logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 2 September 2003 Semarang & Sekitarnya  
Line

Hisbul Wathan Mulai Bangkit

SEMARANG - Setelah mengalami kevakuman sejak 1961, organisasi kepanduan Hisbul Wathan di bawah Muhammadiyah mulai bangkit lagi di Jawa Tengah. Sabtu (30/8) ditandai dengan pelantikan para pengurusnya di Islamic Center Manyaran.

Sekretaris Hisbul Wathan Jateng, Muhammad Hafidh SH mengatakan, organisasi itu dibentuk oleh KH Ahmad Dahlan tahun 1917. Namun pada 1961, pemerintah menginginkan agar kepanduan di Indonesia hanya Pramuka. Sejak itulah, keorganisasian maupun kegiatan Hisbul Wathan mengalami kevakuman.

Para pengurus yang dilantik, terdiri Dewan Pembina oleh Drs H A Dahlan Rais MHum, Drs H Rozihan SH, Drs Hj Nurhayati. Ketua dijabat oleh Drs Abdul Rasyid Wahim MA. Wakil Ketua H Soeparno, H Sunardi BSc, dan H Noorfan Soenaryo. Sekretaris M Chafid SH, Haryanto SAg, Hj Rodiyah Mujayin, dan HT Maftuh BA. Selain itu juga dilantik 42 orang pengurus lainnya.

Berusia Senja

Dia mengatakan, walaupun beberapa kegiatannya mirip Pramuka, namun antara dua organisasi kepanduan itu tidak memiliki hubungan organisasi. Kemiripan itu, antara lain pada organisasi kepanduan. Hisbul Wathan juga memiliki pengurus kwartir di tingkat pusat dan daerah.

Kegiatannya, juga memiliki beberapa kemiripan. Misalnya, Hisbul Wathan berencana menyelenggarakan jambore wilayah Se-Jateng pada Juni 2005.

Dalam waktu dekat juga akan diadakan pendidikan dan latihan calon pelatih. Dia menyatakan belum bisa menentukan tempat dan waktunya. Namun diperkirakan Wana Wisata Penggaron di Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang sebagai tempat yang menarik.

Organisasi itu sebenarnya sudah memiliki beberapa pelatih. Namun, mereka rata-rata sudah berusia senja, dan di antaranya bahkan berusia lebih dari 50 tahun. Walaupun para pelatih tua itu masih tampak gagah, energik, dan cukup bersemangat, namun organisasi itu juga membutuhkan pelatih-pelatih muda.

Untuk seragam yang dipakai juga agak berbeda. Pramuka biasanya memakai seragam baju cokelat muda, celana cokelat tua, dan slayer merah putih. Sedangkan Hisbul Wathan, mengenakan seragam baju cokelat muda, celana biru tua, dan slayer hijau.

''Perbedaan kegiatan kami, di Hisbul Wathan nilai-nilai Islam lebih ditonjolkan. Misalnya ketika suara adzan berkumandang, kami akan langsung menghentikan kegiatan untuk menunaikan shalat,'' kata dia. (G6-45)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA