logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 2 September 2003 Semarang & Sekitarnya  
Line

Kutu Air Banyak Dicari Pemelihara Ikan Hias

KESENANGAN terhadap sesuatu, seperti memelihara burung dan ikan hias, kadang-kadang mengalahkan logika. Karena itu, jangan heran jika di Kota Semarang menjumpai seseorang dengan mengendarai mobil mewah, membawa kaleng bekas cat tembok ukuran 5 kilogram dan perlengkapan lain berupa seser ikan dari bahan nilon halus bergalah bambu.

Apalagi, jika orang tersebut berjalan menyusuri saluran air yang kumuh dan warna airnya kehijau-hijauan. akibat terlalu lama mengendap dan tak bisa mengalir. Itulah tempat-tempat yang sering didatangi.

Tempat-tempat seperti pinggir Jembatan Berok, Polder Tawang, dan banyak saluran air di lokasi lain, terutama di lingkungan kompleks perumahan, bukanlah tempat asing bagi mereka.

Sebagaimana yang dilakukan tiap pagi oleh Wibowo (37), warga Tlogosari, Semarang Timur. Sepulang mengantar dua putranya ke sekolah, dia langsung menuju salah satu dam pengendali air, di sisi timur Banjir Kanal Barat. Perlengkapan seser dan kaleng bekas cat tembok pun dikeluarkan dari bagasi mobilnya.

Di tempat tersebut, dia tidak sendiri, karena sudah ada beberapa orang lain yang membawa perlengkapan serupa. Mereka adalah para pengemar ikan hias jenis louhan dan cupang. Di tempat itu mereka mencari makanan untuk ikan piaraannya, berupa kutu air.

Jenis makanan itu, kata Wibowo yang mengaku sejak usia SD sudah gemar memelihara berbagai jenis ikan hias, diperlukan sebagai pengganti welur(anak cacing tanah). Sebab, pada musim kemarau untuk mencari makanan jenis itu sangat sulit, karena tidak ada lagi tempat lembap bagi kehidupan welur.

''Semula saya mencari kutu air di Polder Tawang. Karena sedang dikuras, kutu itu banyak yang hilang terbawa air, sehingga saya ganti pindah ke tempat ini,'' tuturnya.

Laku Dijual

Selain welur dan kutu air, jelas dia, jenis ikan hias yang mahal harganya itu juga suka melahap jentik-jentik nyamuk. Ide pemberian makanan ikan piaraan dari beberapa jenis plankton air tersebut juga dia cermati ketika masih duduk di bangku SD. Karena itu, soal koleksi ikan yang dipelihara terdiri atas beberapa jenis, dan bahkan sudah digeluti sebagai kegiatan usaha.

Dia mengaku, di rumahnya ada lebih dari 100 akuarium, ditambah lagi bak-bak ikan. Jika bahan makanannya semua harus beli, tentu menghabiskan banyak biaya. Apalagi, harga welur satu kilogram bisa mencapai Rp 40.000. Karena itu, mencari kutu air atau jentik nyamuk dilakukan sendiri.

Banyaknya ikan hias yang dipelihara, membuat dia tertarik untuk menjualnya. Namun, harga jualnya tidak terlalu mahal, karena untuk jenis ikan cupang yang sudah jadi per ekor hanya Rp 30.000. ''Memelihara ikan hias jelas banyak manfaatnya, selain sebagai klangenan juga memberikan penghasilan,'' katanya.

Upaya mencari kutu air juga dilakukan Andi, warga Jl Empu Tantular, untuk makan ikan piaraannya. Sebab, tidak mungkin ikan cupang yang dipelihara harus diberi makan kutu air dengan cara membeli. Sebab, harga kutu seukuran satu kaleng sabun cuci ukuran kecil saja mencapai Rp 5.000.

Berbeda dari Karmin, lelaki ini mencari kutu air memang untuk dijual. Hasil kerja tidak lebih dari satu jam tersebut, lalu dibawa ke pasar atau tempat penjualan ikan hias. Untuk ukuran satu sendok makan bisa mencapai Rp 1.000. Pencarian kutu air harus dilakukan pagi hari, karena jika terkena sengatan matahari kutu-kutu itu mudah mati.

''Padahal, ikan jenis cupang ataupun louhan hanya mau makan kutu air yang masih hidup.''(Alman Eko Darmo-73k)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA