logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 3 September 2003 Berita Utama  
Line

Bisnis Kos-kosan di Semarang (1)

Awalnya Anak Sekolah, Sekarang ....

TERTUTUP: Rumah kos yang digerebek Sabtu (30/8) di Jalan Siliwangi Semarang nampak sepi. Pagar pintu gerbang tertulis ''pintu tutup pukul 24.00." (69)

SEJALAN perkembangan Kota Semarang, bisnis kos-kosan muncul di mana-mana. Hampir di setiap lokasi yang berdekatan pabrik, pusat perbelanjaan, dan kampus atau perguruan tinggi bermunculan rumah kos. Sabtu lalu jajaran Polwan Poltabes Semarang menggerebek sejumlah kos-kosan di Kota Semarang yang diduga dipakai praktik bisnis mesum. Bagaimana kondisi bisnis itu sebenarnya ? Wartawan Suara Merdeka Karyadi, Purwoko Adi Seno, dan Aris Mulyawan menulis laporan dalam tiga seri mulai hari ini.

''NOMOR 502, O...sudah banyak yang tahu. Di sekitar sini, kos nomor 502 sudah terkenal,'' tutur seorang pria yang mengaku bernama Bontot (45), warga Jalan Muradi ketika ditemui Suara Merdeka siang itu. Sembari memperbaiki mesin motor di depan rumahnya, dia terus nyerocos membicarakan soal rumah kos itu.

''Sekarang ini, kos-kosan itu sudah berubah kesannya. Tidak seperti pada awal berdirinya. Sekarang bebas, campur antara laki-laki dan wanita dalam satu kos. Penghuni wanitanya juga dikenal sebagai wanita simpanan,'' tambahnya.

Begitu kesan beberapa warga terhadap angka 502. Tidak hanya orang-orang tertentu saja, namun juga para tukang becak dan pemilik warung di sekitar kos itu pun mengetahui tempat yang dikelola seorang wanita keturunan Tionghoa itu. Tanya saja mereka nomor 502. Pasti akan menunjuk ke sebuah kos-kosan di Jalan Siliwangi yang pernah dirazia Polwan Poltabes, Sabtu (30/8) lalu.

Menurut keterangan sejumlah warga, sekitar 1975-an, bangunan di sana adalah pabrik kertas karton. Saat itu pabrik dikelola salah seorang keturuan Tionghoa yang biasa dipanggil Koh Han. Namun beberapa tahun kemudian, Koh Han meninggal dunia. Pabrik kertas kemudian berhenti berproduksi. Setelah itu bangunan milik Koh Han dikelola kakaknya, berinisial S (61).

Beberapa pemanfaatan gedung itu pernah dicoba, toh gagal juga. Hingga sekitar awal 1990-an, gedung itu difungsikan sebagai rumah kos bagi para pendatang. Awalnya beberapa pasang suami-istri dan beberapa anak sekolah sebagai penghuni kos tersebut. Bersama waktu bergulir, penghuni pun berganti dan ada yang ke luar dan masuk. ''Dulu kos-kosan itu hanya untuk wanita dan pasangan suami istri. Bahkan juga sejumlah anak-anak sekolah. Tapi setelah orang-orang lama itu ke luar, kini malah dimasuki wanita-wanita simpanan,'' kata Bontot.

Keberadaan kos ''mesum'' itu, ternyata tidak pernah diributkan warga sekitar. Alasannya, aktivitas para penghuni kos itu tidak pernah mengusik ketenangan warga. Posisi rumah kos itu berada di tepi jalan raya, dan pintu menghadap ke jalan raya. ''Jadi kalau ada tamu penghuni kos yang naik motor atau mobil, tidak sampai mengganggu warga. Di sini warga tidak terlalu memperdulikannya,'' katanya, Anti (35), seorang warga Kalibanteng Kulon lainnya.

Menurut Anti, keberadaan kos-kosan itu sebenarnya pernah disorot warga. Namun akhirnya tidak dihiraukan lagi. Kini, hanya menjadi bahan pergunjingan semata. ''Umumnya mereka adalah pasangan yang tetap. Tetapi wanitanya merupakan wanita simpanan. Hanya sebagian kecil saja yang merupakan pasangan resmi. Usianya wanita-waita itu berkisar 18 sampai 30 tahun. Sedangkan prianya umumnya para om-om,'' katanya.

Meski begitu, mereka santun dalam bergaul. Penampilan mereka bersih dan sikap mereka sopan-sopan, dan cara bicaranya halus. Misalnya, lanjut dia, tidak pernah ke luar dari mulutnya kata-kata kasar. Para wanitanya umumnya bekerja di sejumlah diskotik dan kafe.

Mereka biasanya berangkat kerja sore dan pulang pagi sekitar pukul 03.00. Sedangkan kalau pagi hingga sore tidur di kos. Lantas di mana mereka ''melayani'' pasangannya? ''Saya tidak mengetahui ya. Entah di kamar kos atau di tempat lain, seperti hotel saya tidak tahu,'' tegasnya.

Pintu Kos

Sementara itu, ketika jam menunjukkan sekitar pukul 14.00, pintu kos itu terbuka lebar. ''Terima cuci mobil, Wijaya Service''. Begitu bunyi salah satu tulisan yang tertera di pintu gerbang lorong yang diketahui sebagai rumah kos di Jalan Siliwangi itu.

Kesan pertama ketika memasuki melewati pintu tersebut adalah lengang. Tidak ada tumbuhan besar yang menghias kanan-kiri lorong pintu masuk. Hanya pagar tembok yang kukuh dan kuat yang terlihat. Sedangkan lurus ke depan terlihat pintu dan jendela yang tertutup kain gorden warna putih.

Tepat di depan rumah kos tersebut adalah kamar milik pengelola kos, tante S (61). Masuk lagi ke arah selatan terlihat beberapa kamar berjajar. Ketika memandang lurus ke timur terlihat tempat pencucian mobil yang kini mangkrak. Di sampingnya terdapat beberapa peralatan pencucian mobil.

Seperti di lingkungan permukiman pada umumnya, beberapa ayam mencari makan dan kejar-kejaran. Terlihat pula seorang wanita muda cantik tengah menyapu dedaunan di halaman. Sedangkan di teras sejumlah wanita berkulit kuning bersih tengah bercengkrama.

Mereka mengenakan gaun seadanya. Berkaus dan celana pendek ketat. Sebagian lagi mengenakan celana pendek baby dol dengan gaun atas mengenakan singlet bermotif bunga-bunga cerah. Rambut lurus terurai panjang ditiup angin sepoi-sepoi membuat wanita itu tampak ayu. Usia mereka berkisar 18-30 tahun. Meski hanya mengenakan gaun seadanya, tubuh mereka terlihat cukup terawat.

Sambil menyantap semangkuk mi ayam, mereka saling ngobrol dan canda. Satu di antara mereka tampak menggendong dan menyuapi anak balita. Beberapa laki-laki tampak berlalu lalang di antara mereka yang tampak tidak menghiraukan sekelilingnya. Meski terkesan cuek, mereka tampak saling kenal.

Pemandangan seperti itu selalu berlangsung setiap hari. Mereka melakukan aktivitasnya secara wajar seolah tidak ada persoalan yang melilitnya. Meski mereka dinilai sebagai salah satu komunitas yang menyimpang, toh seperti tidak menghiraukan.

Sekitar pukul 15.30, mereka masuk ke dalam kos. Tak lama kemudian ke luar dengan menenteng handuk menuju kamar mandi. Suara Merdeka yang bertandang ke sana berusaha menemui pemilik kos, Ny S (61). Namun seorang pembantu mengatakan kalau majikannya sedang tidur.

Suara Merdeka kemudian menemui salah seorang laki-laki penghuni kos, bermata sipit berkulit kuning. Setelah saling berkenalan, laki-laki berinisial A (40) itu mengaku, baru beberapa bulan kos di tempat tersebut.

Dia menyatakan, tidak akan menghiraukan omongan warga sekitar. Bagi dia setelah permintaan pemilik kos terpenuhi, maka selesai permasalahan. ''Kami kos di sini resmi, dan lapor ke RT,'' katanya.

Untuk itu, di tengah sorotan warga sekitar, dia mengaku, pasrah saja. Yang jelas selama ini dia merasa terbantu dengan kos tersebut, karena sampai saat ini belum bisa membeli rumah sendiri. ''Tante sudah mempersipakan persyaratan-persyaratannya,'' tegasnya.

Bagi dia, ada batasan yang tidak bisa ditembus pemilik kos dengan penghuni kos. Yaitu ketika persoalan menyangkut pribadi. Apalagi pada dasarnya para penghuni adalah orang dewasa yang sudah bisa menentukan nasibnya sendiri.

Ditanya mengenai perbuatan mesum yang kerap kali dilakukan sebagian penghuni kos itu, dia justru balik bertanya mengenai konotasi perbuatan mesum. Menurutnya, apa yang dilakukan penghuni kos itu tidak seperti di tempat lokalisasi. Alasannya, mereka melakukan itu bersama pasangannya saja, tidak berganti-ganti.

''Kalau berganti-ganti pasang, itu kan sudah mirip dengan lokalisasi. Tetapi ini kan tidak seperti itu. Apakah anda bisa mengatakan kalau mereka dengan pasangannya terus dikatakan untuk transaksi seksual? Itukan sama seperti anda kos di sini sama pasangan anda,'' tanyanya.

Belum selesai pembicaraan, tiba-tiba Tante ke luar menemui Suara Merdeka. Di sela-sela pembicaraan itu, dia meminta kepada Suara Merdeka agar tidak memberitakan soal kosnya. Alasannya, soal itu tidak perlu dilanjutkan lagi. ''Saya kira ti1dak perlu diperpanjang,'' pintanya.

Ditanya mengenai tempat kosnya yang menjadi sasaran razia, dia balik bertanya. ''Yang dirazia itu apanya. Di sini yang kos itu sudah baik-baik. Mereka sudah pulang semua, wong tidak melakukan apa-apa di sini,'' tuturnya. (69)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA