
| Rabu, 3 September 2003 | Budaya |
PernikRasa dan Logika BahasaOleh: Jokomono MENGOLAH dengan rasa bahasa yang terasah daya kepekaannya, dan menavigatori langkah dengan logika bahasa yang sehat, barangkali merupakan adonan yang pas untuk bergerak menuju ke entitas seni mengedit berita/ feature/ wacana opini di media massa cetak. Dalam tautan itu, yang dimaksud dengan pekerjaan mengedit lebih terfokus pada aspek bahasanhya, bukan isinya. Rasa bahasa, terutama memainkan peran signifikan pasa saat seorang editor bahasa menghadapi naskah-naskah berita/ feature/ wacana opini dari wartawan atau penulis yang telah "menjadi". Mereka, biasanya telah memiliki gaya bahasa yang khas, sehingga pengubahan diksi atau struktur kalimat berpeluang besar untuk mendistorsi "keperawanan" pose-pose ekspresi bahasa mereka yang khas tersebut. Pada posisi itu, energi gerak editor bahasa cenderung hanya menelusuri dengan sentuhan rasa bahasanya ke seluruh kelok liku pose-pose ekspresi bahasa wartawan/penulis tersebut, sambil sesekali bermain di ruang konstruksi morfologis (dan itu pun kadang tidak dengan energi penuh) sesuai dengan aturan kesepakatan yang berlaku. Sementara itu, untuk intervensi ke ruang konstruksi sintaksis, lebih condong menemukan penghindaran yang seoptimal-optimalnya. **** ADAPUN logika bahasa, terutama memperoleh sentuhan realisasi terapan pada berita/ feature/ wacana opini dari wartawan/ penulis, yang pose-pose ekspresi bahasanya masih mungkin menerima penyikapan editorial yang standar. Dalam artian, penerapan aturan yang tertuang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan aturan kesepakatan tim, secara relatif kuat dapat terealisasi optimal tanpa merusak keutuhan dan kekhasan gaya bahasanya. Dengan demikian, untuk tipe-tipe tulisan yang terkategorikan belakangan itu, pemenggalan unsur-unsur kalimat yang boros, dan pengubahan struktur kalimat yang lebih efektif, merupakan bentuk-bentuk kerja pengeditan yang lebih memungkinan terealisasi tanpa harus mendestruksi kekhasan style si wartawan/ penulis. Sentuhan logika bahasa lebih berperan dominan dalam kasus itu daripada rasa bahasa. Pada akhirnya, mengedit berita/ feature/ wacana opini di media massa memang merupakan seni. Yaitu seni menakar porsi terapan antara logika bahasa dan rasa bahasa; kapan salah satu harus dominan dan kapan keduanya harus berimbang. Jika sudah begitu, agaknya yang dibutuhkan adalah naluri. ''Suatu pembawaan alami yang tidak disadari mendorong untuk berbuat sesuatu; insting,'' demikian salah satu penjelasan lema itu dalam KBBI Edisi Ketiga (2001: 772).(41) Jokomono, editor bahasa Suara Merdeka |