logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 3 September 2003 Karangan Khas  
Line

Budaya Membaca Masih di Awang-awang

  • (Menyambut Bulan Gemar Membaca )

Oleh: Muh Muslih

ADALAH Prof Dr Fuad Hassan, mantan Mendikbud merasa jengkel ketika berbicara tentang rendahnya budaya membaca bagi masyarakat Indonesia dan kendala-kendala yang dialami dalam meningkatkan hal itu. "Lagu lama", katanya, menanggapi alasan tentang merosotnya produksi buku dan terbatasnya jumlah perpustakaan sebagai alasan utama menanggapi tak tersedianya buku yang baik dan menarik sebagai faktor signifikan dalam menggaet calon pembaca buku.

Memang selain masih kentalnya budaya lisan bagi masyarakat kita, faktor keterbatasan buku bacaan yang baik dan menarik serta keterbatasan penyebarannya juga menjadi titik pemicu rendahnya minat baca bangsa Indonesia.

Selain itu slogan untuk menumbuhkan minat baca buku yang dibuat pemerintah seperti: Budayakan membaca buku, Buku adalah jendela dunia, Biasakan memberi hadiah buku, dll. Hampir tak terdengar gaungnya di lapisan masyarakat bawah, yakni pedesaan, kecuali anak-anak sekolah yang kebetulan mendapat pinjaman buku-buku paket pelajaran dari sekolah. Tentu, dengan slogan saja tak cukup.

Ironis memang, di satu sisi pemerintah menganjurkan dan mendorong masyarakat untuk membiasakan baca buku dan membentuk budaya baca di sisi lain, upaya untuk itu tidak tertangani secara serius dan bahan bacaan itu tidak tersedia . Untuk membuktikan hal itu tak sulit, cukup kita amati berapa banyak perpustakaan di tingkat desa? Hampir tidak ada, bahkan di kecamatan pun juga tidak tersedia perpustakaan umum. Paling, mungkin baru ada di kota atau kabupaten.

Apabila kita ingin memajukan masyarakat lewat membaca maka basisnya adalah desa, terutama di era otonomi daerah ini. Dalam hal ini kita berbicara di pulau Jawa apalagi di luar itu, kondisinya tentu lebih memprihatinkan.

Upaya meningkatkan minat baca dan pemenuhan bahan bacaan sudah seharusnya menjadi agenda utama dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa selain usaha-usaha yang telah dilakukan pemerintah lewat dunia pendidikan. Tanpa campur tangan yang serius dari pemerintah, maka peningkatan minat baca dan pemenuhan bahan bacaan akan berjalan tertatih-tatih. Itu berarti kita tetap akan menduduki rangking kedua terbawah di antara negara-negara di Asia dalam hal pendidikan, karena masyarakat yang terpelajar (educated society) selalu berlandaskan atas kecintaan mereka terhadap buku dan membaca telah menjadi kebutuhan penting selain kebutuhan pokok sehari-hari.

Bila dibandingkan dengan tetangga kita, Malaysia, dalam hal minat baca dan oplah buku, kita sangat jauh tertinggal. Data statistik 1996 menyebutkan, dalam 10 tahun terakhir Indonesia baru menerbitkan 2500 judul buku. Sementara, di Malaysia yang berpenduduk sepersepuluh dari negara kita sudah memproduksi 9.600 judul buku.

Terus dari mana kita harus memulai mengatasi masalah itu? Apakah penyediaan buku atau peningkatan minat baca yang harus didahulukan? Mestinya hal itu harus berjalan seiring. Peningkatan minat baca perlu diwujudkan dalam bentuk gerakan nasional yang terstruktur dan terencana secara baik dan kontinyu. Gerakan itu tidak cukup hanya menjadi tugas Depdiknas semata, tetapi perlu dipikirkan lembaga yang mewadahi koordinasinya.

Penulis mengusulkan bentuk lembaga semacam Badan Koordinasi Peningkatan Minat Baca Nasional (Bakorpembacanas) yang memiliki struktur formal dari pusat hingga daerah sampai menjangkau lapisan bawah di seluruh pelosok negeri.

Gerakan Nasional Gemar Membaca harus mampu menjangkau seluruh strata penduduk mulia usia dini, usia sekolah hingga usia dewasa. Mengapa demikian?

Usia Dini

Pertumbuhan minat baca bisa dimulai sejak bayi lahir. Bahkan banyak ahli psikologi yang menyarankan agar bayi yang masih ada di dalam kandungan agar distimulasi sejak dini untuk mengenal dunia luar dengan mengajak mereka berbicara. Si Orok yang masih berada dalam perut ibunya sudah dapat mendengar suara yang ada di sekitarnya, meskipun masih sangat lemah.

