logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 3 September 2003 Olahraga  
Line

Catatan dari Indonesia Terbuka (2-Habis)

Diperlukan Keterlibatan Pemerintah dalam Pembibitan

DARI turnamen Indonesia Terbuka atau dari event lain, rasanya kita pesimistis bahwa bulutangkis Indonesia akan berjaya seperti masa-masa sebelum ini. Kebanggaan yang masih tersisa adalah Indonesia sebagai pemegang Piala Thomas, yang terakhir direbutnya tahun lalu di Guangzhao, Cina, setelah di final mengalahkan Malaysia. Ini merupakan juara lima kali berturut-turut.

Tetapi jika melihat regenerasi yang sangat lambat, sulit bagi Indonesia untuk bisa mempertahankan reputasi sebagai negara bulutangkis. Paling tidak dalam tiga tahun mendatang andalan kita masih pada Taufik Hidayat, ganda Candra Wijaya/Halim Haryanto, Sigit Budiarto/Tri Kushajanto, Flandy Limpele/Eng Hian. Pelapisnya, Sony Dwi Kuncoro, Taufiq Akbar Hidayat, dan Alven Yulianto/Luluk Hadiyanto masih memerlukan waktu untuk pematangan.

"Kita harus prihatin minimal dalam dua-tiga tahun ke depan. Kecuali ada peningkatan prestasi yang luar biasa dari para pemain muda itu, baru ada harapan," tutur pelatih tunggal putra Joko Supriyanto.

Hal senada juga dikemukakan pelatih ganda putra Hery Iman Pierngadi. Dia pun kesulitan untuk membuat formasi ganda terbaik karena keterbatasan materi. Jalan terakhirnya, mengacak pasangan. Jalan ini diambil sekadar menghindari kejenuhan pasangan itu. Sebab dengan pasangan baru, menurutnya, semangat pemain juga baru lagi.

Kondisi itu, mau tak mau memaksa kita - pembina, pemerintah, masyarakat, dan sekolah - untuk ikut aktif melakukan pembibitan. Sebab hanya dengan didapatkannya bibit-bibit unggul pemain bulutangkis itulah, pembinaan yang dilakukan akan membuahkan hasil bagus.

Tidak Bisa Instan

Untuk mengatasi mandeknya prestasi itu, tidak bisa dilakukan dengan instan. Pemain-pemain yang ada saat ini sudah bisa dilihat seberapa tinggi prestasi yang bakal dicetaknya.

Kini yang harus dilakukan PB PBSI adalah pembinaan bibit-bibit pemain muda yang prestasinya baru bisa diharapkan pada 8 - 10 tahun mendatang. Bibit-bibit ini hanya ada pada sekolah dasar (SD). Untuk ini pun, PBSI tidak bisa bekerja sendiri, tetapi keterlibatan pemerintah sangat dibutuhkan.

Selama ini pemerintah, melalui Departemen Pendidikan Nasional, sangat sedikit peranannya. Mereka sekadar menggelar Pekan Olahraga Pelajar (POP). Namun out put dari sana tidak tergarap dengan baik. Justru peranan orang tua yang rajin memasukkan anaknya ke klub-klub yang patut mendapat acungan.

"Pembinaan di sekolah harus menjadi fondasi pembinaan olahraga nasional. Demikian juga dengan bulutangkis, pemerintah harus memiliki kebijakan dan pelaksanaan," tutur maestro bulutangkis Rudy Hartono.

Menurut juara All England delapan kali ini, jika tidak ada keterlibatan dan penanganan serius dari pemerintah, olahraga Indonesia akan makin terpuruk di kancah internasional. "Lihat saja kita sudah dilewati Thailand dan kini malah Malaysia mengungguli kita di SEA Games," ungkapnya.

Dicontohkannya, di Amerika Serikat pemandu bakat dari pemerintah mencari bibit-bibit atlet lewat sekolah-sekolah. Karena itulah, dia tidak kaget jika prestasi olahraga di negeri Paman Sam itu selalu di puncak.

Sementara Joko kini merasa kehilangan event di daerah yang mempertandingkan atlet yunior. Diceritakannya, ketika dia masih SD hingga SLTP di Solo dan sekitarnya setiap tahun ada sedikitnya empat kali event dalam setahun. Dengan seringnya bertanding, maka potensi atlet akan terus terasah dan out put-nya adalah prestasi bagus.

"Sekarang klub-klub kecil yang membina bulutangkis sudah hilang. Kalau di Jawa Tengah, saya rasa hanya Djarum yang masih eksis. Yang saya rindukan adalah klub-klub kecil kembali bergairah," ungkapnya.

Namun Joko pun merasakan kurangnya perhatian dari pemerintah dalam pembinaan olahraga. Belum ada program dari pemerintah yang bisa menggairahkan pemuda-pemuda untuk berprestasi di bidang olahraga. Apalagi rata-rata masa depan atlet kurang cerah. "Bagaimana orang tua akan bangga mengarahkan anaknya jadi atlet, jika setelah usia 30-an tahun anaknya belum bekerja karena sibuk olahraga," tegasnya.

Pemegang medali emas ganda putra Olimpiade Candra Wijaya pun menyebut penghargaan pemerintah kepada olahragawan sangat minim. Sebagai pemegang emas, yang nota bene mengumandangkan "Indonesia Raya" di Olimpiade, dia merasa tidak bangga terhadap penghargaan dari pemerintah.

"Bukan bonus yang saya harapkan, melainkan penghargaan yang lebih fenomenal belum saya rasakan. Inilah yang harus diperbaiki dari pemerintah," katanya. (Darjo Soyat-57t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA