
| Rabu, 3 September 2003 | Semarang & sekitarnya |
Gagasannya Pernah Dicibir PerajinGAGASAN Kepala Kelurahan Bugangan Imam Tohani SH untuk membuat sebuah kawasan sentra industri kecil terpadu sempat dicibir oleh kalangan perajin industri kecil. Masalahnya, para perajin di kawasan itu pernah memiliki pengalaman pahit. Sekitar tahun 1980-an kawasan Bugangan pernah mengalami kejayaan, namun seiring dengan itu, banyak pihak yang memanfaatkan untuk proyek-proyek pemberdayaan untuk mendapatkan kucuran modal dari lembaga-lembaga keuangan. Tetapi, banyak dana bantuan permodalan yang justru ''dilarikan'' oleh pihak yang mengatasnamakan industri kecil Bugangan. Selain itu, banyak di antara mereka yang dipindah di sebuah kawasan industri yang sudah ''jadi'' di Semarang tetapi diwajibkan membayar biaya yang jumlahnya cukup memberatkan untuk ukuran perajin. Akibatnya, mereka harus ''terlempar'' kembali ke Jalan Barito. ''Mereka merasa dimanfaatkan oleh sejumlah orang yang tidak bertanggung jawab dan kemudian dilepas begitu saja setelah mendapat 'keuntungan','' ungkap pria berkacamata minus ini. Belajar dari pengalaman pahit itulah, maka kini para perajin lebih berhati-hari dalam menerima tawaran-tawaran jika ada proyek-proyek yang mengatasnamakan pemberdayaan, konsultan dan pendamping. Karena itu, menurut lurah yang sudah menjabat sejak satu tahun lalu ini, pada Kamis (4/9) besok gagasan tersebut akan didiskusikan dengan mengundang pejabat Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Semarang, mahasiswa Undip, Bappeda dan tokoh masyarakat. ''Kami berharap masyarakat perajin tidak perlu khawatir. Sebab, kami hanya ingin menjadikan kawasan Bugangan sebagai sentra industri kecil unggulan Semarang,'' ujar dia. Sebab, lanjutnya, daerah lain sudah banyak yang memiliki sentra industri kecil unggulan. Contohnya, Bandung dengan Cibaduyut, Jatim punya Tanggulangin dan Jepara dengan ukir-ukiran.(Arie Widiarto-76) |