
| Rabu, 3 September 2003 | Berita Utama |
Erwin Mappaseng :Dana Bom di Indonesia dari Al QaedahJAKARTA- Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Kabreskrim) Polri Komjen Erwin Mappaseng mengatakan, dana pengeboman di Indonesia yang diterima oleh Hambali berasal dari Al Qaedah. ''Mereka (pengebom-Red) mengontak Al Qaedah lewat Hambali.'' Hal itu dikemukakan Erwin Mapasseng di Departemen Sosial Jakarta, kemarin. Namun, dia mengaku belum tahu jalur uang hingga ke tangan Hambali. Seperti diberitakan, Hambali mengirimkan uang 45.000 dolar AS atau lebih kurang Rp 382 juta untuk berbagai aksi pengeboman di Indonesia. Uang itulah yang disebut Erwin Mapasseng berasal dari Al Qaedah, organisasi teroris yang dituduh bertanggung jawab terhadap beberapa aksi pengeboman di dunia termasuk tragedi WTC. Sampai saat ini, Polri masih melacak jalur pengiriman uang itu hingga ke Indonesia. ''Kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia sedang kami lakukan. Demikian pula kontak sudah dilakukan dengan beberapa negara yang diduga menjadi tempat pengiriman uang,'' rincinya. Biasanya, ujar Erwin, setelah Hambali me-nyetujui suatu proyek pengeboman, dia akan segera mengirimkan uang lewat berbagai cara. ''Sebagai contoh bom Bali, Hambali mengirimkan uang kepada Muchlas lewat Wan Min, warga Malaysia.'' Selanjutnya, Muchlas membagi-bagi uang itu kepada teman-temannya di Indonesia lewat berbagai cara, termasuk transfer bank dalam jumlah yang tidak terlalu besar. ''Supaya tidak mencurigakan,'' kata Mappaseng. Bersama Hambali Sementara itu untuk kasus peledakan bom di Hotel JW Marriott, lanjut Mapasseng, yang baru dapat dipastikan dananya diberikan Hambali kepada Lilik, warga Malaysia, dalam bentuk tunai. Lalu Lilik mengantarkan uang itu kepada seorang warga Indonesia yang dikenal di Malaysia. Hanya saja belum dapat dipastikan, bagaimana cara uang itu masuk ke Indonesia, apakah dalam bentuk tunai atau transfer bank. ''Ini yang masih kami lacak,'' ungkap Kabareskrim Polri. Kabut yang menyelimuti jalur pengiriman uang itu, kata Mapasseng, kemungkinan akan tersingkap bila tersangka lain, seperti Tohir dan Noordin Mohdtop tertangkap. Adapun keterangan dari Lilik belum bisa didapatkan, mengingat dia masih ditahan bersama Hambali. Pada kesempatan itu, Erwin juga menekankan, sampai saat ini kaitan Hambali dengan peledakan bom di JW Marriott belum jelas, sebab Polri belum dapat menangkap Noordin Mothtop dan Dr Azahari. Di samping itu, bahan peledak Marriott yang singgah dari Lubuk Linggau ke Lampung juga belum diketahui cara pengirimannya ke Jakarta. ''Kuncinya ada pada Azahari, Noordin Mothtop, dan Tohir. Kalau mereka tertangkap, itu jelas,'' tuturnya. Siapa pengganti Hambali? ''Di markasnya, Hambali hanya ketua operasional. Jangan lihat kepalanya, karena sudah kocar-kacir. Sekarang siapa yang bisa memimpin ya Azahari dan Noordin,'' papar lagi. Saat ini, Polri telah dapat mengidentifikasi seorang pembeli mobil yang berkaitan dengan kasus peledakan bom di Marriott. ''Orang tersebut sudah dikejar dan kami belum memublikasikan. Jadi, beri kesempatan Polri untuk bekerja,'' demikian Erwin Mappaseng. Polri Menjamin Sebelumnya, Kapolri Jenderal Da'i Bachtiar menegaskan, Polri sebagai penanggung jawab di bidang keamanan negara akan berusaha sekuat tenaga melindungi penduduk termasuk warga negara asing (WNA) di Indonesia. Hal itu disampaikan Kapolri ketika diminta tanggapannya soal travel advisory dari Australia kepada warganya yang berada di Indonesia. Kapolri menilai, soal kebijakan pemerintah Australia terhadap warganya berkaitan dengan pembacaan vonis terhadap Abu Bakar Ba'asyir merupakan kompetensi dari suatu negara untuk mengatur warganya di mana pun berada. ''Namun kami selalu berusaha memberi jaminan keamanan kepada siapa pun, termasuk warga negara asing, yang berada di Indonesia,'' tandasnya. (bu-69j) |