logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 3 September 2003 Semarang & sekitarnya  
Line

Puluhan Sopir Truk Pocokan Berjam-jam Tunggu Muatan

MEREKA berdatangan satu per satu usai subuh, dan memarkir truk ataupun kendaraan bak terbuka (pikap) lainnya di sisi timur Jl Madukoro Raya, tepatnya di tepi Banjirkanal Barat.

Mereka adalah para sopir pocokan yang sudah bertahun-tahun mencari sumber penghidupan. Tiap pagi sudah antre, menunggu pemberi jasa untuk mengangkut berbagai jenis barang.

Meskipun sudah mangkal berjam-jam di tempat tersebut, jika sedang apes, tak satu pun order mereka dapatkan. Padahal, setiap hari mereka harus memberikan setoran.

''Kondisi saat ini sangat berbeda dibandingkan dengan sekitar sepuluh atau dua puluh tahun lalu. Bahkan sejak menjelang Lebaran 2002 hingga sekarang, para sopir truk pocokan benar-benar seperti menghadapi malapetaka, karena sulitnya mendapat order muatan,'' tutur Maryono (46), asal Klaten.

Lelaki yang sudah lebih dari dua puluh tahun menetap di Semarang itu mengungkapkan, ketika para sopir angkutan truk masih mangkal di Jl Kokrosono, hingga oleh Wali Kota Iman Soeparto (waktu itu) sekitar tahun 1990 dipindahkan ke lokasi sekarang, soal mencari order muatan bukanlah hal sulit. Satu hari mau mengangkut berapa kali bisa, boleh dikatakan tergantung pada kemampuan tenaganya.

Namun, kondisi sejak satu tahun terakhir ini membuat mereka benar-benar tak habis mengerti. Mengapa situasi yang konon merupakan buah hasil reformasi, justru membuat kehidupan rakyat kecil semakin terpuruk. Karena hanya mempunyai keahlian sebagai sopir, jika seharian bekerja tak membuahkan hasil, risikonya ayam yang di rumah terpaksa dibawa ke pasar.

Setoran

Hal tersebut dibenarkan sopir lainnya, seperti Suratmin (46) dan Siswanto (50). Menurut kedua teman Maryono itu, sulitnya mencari order muatan bukan karena faktor banyak truk atau kendaraan pengangkut lainnya yang antre di tempat mangkal. Untuk kendaraan truk, katanya, memang ada 45 buah, dan kendaraan jenis lain dengan bak terbuka 20 buah.

Dari jumlah sebanyak itu, jika dalam sehari ada lima atau sepuluh yang mendapat order, sudah lumayan. Lainnya, bila hingga pukul 16.00 ternyata masih belum juga mendapat muatan, memilih pulang dan mengembalikan truk ke rumah pemilik/majikan dengan satu konsekuensi harus mengisi/ mengganti bahan bakar.

Biasanya para pemilik truk mengisi penuh bahan bakar, sebelum kendaraannya dibawa sopir pocokan. Karena itu, kembalinya pun harus penuh pula, sehingga sopir tidak bisa main-main. Sebab, bahan bakar itu sebagai bukti truk mendapatkan order mengangkut barang atau tidak, dan bukti lainnya adalah saling percaya antara majikan dan sopir yang bersangkutan.

Demikian pula, bila mendapat order mengangkut barang, hasil dari ongkos yang didapat dibagi dua 50%-50%. Dan, bahan bakar yang semula penuh, sedikit pun tak boleh berkurang. Hal itu berarti bahan bakar dan pengeluaran lainnya menjadi tanggung jawab sopir, termasuk untuk pembantu/kernet yang mengikutinya.

Ditanya soal besarnya ongkos angkut, Suratmin menambahkan, jika hanya seputar Semarang, rata-rata Rp 150.000, tetapi itu tergantung pula berat atau ringan barang yang harus diangkut. Kalau sampai ke Surabaya (Rp 700.000 hingga Rp 1 juta), ke Solo (Rp 400.000), dan Yogyakarta (Rp 500.000).

Sebenarnya, masih kata dia, para sopir bisa saja mencari sasaran pemberi order. Hanya, risikonya kalau ketahuan polisi pasti dikejar dan kena tilang. Apalagi, kalau sampai ketahuan lalu lalang mencari muatan masuk kota. Menyadari risiko yang harus dihadapi, mereka memilih mangkal sampai datang pemberi order dengan wajib membayar ongkos parkir Rp 1.000/hari.

Bila ternyata antre sehari tetap tidak mendapat order, karena memang sepi muatan, beli rokok satu bungkus saja tidak bisa. Dalam kondisi seperti sekarang, saling pengertian di antara sesama sopir cukup tinggi, sehingga tidak sampai terjadi perpecahan.

Semua sopir truk dan kendaraan bak terbuka lainnya yang mangkal di tepi banjirkanal Barat telah bergabung dalam wadah perkumpulan Angkutan dan Jasa (AJ). Karena itu, misalnya, seorang sopir batal menerima order hanya tidak cocok soal ongkos, kalau ada sopir lain yang bersedia menerima tawaran itu, tidak apa-apa.

Di samping itu, jika ada calon pemberi order datang kemudian para sopir saling menawarkan armada angkutannya, sepintas memang seperti saling berebut. Sebenarnya tidak, karena sebagai penjual jasa harus pandai-pandai memanfaatkan kesempatan untuk memengaruhi orang yang membutuhkan.

Apalagi, dalam situasi sulit mendapatkan muatan, tidak ada salahnya jika di antara sesama sopir terjadi persaingan ketat. ''Tetapi semuanya masih dalam batas yang wajar,'' katanya. (Alman ED/Jamal-84k)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA