logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 3 September 2003 Semarang & sekitarnya  
Line

Irigasi Kali Sayung Kemasukan Air Asin

BENCANA kekeringan di Demak cukup memprihatinkan. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Demak mencatat 3.173 ha sawah dilanda kekeringan. Dari sejumlah itu, 1.272 ha tanamanan padi puso alias gagal panen.

Di Kecamatan Sayung dan sekitarnya ratusan hektare tanaman padi masih mungkin diselamatkan dengan memompa air dari Kali Sayung. Namun itu tak bisa dilakukan karena air sungai kemasukan air laut pasang yang tak baik untuk padi. Itu akibat kebocoran klep pintu air Kali Sayung.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Ir Muhammad Yusuf menyatakan penyebab lain kekeringan sawah adalah keterlambatan penamanan padi musim tanam I. Hal itu berdampak pada musim tanam II. Kebocoran klep pintu Kali Sayung mengakibatkan air asin naik sampai ke Desa Dombo.

Mei lalu karena hujan jarang turun, saluran sifon batu di Karangtengah tak berfungsi optimal. Sarana itu biasanya untuk mengairi tanaman padi dengan pompa. Akibatnya, air asin mudah naik karena tidak ada penggelontoran air hujan di Karangtengah dan Sayung.

Paling tidak ada enam kecamatan di Demak dilanda kekeringan. Yakni, Kecamatan Wonosalam (18 ha sawah), Karangtengah (95 ha), Guntur (226 ha), Wedung (1.454 ha), Sayung (1.185 ha), dan Mijen (195 ha). Kekeringan di Sayung dan Wedung dilaporkan paling parah.

Muhammad Yusuf menyatakan tingkat kerusakan padi bervariasi. Di Wonosalam, misalnya, padi yang rusak berat sekitar 18 ha dengan kerugian Rp 34,3 juta. Di Karangtengah rusak berat 95 ha dengan kerugian Rp 141,8 juta.

Di Kecamatan Guntur rusak berat 226 ha dengan kerugian Rp 376,9 juta. Di Wedung, padi rusak ringan 766 ha, rusak sedang 551 ha, rusak berat 50 ha, dan puso 87 ha. Total kerugian Rp 1,312 miliar. Adapun di Sayung, sawah puso 1.185 ha dengan kerugian ditaksir Rp 2,66 miliar serta Mijen rusak ringan 195 ha dengan kerugian Rp 87,6 juta.

''Data itu menunjukkan Sayung dan Wedung dilanda kekeringan paling parah. Sebab, tingkat kerugian antara Rp 1 miliar dan Rp 2 miliar lebih,'' ujar dia.

Kedungombo

Sementara itu, debit air di Mijen dan Wedung dari Klambu Kiri berkurang sehingga air tak mencukupi untuk mengairi padi. Apalagi pengeringan air irigasi Waduk Kedungombo diajukan pada 16 Juli 2003.

Berbagai upaya penanggulangan terhadap dampak kekeringan di Demak terus dilakukan. Pertama, menggelontorkan air dari daerah irigasi Tuntang ke saluran Kali Sayung. Kedua, menambah debit air dari daerah irigasi Klambu Kiri dari Waduk Kedungombo. Ketiga, menambah pompa air di daerah kekeringan. Keempat, mengatur distribusi air irigasi di daerah hulu.

Dinas Pertanian mengimbau petani merencanakan pola tanam yang baik. Artinya, menyesuaikan informasi ketersediaan air di daerah irigasi dan ramalan iklim yang akurat.

Gaga Rancah

Petani seyogianya menanam padi gaga rancah pada musim tanam I dan memilih varietas padi tahan kering dan berumur pendek pada musim tanam II.

''Yang paling penting, pengolahan tanah harus cepat dan pembibitan serta masa tanam harus serentak. Penggenangan juga dangkal dan pemberian air harus bergilir. Itu semua demi melindungi lahan pertanian dari bencana kekeringan,'' kata dia.

Untuk meringankan beban petani dari bencana kekeringan, terutama petani yang tanamannya puso, Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat mengedrop beras ke beberapa kabupaten di Jateng. Kabupaten Demak menerima bantuan 100 ton beras. Beras itu akan dibagikan di enam kecamatan. Yaitu, Wedung, Sayung, Wonosalam, Karangtengah, Guntur, dan Karanganyar. Setiap kepala keluarga akan mendapat bantuan 30 kg.

Dinas Pertanian meminta petani mengamati sejak dini serangan hama pada musim kemarau saat ini. Dengan demikian, tanaman dapat tumbuh sehat dan serangan hama terkendalikan. Pengamatan dapat dilakukan sejak persemaian padi. Petani juga perlu mewaspadai kelompok telur penggerek batang padi. (Arwan P-63g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA