
| Rabu, 3 September 2003 | Berita Utama |
"Poligami Itu Sing Penting Boyoke..."
SUASANA yang tercipta pada Pengajian Interaktif Qolbun Salim di ruang Rama-Shinta Hotel Patra Semarang, Senin (1/9) malam memang benar-benar interaktif. Baku tohok pembicara, antusiasme tanggapan dari peserta, tak terkecuali kontroversi pemahaman mengenai poligami yang memang menjadi tajuk pengajian malam itu mulai sekitar pukul 20.00, tercipta secara banal, bahkan begitu acara dipungkasi pukul 22.00 dengan sebuah doa penutup khas Qolbun Salim, yakni jamaah berdoa dengan lampu yang dimatikan di ruangan itu. Ada lima pembicara yang dimoderatori KH Supandi. Yakni, KH Noer Iskandar SQ (pengasuh Ponpes As-Shidiqqiyah Jakarta), H Puspo Wardoyo (Presiden Masyarakat Poligami Indonesia yang sekian lama menjadi jurkam paling antusias mengenai persoalan itu), Dra Hj Fatimah Amin Syukur MSi, Hj Munawaroh, dan Dra Ida Budiyati SH LLM. Noer Iskandar, penganut poligami dengan dua istri yang juga anggota FKB DPR, berbicara sebagai pembuka. Dengan nada pelan bervibrasi berat khas kiai, dia menyitir Alquran Surat An-Nisa Ayat 3. Ayat yang sering kali ditafsirkan sebagai anjuran berpoligami dalam Islam. Ketika sang kiai berbicara, belum ada tanda-tanda interaksi. Jamaah masih santun mendengarkan. Pada giliran Ida Budiyati yang memaparkan persoalan hukum perkawinan dalam UU Perkawinan, jamaah masih tetap sebagai pendengar yang baik. Baru ketika moderator memberikan hak bicara pada Puspo Wardoyo, mulai ada selo-rohan dari mereka. "Iki lakone. (Ini tokohnya)". Moderator ikut menimpali, "Pak Puspo itu hebat banget, ya? Bisa nikah dengan empat istri. Mari dengar apa kata dia mengenai dampak poligami." Puspo yang didaulat segera berbicara. Pada beberapa bagiannya, ia lebih banyak menceritakan pengalamannya sebagai pelaku poligami dengan empat istri (Rini Purwanti SE, Supiyati, Anisa Nasution, dan Intan Ratih Tri Laksmi). "Selama ini, kita memang jarang berbicara soal poligami. Kalau diperbincangkan, lebih pada sisi-sisi negatifnya saja. Misalnya, tentang poligami yang lebih selalu menciptakan penderitaan istri dan anak-anak," ujar pemilik puluhan outlet RM Ayam Bakar Wong Solo itu. Kepuasan Seksual Pengajian berubah menjadi serupa "peperangan terbuka" ketika pembicara perempuan giliran menyampaikan gagasan. Bahkan sebelum Fatimah Amin Syukur berbicara, ada teriakan dari peserta, "Enteki wae, Bu (Habisi saja, Bu!)!" Begitu berbicara, nada keras sudah langsung keluar dari mulut Fatimah, "Kalau saya jadi bapak-bapak yang ada di sini, saya harusnya tersinggung, bukannya tertawa mendengar pernyataan Pak Puspo soal lebih banyak lelaki yang selingkuh daripada yang tidak. Pak Puspo bilang poligami untuk mencegah perselingkuhan dan perzinahan. Saya yakin kok, masih banyak suami yang tak masna wa-tsulasa waruba'a (kutipan istilah dari An-Nisa Ayat 3 yang membolehkan mengawini dua, tiga atau empat perempuan-Red), tapi tak selingkuh. Harusnya bapak-bapak marah." Serangan lebih keras ketika Hj Munawaroh tampil. Di awal pembicaraannya, dia mengutip sebuah hadis yang menganjurkan pemuliaan terhadap perempuan, dia bercerita mengenai pengalaman poligami ayahnya. "Saya punya kisah yang bisa dijadikan contoh bahwa orang yang berpoligami pun tak rela apabila anaknya dipoligami. Ayah saya contohnya. Dia punya dua istri. Kami anaknya ada 10 orang dan semuanya perempuan. Saya pernah tanya, 'Ayah, apabila anak-anak Ayah dipoligami orang, apa setuju?' Spontan dia menjawab: 'Jangan!' Itu bukti. Dan yang terpenting, perempuan yang menikah dalam poligami pasti menderita batinnya." Tak cuma itu, secara khusus dia bahkan menohok Puspo Wardoyo. "Kalau boleh saya bilang, Pak Puspo itu penganut freudian (Sigmund Freud, ahli psikoanalisis-Red) yang menganggap sumber kebahagiaan terletak pada kepuasan seksual semata." Puspo hanya tertawa, juga Noer Iskandar. "Belum lagi persoalan keadilan terhadap istri-istri. Rasulullah sendiri sering berdoa dengan sedih untuk mempertanyakan apakah Beliau telah berlaku adil pada istri-istrinya, eh Pak Puspo malah bangga. Pak Kiai Iskandar malah nantang dan bilang, 'Poligami itu sing penting boyoke (yang penting pinggangnya). Saya punya data, orang yang banyak memakai boyok-nya untuk berhubungan seks lebih cepat mati." Tak pelak lagi jamaah spontan tertawa riuh. Noer Iskandar menanggapi itu cukup dengan tertawa. Tapi, perang terbuka antara perempuan dan laki-laki, paling tidak pada para pembicara di pengajian interaktif itu, seolah-olah lalu patah ketika pada sesi interaksi dengan jamaah, seorang mahasiswi menyatakan kesetujuannya pada poligami. "Saya mungkin satu di antara belum banyak perempuan yang sepakat untuk poligami," ujar Zakiyah, mahasiswi FE Unissula Semarang. "Saya memang belum menikah, jadi tak tahu rasanya dimadu. Tapi saya yakin, saya bisa berpoligami. Saya juga tak sepakat dengan pendapat Bu Munawaroh yang menyebut Pak Puspo hanya mengobarkan hasrat seksual saja dalam berpoligami. Saya katakan, kepuasan seksual itu penting. Bu Fatimah sudah saban hari merasakan itu, tapi banyak yang lainnya belum. Kenapa menolak poligami?" Lalu, meskipun tak secara verbal sepakat dengan poligami, seorang penanya laki-laki dari Qolbun Salim melontarkan pertanyaan yang intinya apabila poligami tak diperbolehkan, dia meminta pembicara yang "seolah-olah" menolak untuk memberikan argumentasi untuk mematahkan Surah An-Nisa Ayat 3. Di luar serunya perseteruan gagasan itu, memang tak ada simpulan mengenai poligami. Persoalan itu tetap kontroversial dan selalu menarik untuk diperbincangkan. "Masalah itu memang kontroversial dan menarik membahasnya dalam forum ini. Apalagi beberapa waktu lalu ada Poligami Award," kata Lilik Agus Gunarto, Ketua I Qolbun Salim. (Saroni Asikin-13) | |||||