logo SUARA MERDEKA
Line
  Rabu, 3 September 2003 Budaya  
Line

Pasar Malam di Pekarangan (2)

Saat Darmanto Jatman Diruwat

INI memang akal-akalannya Sutanto Mendut, seniman dari Magelang itu. Lewat ritual Ondo Kencono, ia "meruwat" budayawan Darmanto Jatman menuju ke "kesempurnaan".

Diawali dengan paduan bunyi berbagai alat musik yang disuarakan dari mulut, pementasan yang menjadi bagian dari "Pasar Malam di Pekarangan Rumah", Sabtu (30/8) malam itu berlangsung gaduh.

Sekitar 30 penampil --baik anak-anak, remaja, maupun dewasa-- memasuki arena dengan melonjak-lonjak dan jejogedan. Mereka menciptakan bunyi alat musik dengan mulut. Ya, itulah kesenian Thrunthung dari Warangan, Magelang.

Dipimpin oleh Eko Sunyoto, mereka berteriak, berguman, menjerit dan menyatakan ketidakpercayaannya kepada banyak lembaga; Presiden, DPR, orang kota, pengadilan, dan koran. "Sila pertama kami adalah tidak percaya!" teriak Tanto.

Arena performance --salah satu sudut pekarangan rumah Hertoto Basuki di Jl Durian 8 Semarang-- itu semakin meriah, ketika kemudian beberapa penampil membagikan kentongan kepada penonton.

Sebab, puluhan penonton yang memadati sekitar arena segera merespons dengan memukul kentongan, ikut berteriak, dan menjerit.

Pertunjukan yang sebenarnya, terjadi ketika Jumo (dukun ritual) memanggil Darmanto Jatman ke tengah arena. Puluhan orang pun bertanya-tanya, apa yang akan dilakukan Tanto, penggagas pementasan itu, terhadap Darmanto. Terlebih, selama ini keduanya dikenal selalu gasak-gasakan.

Ah, lewat ritual ondo kencono itu Tanto hanya ingin meruwat penyair "bangsat" tersebut. Begitulah, setelah Jumo memberi doa dan mahkota, Darmanto pun menaiki ondo kencono (tangga emas) dan kemudian ditandu keluar.

Tapi, pementasan belum selesai. Sebab di tengah suara musik yang gaduh itu, tiba-tiba muncul kelompok penari Cahyo Budaya, Sumbing, Magelang. Mereka tampil telanjang dada, dengan tubuh dan wajah coreng-moreng. Di arena mereka menari, berjingkrak, dan membunyikan seng.

Pertanyaannya, apa sebenarnya yang hendak disampaikan oleh kolaborasi Thrunthung dan Cahyo Budaya itu?

"Ondo Kencono adalah sebuah ritual untuk mengantarkan seseorang menuju kesuksesan dan kesempurnaan. Kami memilih Pak Darmanto, karena dia baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-61," kata Eko.

Pasar malam itu, juga menampilkan Wayang Dongeng dari Sanggar Paramesthi, serta sejumlah kesenian tradisi dari Salatiga dan Wonosobo. Termasuk acara dialog bebas dengan Gubernur Mardiyanto. (Ganug Nugroho Adi-41)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA