
| Rabu, 3 September 2003 | Jawa Tengah - Pantura |
Pintu Air Congkar Akhirnya Ditutup
BUMIAYU - Saluran air Congkar, yang selama ini mengairi 726 ha sawah enam desa di Kecamatan Bumiayu dan Bantarkawung, Senin (1/9) lalu, akhirnya ditutup oleh Bagian Proyek Pemali-Comal. Kebijakan itu membuat waswas petani yang menanam padi. Karena, sawah mereka pada musim kemarau ini bakal kekeringan. Sejumlah petani menuturkan selama puluhan tahun ini sawah mereka pada musim kemarau tak pernah kekeringan. Padahal, sawah di berbagai daerah kekeringan. Ya, petani di dua kecamatan ini memang tak pernah kekurangan air. Sebab, cadangan air baku di Bendungan Congkar, Desa Laren, Kecamatan Bumiayu, dapat mengairi sawah mereka. Namun tahun ini, pada saat padi bisa dipanen sebulan lagi, mereka menghadapi masalah pelik. Padi yang mulai berisi tak mendapat guyuran air dari saluran itu. Hal itu akan memengaruhi hasil panen. Karena, padi yang mereka panen nanti kemungkinan besar tak berisi atau puso. ''Harga di pasaran bisa langsung rontok karena kualitas panen tak sebaik tahun-tahun sebelumnya. Siapa sih yang mau beli padi gabug dengan harga tinggi? Kami jelas rugi besar,'' kata Rustama (43), petani asal Desa Pamijen, Kecamatan Bumiayu. Sejumlah petani kini mencari pemecahan untuk mengatasi kekurangan pasokan air akibat penutupan atau penyumbatan saluran Bendungan Congkar selama sebulan sejak awal bulan ini. Jika kondisi itu dibiarkan berlarut-larut, ratusan petani pun akan merugi hingga Rp 2 miliar pada musim tanam tahun ini. Proyek Dikebut Pemecahan yang diupayakan sejumlah petani antara lain mendesak Bagian Proyek Pemali Comal mengebut perbaikan saluran air itu dan gorong-gorong (sifon). Perbaikan saluran itu hendaknya tidak sampai memakan waktu sebulan penuh, tetapi cukup 15 hari. Mohammad Tohirin (43), Ketua Paguyuban Petani Pengelola Air (P3A) Dahrma Tirta Gabungan Congkar Subur, yang mewadahi petani enam desa di Kecamatan Bumiayu dan Bantarkawung, menyatakan permintaan sejumlah anggota agar perbaikan proyek dikebut, meski susah dipenuhi, merupakan pemecahan terbaik. Jika permintaan itu tak dipenuhi, itu menjadi risiko petani. Sebab, jauh hari sebelum dia bersama bagian proyek telah menyosialisasikan rencana perbaikan saluran, yang ditandai dengan penutupan pintu air itu. ''Saat sosialisasi, petani sepakat tiga bulan sebelum pengerjaan proyek tak menanam padi. Karena, akan terganggu perbaikan saluran,'' kata dia. Dia memperkirakan sekitar 400 ha dari 726 ha sawah akan kekeringan cukup parah. Padi di sawah seluas itu akan puso saat dipanen. Karena, padi yang berisi tak lagi menerima pasokan air yang cukup. Rencana pembuatan sumur pantek atau sumur bor, kata dia, akan memperparah keadaan karena biaya pembuatan sumur itu sangat besar. Saat ini pihaknya menggodok kemungkinan pengajuan permintaan pasokan air lewat kisdam seminggu setelah proyek dikerjakan. Air bisa digelontorkan lewat sisi saluran. Dia berharap cara itu menyelamatkan padi yang berisi dan butuh pasokan air. Sebelumnya Kepala Bagian Proyek Pemali-Comal, Kastari Dipl ATP, menyatakan proyek perbaikan saluran di Bendungan Congkar senilai Rp 736 juta tak bisa ditunda. Sebelum pengerjaan, pihaknya bersama P3A sudah berulang-ulang menyosialisasikan rencana penyumbatan pasokan air tersebut. Jika petani nekat menamam padi dan akhirnya padi puso, itu risiko yang harus mereka tanggung. (D12-20g) |