
| Rabu, 3 September 2003 | Semarang & sekitarnya |
Pengeprasan Sigar Bencah Harus secara Hati-hatiSEMARANG - Pengeprasan bukit di Sigar Bencah Kelurahan Bulusan Kecamatan Tembalang harus dilakukan secara hati-hati. Jangan sampai upaya untuk mengamankan tebing itu justru menimbulkan longsor. Kasi Perencanaan dan Program Dinas Pertambangan dan Energi Jateng Soejarwanto mengatakan, upaya mengurangi longsor memang bisa dilakukan dengan mengurangi tinggi dan lebar tebing. Namun perlakukan semacam itu tidak bisa dilakukan pada semua bukit. Diperlukan penghitungan-penghitungan khusus, agar pengeprasan itu aman dan memberikan hasil seperti yang diharapkan. Menurut dia, komposisi tanah di tebing sigar mengandung lempung hitam. Pengerukan yang tidak hati-hati, menurutnya, lempung hitam itu bisa bergeser dan terjadi pergerakan tanah. Selain itu, seandainya di atas bukit itu akan dibuat permukiman, salurannya harus benar-benar kedap air. Kalau sampai bocor, air akan merembes ke dalam tanah dan membuat lempung hitam itu lebih lunak. Hal ini juga berbahaya, karena bisa mengakibatkan pergerakan tanah. ''Kalau tidak hati-hati, ibarat membangunkan 'macan tidur' seperti yang dilontarkan pakar Sipil-Hidrologi, Robert J Kodoatie,'' kata dia. Disuntik Menurutnya, tebing sigar bencah merupakan daerah yang tidak terlalu rawan longsor, namun bukan tempat yang aman untuk permukiman. Masyarakat di wilayah itu sebanarnya sudah mengetahui kondisi bukit. Hal itulah yang menyebabkan wilayah itu tidak berkembang. Upaya mengamankan bukit memang bisa dilakukan, antara lain dengan penyuntikan semen ke dalam tanah. Penyuntikan dengan cara mengebor dari atas bukit sampai kedalaman tertentu. Lubang dari hasil pengeboran itu, diisi semen dengan tekanan tertentu, sehingga sampai di dalam tanah semen tersebut bisa menyebar ke berbagai arah. Setelah kering, campuran semen itu bisa menjadi bebatuan yang keras. ''Perhitungan penyuntikan tersebut bisa dilakukan oleh ahli pertambangan. Namun jika dibutuhkan, Dinas Pertambangan dan Energi Jateng bisa membantu,'' kata dia. Hingga kemarin pengeprasan bukit masih dilakukan untuk membentuk tebing itu menjadi terasering. Pengerukan dimulai dari sisi bukit sebelah timur ke arah barat. Ismunadi, pengawas mesin berat di tempat itu mengatakan, mestinya proses pembuatan terasering itu bisa dikerjakan hanya dalam waktu tiga minggu. Namun karena tanahnya keras, dia memperkirakan pekerjaan akan selesai dalam waktu sebulan. ''Kami juga mengepras bagian bukit yang menghalangi pandangan pengguna jalan.'' (G6,G4-45) |