Para ahli psikologi dan syaraf menyatakan, pada masa bayi berada dalam kandungan, maka pertumbuhan otaklah yang paling cepat di antara bagian tubuh yang lain. Pada bayi dilahirkan sel-sel otak (neuron) telah mencapai 25% dari otak orang dewasa serta mengandung 100 miliar sel otak. Pada saat anak berumur 3 tahun, pertumbuhan otak sudah mencapai 90% dari otak dewasa. Setelah usia 3 tahun ke atas tinggal fase pembesaran dan pematangan neuron.

Oleh karena itu dalam usia dini anak perlu dikenalkan dengan dunia membaca. Otak mereka akan merekam isi bacaan apa pun yang disampaikan orang tuanya dalam gaya cerita. Hal ini telah dipraktikkan dan menjadi tradisi di Jepang dengan gerakan 20 Minutes Reading of Mother and Child.

Gerakan ini menganjurkan seorang ibu untuk membacakan anaknya sebuah buku yang dipinjam dari perpustakaan umum atau sekolah selama 20 menit sebelum anaknya pergi tidur. (Buletin Pusat Perbukuan, Depdiknas No. 1 Tahun 2000).

Selain itu anak juga perlu diberikan buku-buku yang penuh warna-warni dan isinya memikat daya fantasi. Disamping untuk mengenalkan bentuk, juga mengenalkan warna pada anak. Karena pada usia dini anak belum mampu memperlakukan buku dengan baik, maka fisik buku yang diperlukan anak umumnya mesti kuat dan tebal, tak mudah robek dan gampang dibuka. Di Amerika buku-buku seri Child Growing-up (tumbuh kembah anak) terbitan Sesame Street sangat digemari sebab isinya yang sangat pas bagi anak, fisik buku pun sangat aman dan menarik bagi anak.

Dengan pengenalan buku pada anak sejak dini, maka minat baca pada anak akan tumbuh. Sesuai dengan prinsip psikologi bahwa cara bertindak seseorang akan sangat dipengaruhi oleh kebiasaan yang terekam dalam memori otaknya semasa kecil.

Inilah yang perlu mendapat perhatian khusus oleh pemerintah. Seperti saat Gerakan Keluarga Berencana (KB) Nasional dicanangkan pemerintah dengan hasil yang menggembirakan, maka demikian pula mestinya yang akan dilakukan dalam Gerakan Peningkatan Minat Baca (BPMB). Gerakan ini merupakan usaha penyadaran bagi orang tua tentang pentingnya membaca mulai tingkat RT, RW, dusun, desa, hingga tingkat nasional.

Usia Sekolah

Peningkatan minat baca di sekolah sebenarnya sudah cukup lama digarap oleh pemerintah, terutama untuk tingkat SD, SLTP dan SMU. Dengan diadakannya Proyek Inpres tentang pengadaan buku bacaan di sekolah, maka semakin banyak pula bahan bacaan bagi anak sekolah. Akan tetapi dengan adanya krisis moneter nampaknya proyek tersebut tidak segencar dulu lagi bahkan sekarang pemerintah lebih berkonsentrasi untuk menerbitkan buku-buku paket pelajaran.

Hal ini menjadi langkah mundur bagi dunia perbukuan. Penulis-penulis yang berlatar belakang tenaga kependidikan pun menjadi berkurang karena menyempitnya lahan yang ada. Padahal kita bisa berharap dari para guru yang bisa menulis akan lebih memberi warna bagi bahan bacaan anak.

Pada usia sekolah ini, buku yang paling sering dijamah selain buku paket pelajaran adalah buku komik. Bahkan bila mereka ditanya asyik mana membaca buku pelajaran dengan komik, mereka akan menjawab serempak komik.

Kesenangan anak usia sekolah terhadap buku cerita bergambar ini pun ditangkap oleh Jepang yang memang sangat terkenal komiknya, sehingga tak heran bila di pasaran buku dibanjiri komik dari Negeri Matahari Terbit itu seperti: Kungfu Boy, Dragon Ball, Doraemon dll.

Sebenarnya pemerintah dan penerbit dapat melirik ke arah ini. Apabila di Jepang buku-buku pelajaran dibuat dalam bentuk komik untuk lebih membangkitkan minat belajar siswa, mengapa kita tidak mencoba dalam bentuk komik khas Indonesia?

Selain buku, perpustakaan sekolah pun menjadi sarana yang perlu mendapat perhatian sebagai pusat pengembangan minat dan kegemaran membaca. Ia seolah jantung sekolah yang memompakan semangat pemenuhan rasa ingin tahu (curiousity). Bahkan karena pentingnya perpustakaan pemerintah mencanangkan bulan September sebagai bulan gemar membaca dan hari kunjung perpustakaan.

Namun apabila kita menengok kondisi perpustakaan sekolah kita, maka akan banyak mengundang keprihatinan karena selain miskin koleksi pustaka, juga kondisi tempatnya yang lebih mirip gudang penyimpanan buku dari pada perpustakaan sekolah. Oleh karenanya tujuan perpustakaan sebagai pusat pengembangan minat dan kegemaran membaca tidak bisa terwujud. Bahkan dengan nada yang agak pesimis, seorang pakar pendidikan, J. Drost, SJ mengatakan, sekolah tak bisa diandalkan untuk menanamkan gemar membaca.

Memang bila kita mengamati kondisi perpustakaan di sekolah akan menjumpai hal-hal berikut.

Pertama, masih terlihat adanya rasa kurang peduli pada sejumlah kepala sekolah dan guru terhadap buku dan perpustakaan yang ada. Masih banyak terlihat ruang-ruang perpustakaan yang tidak terpelihara, buku-buku tidak tertata baik dan terlihat kumuh. Kondisi seperti ini tentu berdampak negatif terhadap minat siswa untuk mau membaca. Masih banyak kepala sekolah yang kurang berminat menyisihkan dana anggaran untuk keperluan pengadaan buku atau tambahan buku baru.

Kedua, kegiatan-kegiatan yang mendorong siswa untuk mau membaca atau menggunakan perpustakaan sebagai sumber belajar kurang direncanakan oleh sekolah. Banyak perpustakaan sekolah yang hanya buka pada saat jam istirahat selama 15 menit sehingga siswa yang berkunjung ke perpustakaan hanya cukup untuk membuka-buka lembaran gambar di majalah. Sedang jam khusus untuk membaca di perpustakaan jarang ada di sekolah atau tidak ada sama sekali.

Ketiga, kurang terjalinnya hubungan baik antara pihak sekolah dengan pihak luar, terutama orang tua sebagai stake holder-nya untuk membuat perpustaaan sekolah sesuai dengan standar yang ada. Di Jepang sejak 1955 telah terbentuk Parent Teacher Association (PTA) Mother Library atau perpustakaan yang dikelola oleh perkumpulan orang tua murid dan guru. Mereka mengembangkan system distribusi buku ke daerah terpencil yang tidak terjangkau oleh perpustakaan keliling.

Bagi mereka yang tidak bersekolah karena alasan prinsip tidak punya biaya seperti yang dialami anak-anak jalanan serta bagi anak-anak usia sekolah di luar jam sekolah perlu dipikirkan bagaimana mengatasinya.

Pemerintah perlu memperbanyak armada mobil perpustakaan keliling ke kampung-kampung. Selain itu perlu menggalang kerja sama dan menggugah kesadaran masyarakat untuk membuat taman bacaan di lingkungan tempat tinggalnya. Beberapa yayasan yang menyelenggarakan taman bacaan untuk anak-anak di daerah pinggiran semacam: Yayasan Alang-Alang Jakarta, Ibu Kembar dan Pendidikan Anak Miskin Jakarta, Taman Bacaan milik yayasan artis Yessy Gusman perlu mendapat dukungan semua pihak berupa materi maupun nonmateri.

Usia Dewasa

Bahan bacaan bagi usia dewasa tentu saja lebih beragam, mulai dari surat kabar, majalah, buku dll. Demikian pula jenis bacaan yang diminati, mulai dari agama, politik, seni, teknik, filsafat dll.

Hal ini tentu akan berkembang lebih cepat apabila pemerintah mau memberikan kemudahan-kemudahan pada penerbit berupa harga bahan kertas yang murah, serta pemberian kredit lunak bagi penerbit yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat bawah.

Selain itu lomba-lomba penulisan buku bacaan agar lebih diperbanyak dengan hadiah yang lebih menarik dan besar seperti dalam acara kuis-kuis yang hampir tiap hari diadakan oleh beberapa stasiun TV swasta dengan menggandeng perusahaan-perusahaan nasional dan multi nasional. Dengan kegiatan tersebut niscaya akan bertambah penulis-penulis yang semakin handal.

Acara bedah buku mestinya menjadi menu wajib bagi setiap stasiun radio dan TV dengan bungkus entertainment yang memungkinkan acara itu bisa laku dijual.

Perpustakaan yang ada supaya ditambah dengan fasilitas teknologi mutakhir seperti internet. Pada Dana Alokasi Umum (DAU) atau Dana Alokasi Khusus (DAK) dianggarkan untuk penambahan jumlah perpustakaan dengan koordinasi Badan Koordinasi Peningkatan Minat Baca Nasional (Bakorpembacanas) seperti yang diusulkan penulis.

Dalam era otonomi daerah, hal itu perlu mendapat perhatian yang lebih serius dari DPRD agar Pem0da memiliki kepedulian terhadap masalah minat baca masyarakat. Tidak semata-mata getol membuat terobosan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), namun juga harus meningkatkan sumber daya masyarakat lewat gerakan membaca. Semoga hal itu bisa terlaksana. (18)

- Muh Muslih, S Ag, guru MTs N Windusari Magelang.


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA