
| Selasa, 2 September 2003 | Semarang & Sekitarnya |
Petani Wedung Timbun Garam
DEMAK- Sejumlah petani garam di wilayah Wedung kini memilih menimbun hasil panen garam di gudang daripada menjualnya ke pasaran. Upaya itu ditempuh karena harga garam terus merosot, semula Rp 1.000 - Rp 1.500 per tombong menjadi Rp 550 - Rp 700 per tombong. Anjloknya harga garam di pasaran itu cukup memberatkan petani karena biaya produksi cukup besar. Di Wedung saat ini memang banyak sentra produksi garam, seperti Dukuh Mencho, Kelurahan Berahan Wetan, Kendalasem, Wedung, Babalan, Mutih Wetan, dan lainnya. Daerah tersebut sangat potensial bagi pengembangan produksi garam krosok. "Garam-garam ini kami timbun dulu di gudang. Kalau kami lempar ke pasaran harganya cukup murah, yakni hanya Rp 600-Rp 700 per tombong. Setiap tombong berisi sekitar 35 kg garam," kata seorang petani garam di Mencho. Di Luar Demak Di lokasi produksi garam Wedung banyak dijumpai bangunan rumah semipermanen. Rumah yang terletak di tengah tambak itu dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan atau penimbunan garam. Petani lain mengungkapkan, garam biasanya tiap pagi diambil truk untuk dipasarkan di luar Demak, seperti Pekalongan dan Juana. Selain itu, juga diambil bakul-bakul untuk dipasarkan ke Demak, Semarang, dan sekitarnya. Namun, karena belakangan ini harga garam terus merosot, mereka memutuskan tidak menjual dulu produksi garamnya.(F2-63i) |