
| Rabu, 3 September 2003 | Berita Utama |
Pengamanan Sidang Sangat KetatPolisi Terjunkan 1.536 PersonelJAKARTA- Sangat ketat. Begitulah kesan yang muncul dari pengamanan aparat kepolisian pada sidang terakhir Ustad Abu Bakar Ba'asyir di Aula Serbaguna Gedung Meteorologi dan Geofisika (BMG) Kemayoran, Jakarta Pusat, kemarin. Sidang dengan agenda pembacaan vonis terhadap Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) itu mendapat pengamanan 1.536 polisi dari Mabes Polri, Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Pusat serta Polsek Menteng. Mereka terdiri atas Satuan Brimob, Gegana, Unit Reaksi Cepat (URC), Satuan Anjing Pelacak/Penjaga. Mereka disiagakan di ruang sidang, halaman Aula Serbaguna, dan sepanjang Jalan Angkasa. Dua kendaran lapis baja yang dilengkapi dengan water cannon juga tampak disiagakan di lokasi tersebut. Wakapolres Metro Jakarta Pusat AKBP Ricky Wakanno mengemukakan, pengaman sidang Ba'asyir ini merupakan yang terbesar sepanjang sejarah persidangan di Indonesia. Akibat Isu Ketika ditanya, mengapa sampai sedemikian ketat pengamanan tersebut, Ricky menjawab bahwa hal ini tidak lepas dari infromasi atau isu yang diterima aparat kepolisian. Informasi itu menyebutkan, ada kemungkinan massa pendukung Ba'asyir akan mengganggu jalannya sidang. Ricky menjelaskan, gangguan itu berupa upaya membebaskan Ba'asyir dari pengawalan polisi. Para wartawan juga mengalami kesulitan dengan pengamanan superketat tersebut. Begitu memasuki pintu gerbang Gedung BMG, wartawan sudah harus menjalani pemeriksaan dengan menggunakan metal detector. Pemeriksaan lapis kedua dilakukan di dekat pintu masuk ruang sidang. Saat diperiksa, wartawan yang membawa tas harus mengeluarkan isinya. Polisi juga memasang barikade kayu dengan kawat berduri di pintu-pintu masuk Gedung BMG. Walaupun di bawah sengatan matahari, para pendukung Ba'asyir yang datang dari Jateng, DIY, dan Jabotabek tidak juga bersikap emosional. Mereka memang selalu berteriak "Allahu Akbar" bila mendengar pertimbangan hukum yang meringankan Ba'asyir dan "huuu ..." bila mendengar yang memberatkan Ba'asyir, seraya mengacung-acungkan spanduk putih bertuliskan ''Mujahidin Antiteroris Dambakan Syahid'' dan ''Kasus Ba'asyir Contoh Nyata Lemahnya Supremasi Hukum''. Ustad Mudzakir, Koordinator Forum Umat Islam Surakarta, menjamin, massa pendukung Ba'asyir tidak akan berbuat anarki. ''Sebab, sejak awal (mereka) sudah siap menerima keadaan bahwa Ustad Ba'asyir pasti akan diperlakukan tidak adil" .(F4-29j) |