logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 3 September 2003 Berita Utama  
Line

Sukhoi Didanai dari Minyak

JAKARTA -Dana untuk pembelian pesawat tempur Sukhoi dari Rusia akan diambil dari penerimaan minyak dan pendapatan dalam negeri lainnya, bukan dari cadangan umum. Hal itu dikatakan Ketua Panitia Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Abdullah Zainie di Jakarta, Selasa.

Menurut Zainie, semula pemerintah memang mengusulkan dana pembelian Sukhoi Rp 690 miliar diambil dari dana cadangan umum APBN 2003. Sedangkan sisanya Rp 1,2 triliun akan dianggarkan dalam APBN 2004. ''Tapi itu tidak tepat,'' katanya.

Pengambilan dana untuk pembelian Sukhoi, kata dia, tidak ada dananya di APBN. Karena itu, panitia anggaran akan membahasnya bersama pemerintah sebelum menyetujui pembayaran untuk membeli pesawat canggih buatan Rusia itu.

Pos cadangan umum, lanjut dia, tidak tepat jika diambil untuk membeli Sukhoi, karena pos tersebut disediakan untuk menanggulangi bencana alam dan kebutuhan mendesak lainnya. ''Tidak untuk Sukhoi,'' kata dia, seraya menambahkan, dana tersebut akan diambil dari penerimaan dalam negeri, seperti keuntungan penerimaan minyak, laba pajak, dan pendapatan lainnya.

Pengambilan anggaran itu, tambahnya, tidak ada pilihan meski diprediksi pendapatan negara tidak akan mencapai target, seperti yang tertuang dalam APBN 2003. ''Tegasnya tidak mungkin dana itu diambil dari penerimaan luar negeri atau pos lainnya,'' kata dia.

Menteri Keuangan Boediono juga belum memastikan dari mana dana untuk pembelian Sukhoi akan diambil. ''Tapi kami sudah mengajukan pilihan untuk pengucuran dana tersebut. Keputusannya terserah anggota Dewan,'' katanya.

Zainie menambahkan, dana yang diambil dari APBN tersebut juga akan dipakai mengganti uang muka yang sudah dibayarkan Bulog sebesar 41 juta dolar AS. Harga empat jenis pesawat tersebut 192,9 juta dolar AS. Namun persoalan dengan Perum Bulog akan diselesaikan antara lembaga itu dan pemerintah. ''Kami (DPR-Red) kan hanya menyetujui anggarannya,'' katanya.

Rapat Kerja

Sementara itu, rapat kerja antara Komisi I DPR, khususnya Panitia Kerja (Panja) Sukhoi DPR, dengan pemerintah yang berakhir Senin malam menghasilkan lima kesimpulan sementara. Pertama, Panja Sukhoi memahami kebutuhan TNI untuk meningkatkan alat utama sistem pertahanan, termasuk pengadaan Sukhoi. Tapi sesuai dengan Undang-undang No 3 Tahun 2003 tentang Pertahanan Nasional, harus dilakukan oleh Departemen Pertahanan.

Kedua, pengadaan Sukhoi tidak sejalan dengan undang-undang, APBN, dan Undang-undang Pertahanan Negara, sehingga pengadaannya menimbulkan kerancuan. Ketiga, DPR memahami pengadaan Sukhoi melalui sistem imbal-dagang untuk meningkatkan hubungan bilateral kedua negara dan pertahanan nasional.

Keempat, Komisi Pertahanan meminta Panitia Anggaran DPR mencari solusi atas permasalahan itu. Kesimpulan terakhir, Komisi Pertahanan meminta dalam imbal-dagang pengadaan Sukhoi itu melibatkan badan usaha milik negara dan koperasi. Proses imbal dagangnya pun harus transparan.

Di tempat terpisah Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto menegaskan, pihaknya akan tetap mengajukan pengadaan pesawat tempur Sukhoi sebanyak satu skuadron kepada pemerintah menyusul saling pengertian antara pemerintah dan DPR mengenai prosedur pembelian pesawat itu.

''TNI akan tetap mengajukan tambahan pengadaan pesawat Sukhoi,'' kata dia, seraya mengatakan, TNI tidak mempersoalkan bagaimana pengadaan itu dilakukan pemerintah.

Bagi TNI, kata dia, adalah bagaimana ketersediaan peralatan sistem pertahanan (alutsista) memadai. Semua itu perlu guna menunjang tugas dan kewajiban TNI menjaga kedaulatan dan keutuhan bangsa dan negara Indonesia. ''Kami tidak mempersoalkan, bagaimana pengadaan itu dilakukan, apakah dengan imbal-dagang atau dengan cara lain, yang penting bagi kami adalah ketersediaan alutsista yang memadai, termasuk pengadaan pesawat tempur Sukhoi sebanyak satu skuadron,'' tegasnya.

Ketika ditanya apakah pengajuan tersebut dilakukan pada 2004, Endriartono mengemukakan, belum akan dilakukan pada tahun depan mengingat keterbatasan dana pemerintah untuk pengadaan satu skuadron jet tempur buatan Rusia itu.

Empat pesawat Sukhoi, masing-masing dua SU27SK dan SU30MK telah tiba di Pangkalan Udara Utama Iswahjudi Madiun. Keempat pesawat itu akan dirakit dan diujicobakan di Lanud Iswahjudi untuk segera diserahterimakan dari Pemerintah Rusia kepada Indonesia.(tri-69t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA