
| Rabu, 3 September 2003 | Semarang & sekitarnya |
Pengenalan Kampus Tanpa KekerasanADA yang berbeda dari pelaksanaan pengenalan kampus bagi mahasiswa baru yang dilaksanakan oleh Undip. Pada tahun-tahun sebelumnya, kita sering melihat bagaimana para senior yang mengeluarkan teriakan dan bentakan untuk mengatur para mahasiswa baru. Para mahasiswa baru sekarang tidak lagi diharuskan menggunakan atribut yang beraneka macam. Namun, mereka masih tetap berseragam: atas putih dan bawah hitam. Meskipun terlihat wajah takut terhadap para seniornya, mereka masih bisa tersenyum. Ini bisa terjadi, karena kebijakan Undip saat ini berbeda dari kegiatan pengenalan kampus sebelumnya. Sementara itu, nun jauh di sana, setiap orang tua yang anaknya mengikuti kegiatan pengenalan kampus masih berharap cemas. Kondisi ini sebenarnya merupakan hal yang wajar. Bagaimana tidak? Dari pengalaman masa lalu, selalu ada saja perguruan tinggi yang kecolongan akibat ulah beberapa mahasiswa seniornya. Kegiatan pengenalan kampus bagi mahasiswa baru sering dianggap sebagai suatu tradisi, yang kadang sangat menyakitkan. Perlakuan yang tidak manusiawi atau sering disebut plonco diterima mereka sebagai konsekuensi menjadi mahasiswa baru. Namun, era sudah berubah. Kegiatan pengenalan kampus yang dianggap sebuah tradisi tersebut ternyata lebih banyak kerugiannya daripada keuntungannya. Hal tersebut dapat dibuktikan dari jatuhnya korban-korban akibat kegiatan yang dianggap tradisi tersebut. Rektor Undip Prof Ir Eko Budihardjo MSc bertindak tegas, melarang praktik-praktik kekerasan dan mengganti nama kegiatan penggenalan kampus atau ''Pekik'' seperti tahun sebelumnya. Pengenalan kampus bagi calon mahasiswa baru lebih banyak ditekankan pada aktivitas pendidikan yang akan diikuti oleh mahasiswa kelak. Untuk kegiatan pengenalan kampus di Undip pada saat ini diterapkan konsep edutainment, yang berarti adanya pembauran antara konsep education (pendidikan) dan entertainment (hiburan). Di samping itu, kegiatan ini dapat menghapus aksi yang menuju kepada kekerasan fisik yang selama ini sering terjadi. Karena itu, para staf pengajar akan melakukan pendampingan terhadap mahasiswa baru. Dengan harapan, mahasiswa senior tidak akan diberikan kewenangan meng-gojlog yuniornya. Semua Terlibat Sementara itu, 280 mahasiswa baru dari Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Undip, yang bermarkas di Kampus Tembalang, memulai kegiatannya dengan pengenalan jurusannya. Kegiatan pengenalan mahasiswa baru yang dipusatkan di aula A tersebut tidak berbeda layaknya perkuliahan biasa. Beberapa staf pengajar, alumni, dan mahasiswa dilibatkan dalam setiap pemberian materi baik mengenai perkuliahan, pengenalan sarana dan prasarana, prospek lulusan, organisasi kemahasiswaan maupun etika kehidupan. Beberapa mahasiswa baru yang terlihat begitu santai menyimak materi yang diberikan, tanpa ada rasa ketakutan sedikit pun bakal di-plonco para seniornya. Agung Andika, salah seorang panitia yang berasal dari Himpunan Mahasiswa Jurusan Sipil mengungkapkan, pada kegiatan pengenalan kampus saat ini mereka sudah mendapat instruksi untuk tidak melakukan kegiatan yang menjurus pada kekerasan dalam bentuk apa pun. ''Tidak ada bentakan, teriakan, apalagi sampai dengan pemberian hukuman fisik kepada mahasiswa baru yang mengikuti kegiatan pengenalan kampus ini,'' tuturnya. Tugas Agung dan beberapa rekannya sebagai panitia, hanya sebatas mengatur agar jalannya kegiatan berjalan lancar. Selain itu, sebagai senior mereka berkewajiban untuk mengarahkan mahasiswa baru. ''Tanggung jawab kami sebagai panitia saat ini sangatlah berat, karena kami memegang amanat dari universitas untuk dapat mendidik yunior kami dengan cara yang benar,'' jelasnya. (Surya Yuli P-45k) |