjut Boyamin, mencapai ratusan hektare. Umur tanaman padi baru satu bulan. Karena tak ada pengairan batang tananam padi berubah kekuning-kuningan dan akhirnya mati.

Kondisi tanaman padi seperti itu menjadikan warga Kedungombo harus mencari penghasilan lain. Sebagian warga terpaksa harus merantau ke kota dan bekerja sebagai buruh bangunan. Juga menjadi tukang ojek atau pekerjaan lain yang mendapatkan penghasilan.

Musim kemarau tahun ini memang benar-benar tidak bersahabat. Selain tanaman padi di lahan pasang surut, puluhan ekor sapi potong bantuan Gubernur Jateng terancam mati akibat kekurangan air bersih. Kekeringan juga mengakibatkan puluhan sumur pantek bantuan Gubernur Jateng tak bisa difungsikan.

''Kekeringan yang berkepanjangan menjadikan warga Kedungpring yang tinggal di tanah Perhutani menderita. Karena itu, warga meminta Bupati agar memberikan bantuan pompa air tenaga listrik,'' tambah Boyamin.(Suti Harjoyo-14k)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA