logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 2 September 2003 Semarang & Sekitarnya  
Line

Undip Larang Perpeloncoan bagi Calon Mahasiswa Baru

SEMARANG -Belajar dari pengalaman kegiatan pengenalan kampus tahun sebelumnya, Undip malarang perpeloncoan bagi calon mahasiswa barunya. Pada prinsipnya, pengenalan kampus masih diperlukan bagi calon mahasiswa baru, tetapi metode yang digunakan tidak seperti yang dulu.

Konsep edutainment merupakan konsep yang diterapkan Undip dalam kegiatan pengenalan kampus tersebut.

''Edutainment berarti adanya pembauran antara konsep education (pendidikan) dengan entertainment (hiburan),'' kata Rektor Undip, Prof Ir Eko Budihardjo MSc, pada acara penyambutan calon mahasiswa baru di kampus Undip Tembalang, kemarin.

Menurutnya, konsep tersebut akan dikembangkan pada kegiatan pengenalan kampus tahun-tahun yang akan datang. Di samping itu, kegiatan ini dapat menghapus aksi yang menuju pada kekerasan fisik yang selama ini sering terjadi.

Oleh karena itu, lanjutnya, para staf pengajar akan melakukan pendampingan terhadap mahasiswa baru. Dengan demikian, mahasiswa senior tidak akan diberikan kewenangan meng-gojlok yuniornya.

Adapun jumlah calon mahasiswa Undip yang terlibat dalam kegiatan pengenalan kampus model baru tersebut sebanyak 8.295 orang yang berasal dari berbagai fakultas dan program pendidikan yang ada.

Di tempat terpisah, Unnes melakukan upacara penerimaan calon mahasiswa baru melalui Orientasi Kehidupan Kampus (OKKA) di kampus Sekaran Gunungpati.

Menurut penjelasan Rektor Unnes Dr Ari Tri Soegito SH MM, OKKA bagi calon mahasiswa baru sangatlah penting. Dalam kegiatan tersebut, mereka akan dikenalkan pada kegiatan akademis yang umumnya dilakukan oleh mahasiswa.

Adapun jumlah calon mahasiswa baru Unnes yang mengikuti OKKA sebanyak 5.928 orang. Mereka terdiri mahasiswa kependidikan sebanyak 3.899 orang dan mahasiswa nonkependidikan 2.029 orang. Kegiatan OKKA tersebut berlangsung dari tanggal 1 hingga 5 September 2003. (H2-45)

Pergantian Nomor

Telepon di Tugu

SEMARANG - Sehubungan adanya pembenahan jaringan dan meningkatkan kualitas layanan di STO Tugu Semarang, Telkom akan melaksanakan penggantian catuan pelanggan dari Rumah Kabel RH ke FRB yang akan dilaksanakan mulai 31 Agustus pukul 09.00 sampai 14.00 WIB. Senior Manajer Komunikasi Pemasaran PT Telkom H Murwanto menjelaskan, perubahan itu akan mengakibatkan bergantinya nomor-nomor telepon menyangkut sekitar 100 pelanggan baik yang biasa maupun yang Wartel yang berlokasi di Jl Kedung Pane mulai dari PT Citra Jepara sampai komplek BSB (PT Kalimas) dan Jl Gondorio.

Pelanggan di daerah tersebut yang semula bernomor 024760XXXX, 761XXXX dan 762XXX ganti nomor menjadi 024762XXXX. Dalam masa transisi menurut Murwanto selama satu bulan panggilan kepada nomor lama akan disambungkan kemesin penjawab yang menginformasikan perubahan nomor barunya. Selama waktu tersebut pelanggan diharapkan sudah mensosialisasikan nomor barunya kepada rekan dan relasinya.

Selama kurang lebih lima jam, pelanggan yang dicatu oleh Rumah Kabel RH akan mengalami gangguan. Jika setelah pelaksanaan tersebut pelanggan masih ada yang belum lancar PT Telkom berharap untuk menghubunginomor 117. (tb-76)

Dishub dan Angkasa Pura Akan Dipanggil

n VIP Parking di Bandara A Yani

SEMARANG - Komisi D DPRD Jateng akan menghadirkan Kepala Dinas Perhubungan dan Pelaksana Harian Kepala Perum Angkasa Pura I Cabang Bandara A Yani Semarang, untuk hearing terkait pemberlakuan VIP Parking. Pemanggilan untuk hearing itu akan dilaksankan dalam waktu dekat.

Menurut Sekretaris Komisi D, Drs H Ali Mansyur HD, pemanggilan itu dilakukan mengingat makin banyaknya keluhan dari masyarakat yang disampaikan ke Dewan. Sebagian besar menyatakan keberatan adanya penarikan retribusi untuk VIP Parking, karena sebelumnya tidak ada penarikan seperti itu.

''Kami berharap persoalan ini segera ada kejelasan. Artinya kalau alasan keberadaannya tidak proporsional dan hanya mengada-ada, sebaiknya tak perlu melanjutkan VIP Parking,'' katanya.

Pihaknya mengkhawatirkan tentang penerapan parkir khusus hanya menimbulkan polemik dan penilaian buruk oleh masyarakat maupun pemerintah pusat. Bila hal itu terjadi bisa berdampak kurang baik bagi pengembangan bandara.

''Saat ini Bandara A Yani sedang berkeinginan untuk go internasional. Kalau ada persoalan seperti itu apa tidak mendapat keraguan. Apalagi penerapan VIP Parking yang baru satu-satunya di Indonesia banyak mendapat keberatan dari masyarakat,'' kata anggota FKB DPRD Jateng ini.

Laporan Masyarakat

Bona Ventura S SH, anggota komisi D lainnya menjelaskan keinginan komisinya untuk hearing bersama Dinas Perhubungan dan Angkasa Pura dimaksudkan agar mendapat penjelasan dari pihak yang berkompeten. Sebab, banyak laporan dari masyarakat yang menyatakan keberatan dengan penerapan VIP Parking.

Di samping itu juga untuk mempertanyakan dasar pijakan parkir yang terkesan diada-adakan itu. ''Saya rasa sangat wajar mempertanyakan ke mana masuknya hasil penarikan parkir seperti itu,'' tandas Bona.

Bahkan sejumlah sopir pejabat juga menyampaikan keluhannya ke Komisi D. Mereka merasa keberatan karena areal parkir yang dijadikan VIP Parking, sebelumnya sebagai tempat parkir umum. Selain itu, mereka hanya diberi uang Rp 2.000 untuk retribusi parkir masuk, sedangkan biaya VIP Parking harus keluar dari koceknya sendiri.

Sementara itu Yos Johan Utama, Pembantu Dekan IV Fakultas Hukum Undip yang kemarin memarkir mobil di VIP Parking menilai pemberlakuan parkir khusus dapat menimbulkan persoalan, karena dinilai oleh publik mengurangi hak-hak mereka. Bahkan bila melihat ke negara-negara tetangga, persoalan semacam itu memicu gugatan hukum oleh publik.

''Menurut hemat saya, melihat VIP Parking seperti di bandara A Yani tidak bisa dibenarkan. Kalau dikatakan khusus, lalu apanya yang khusus. Tempat parkir masih sama seperti tempat parkir sebelumnya, yakni yang sebelumnya menjadi hak pelayanan terhadap publik,'' katanya. (H1,G1-45)

Perusahaan dan Pekerja

Diminta Jalan Bersama

PEDURUNGAN - Antara perusahaan dan pekerja diharapkan ada persepsi yang sama. Yaitu, ibarat keping mata uang, keduanya tidak bisa dipisahkan, sehingga harus berjalan bersama.

Demikian disampaikan Wali Kota H Sukawi Sutarip dalam dialog saat mengunjungi PT Indo Tirta Jaya Abadi--perusahaan air minum dalam kemesan--yang beralamat di Jl Brigjen Soediarto, Senin (1/9). Dialog juga dilakukan dengan PT Bitratex dan PT Holy.

''Untuk saling memahami, maka perusahaan harus transparan. Kalau mendapatkan untung perlu memberikan bonus pada karyawan. Sebaliknya, kalau perusahaan sedang merugi, karyawan jangan menuntut bonus,'' tandas dia.

Dia yakin dengan saling memahami, perusahaan akan tetap bisa hidup dan kegiatan berjalan.

Nanang Setijono, perwakilan dari PT Bitratex memberikan masukan pada Wali Kota tentang perlunya sosialisasi mengenai perdagangan anak dan perempuan.

Menurut dia, hal tersebut penting untuk diantisipasi agar tidak terjadi di Semarang.

Atas masukan tersebut, Sukawi meminta Nanang bergabung dengan tim dari Kota Semarang. Selanjutnya melakukan sosialisasi bersama mengenai hal tersebut.

Upah Memadai

Peserta dialog yang lain, Tarmo, menanyakan tentang Dewan Pengupahan Daerah. Wali Kota menyatakan, lembaga itu berfungsi melindungi pekerja agar memperoleh upah yang memadai.

Terkait masalah upah, Sukawi berpesan, kondisi keuangan antara perusahaan satu dengan yang lain berbeda. Oleh karena itu, dalam pemberian upah tidak lepas dari kondisi keuangan masing-masing.

Sebelum dialog, didampingi Direktur Utama PT Indo Tirta Jaya Abadi Onney Jauwhannes, Wali Kota melakukan peninjauan ke instalasi pabrik.

Perusahaan itu, selain memproduksi air minum dalam kemasan, juga membuat kabinet plastik untuk televisi dan radio, serta produk-produk packing lainnya.

Kunjungan Wali Kota ke perusahaan-perusahaan akan dilakukan secara rutin setiap Senin pagi. (G7-45)

Kutu Air Banyak Dicari Pemelihara Ikan Hias

KESENANGAN terhadap sesuatu, seperti memelihara burung dan ikan hias, kadang-kadang mengalahkan logika. Karena itu, jangan heran jika di Kota Semarang menjumpai seseorang dengan mengendarai mobil mewah, membawa kaleng bekas cat tembok ukuran 5 kilogram dan perlengkapan lain berupa seser ikan dari bahan nilon halus bergalah bambu.

Apalagi, jika orang tersebut berjalan menyusuri saluran air yang kumuh dan warna airnya kehijau-hijauan. akibat terlalu lama mengendap dan tak bisa mengalir. Itulah tempat-tempat yang sering didatangi.

Tempat-tempat seperti pinggir Jembatan Berok, Polder Tawang, dan banyak saluran air di lokasi lain, terutama di lingkungan kompleks perumahan, bukanlah tempat asing bagi mereka.

Sebagaimana yang dilakukan tiap pagi oleh Wibowo (37), warga Tlogosari, Semarang Timur. Sepulang mengantar dua putranya ke sekolah, dia langsung menuju salah satu dam pengendali air, di sisi timur Banjir Kanal Barat. Perlengkapan seser dan kaleng bekas cat tembok pun dikeluarkan dari bagasi mobilnya.

Di tempat tersebut, dia tidak sendiri, karena sudah ada beberapa orang lain yang membawa perlengkapan serupa. Mereka adalah para pengemar ikan hias jenis louhan dan cupang. Di tempat itu mereka mencari makanan untuk ikan piaraannya, berupa kutu air.

Jenis makanan itu, kata Wibowo yang mengaku sejak usia SD sudah gemar memelihara berbagai jenis ikan hias, diperlukan sebagai pengganti welur(anak cacing tanah). Sebab, pada musim kemarau untuk mencari makanan jenis itu sangat sulit, karena tidak ada lagi tempat lembap bagi kehidupan welur.

''Semula saya mencari kutu air di Polder Tawang. Karena sedang dikuras, kutu itu banyak yang hilang terbawa air, sehingga saya ganti pindah ke tempat ini,'' tuturnya.

Laku Dijual

Selain welur dan kutu air, jelas dia, jenis ikan hias yang mahal harganya itu juga suka melahap jentik-jentik nyamuk. Ide pemberian makanan ikan piaraan dari beberapa jenis plankton air tersebut juga dia cermati ketika masih duduk di bangku SD. Karena itu, soal koleksi ikan yang dipelihara terdiri atas beberapa jenis, dan bahkan sudah digeluti sebagai kegiatan usaha.

Dia mengaku, di rumahnya ada lebih dari 100 akuarium, ditambah lagi bak-bak ikan. Jika bahan makanannya semua harus beli, tentu menghabiskan banyak biaya. Apalagi, harga welur satu kilogram bisa mencapai Rp 40.000. Karena itu, mencari kutu air atau jentik nyamuk dilakukan sendiri.

Banyaknya ikan hias yang dipelihara, membuat dia tertarik untuk menjualnya. Namun, harga jualnya tidak terlalu mahal, karena untuk jenis ikan cupang yang sudah jadi per ekor hanya Rp 30.000. ''Memelihara ikan hias jelas banyak manfaatnya, selain sebagai klangenan juga memberikan penghasilan,'' katanya.

Upaya mencari kutu air juga dilakukan Andi, warga Jl Empu Tantular, untuk makan ikan piaraannya. Sebab, tidak mungkin ikan cupang yang dipelihara harus diberi makan kutu air dengan cara membeli. Sebab, harga kutu seukuran satu kaleng sabun cuci ukuran kecil saja mencapai Rp 5.000.

Berbeda dari Karmin, lelaki ini mencari kutu air memang untuk dijual. Hasil kerja tidak lebih dari satu jam tersebut, lalu dibawa ke pasar atau tempat penjualan ikan hias. Untuk ukuran satu sendok makan bisa mencapai Rp 1.000. Pencarian kutu air harus dilakukan pagi hari, karena jika terkena sengatan matahari kutu-kutu itu mudah mati.

''Padahal, ikan jenis cupang ataupun louhan hanya mau makan kutu air yang masih hidup.''(Alman Eko Darmo-73k)

Hari Ini Gubernur Buka MTQ Mahasiswa

SEMARANG - Menurut rencana Selasa (2/9) pagi ini, Gubernur Jateng H Mardiyanto membuka MTQ XV Mahasiswa PTN dan TPS Se-Jateng di kampus Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Jalan Menoreh Tengah X/22 Sampangan, Semarang.

PR III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Ir Nugroho W Dipl WRD MEng menyatakan tema kegiatan "Dengan MTQ Mahasiswa Kita Tingkatkan Perbaikan Moral dan Akhlak Bangsa".

Tujuan kegiatan, meningkatkan pemahaman dan pengalaman ajaran Islam di kalangan mahasiswa dan masyarakat serta menumbuhkan ukhuwah antarmahasiswa, masyarakat, dan bangsa.

''Sebagai universitas dengan landasan mencetak mahasiswa yang bertakwa, profesional, dan berbudaya, kami akan selalu mengimplementasikan salam setiap program yang berhubungan dengan minat dan bakat mahasiswa.

Karena itulah Unwahas menyiapkan diri secara maksimal sebagai tuan rumah penyelenggaraan MTQ mahasiswa ini yang akan berakhir pada 3 September,'' katanya.

Kegiatan tahunan ini hasil kerja sama Unwahas dan Pemerintah Provinsi Jateng melalui Departemen Agama Jateng. Rencananya MTQ ditutup Wakil Gubernur Drs Ali Mufiz MPA. (E1-84g)

Hisbul Wathan Mulai Bangkit

SEMARANG - Setelah mengalami kevakuman sejak 1961, organisasi kepanduan Hisbul Wathan di bawah Muhammadiyah mulai bangkit lagi di Jawa Tengah. Sabtu (30/8) ditandai dengan pelantikan para pengurusnya di Islamic Center Manyaran.

Sekretaris Hisbul Wathan Jateng, Muhammad Hafidh SH mengatakan, organisasi itu dibentuk oleh KH Ahmad Dahlan tahun 1917. Namun pada 1961, pemerintah menginginkan agar kepanduan di Indonesia hanya Pramuka. Sejak itulah, keorganisasian maupun kegiatan Hisbul Wathan mengalami kevakuman.

Para pengurus yang dilantik, terdiri Dewan Pembina oleh Drs H A Dahlan Rais MHum, Drs H Rozihan SH, Drs Hj Nurhayati. Ketua dijabat oleh Drs Abdul Rasyid Wahim MA. Wakil Ketua H Soeparno, H Sunardi BSc, dan H Noorfan Soenaryo. Sekretaris M Chafid SH, Haryanto SAg, Hj Rodiyah Mujayin, dan HT Maftuh BA. Selain itu juga dilantik 42 orang pengurus lainnya.

Berusia Senja

Dia mengatakan, walaupun beberapa kegiatannya mirip Pramuka, namun antara dua organisasi kepanduan itu tidak memiliki hubungan organisasi. Kemiripan itu, antara lain pada organisasi kepanduan. Hisbul Wathan juga memiliki pengurus kwartir di tingkat pusat dan daerah.

Kegiatannya, juga memiliki beberapa kemiripan. Misalnya, Hisbul Wathan berencana menyelenggarakan jambore wilayah Se-Jateng pada Juni 2005.

Dalam waktu dekat juga akan diadakan pendidikan dan latihan calon pelatih. Dia menyatakan belum bisa menentukan tempat dan waktunya. Namun diperkirakan Wana Wisata Penggaron di Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang sebagai tempat yang menarik.

Organisasi itu sebenarnya sudah memiliki beberapa pelatih. Namun, mereka rata-rata sudah berusia senja, dan di antaranya bahkan berusia lebih dari 50 tahun. Walaupun para pelatih tua itu masih tampak gagah, energik, dan cukup bersemangat, namun organisasi itu juga membutuhkan pelatih-pelatih muda.

Untuk seragam yang dipakai juga agak berbeda. Pramuka biasanya memakai seragam baju cokelat muda, celana cokelat tua, dan slayer merah putih. Sedangkan Hisbul Wathan, mengenakan seragam baju cokelat muda, celana biru tua, dan slayer hijau.

''Perbedaan kegiatan kami, di Hisbul Wathan nilai-nilai Islam lebih ditonjolkan. Misalnya ketika suara adzan berkumandang, kami akan langsung menghentikan kegiatan untuk menunaikan shalat,'' kata dia. (G6-45)

Kerja Sama Pemkot-PT SMART

Realisasi Pengembangan TBRS Dipertanyakan

BALAI KOTA - Realisasi pengembangan Taman Budaya Raden Saleh menjadi salah satu objek wisata yang diminati masyarakat, dipertanyakan. Sebab sampai saat ini belum ada pembangunan apa-apa di lokasi tersebut, pasca-penandantanganan kerja sama antara Pemerintah Kota dengan PT SMART--investor pengembangan TBRS.

Fraksi Gabungan PPP, PKP, PBB dan PBI DPRD Kota meminta Wali Kota menindaklanjuti kerja sama tersebut. Dengan harapan, setelah TBRS berkembang, sebagian masyarakat akan terserap ke objek wisata tersebut. Dampak positifnya, akan mengurangi kemacetan di kawasan Simpanglima pada hari-hari tertentu.

Anggota Fraksi Gabungan, L Andhik Suryono meminta, mestinya setelah ada perjanjian kerja sama antara Pemerintah Kota dengan PT SMART, dilanjutkan dengan kemudahan dalam pengurusan segala sesuatunya, misalnya dalam hal perizinaan dan sebagainya.

Hal senada dikatakan oleh Ketua Fraksi Gabungan, Drs H Fathur Rahman. Dia juga menilai sejumlah instansi yang ada di Pemerintah Kota kurang serius dalam menindaklanjuti kerja sama tersebut. ''Misalnya Pemerintah Kota memberikan kemudahan dalam hal pengurusan surat yang dilakukan investor.''

Dia mengaku dalam perjalanan pengembangan TBRS pernah ada gugatan dari pengelola lama yang sudah diputus hubungan kerja samanya oleh Pemerintah Kota, yakni PT Graha Utama Candi Indah (GUCI). Namun setahu dia, permasalahan itu sudah selesai.

Sejak awal, banyak pihak yang berharap dengan kerja sama antara Pemerintah Kota dan PT SMART, saat Lebaran 2003 ini, sudah ada tempat hiburan baru bagi masyarakat di Semarang dan sekitarnya. ''Namun tampaknya hal itu belum bisa terwujud kalau sampai saat ini belum ada kejelasan mengenai realisasi kerja sama tersebut,'' tandas dia.

Wakil Ketua Komisi B, Ir HR Heru Widyatmoko MM berharap, dengan pengembangan TBRS, objek wisata di Semarang akan semakin bertambah.

Pengembangan tersebut, menurut dia, bisa memecah keramaian yang selama ini lebih terpusat di Simpanglima. Dengan begitu, kemacetan di kawasan pusat kota itu pun akan terkurangi. (G7-45)

Kirab untuk Dewa Bumi

dari Klenteng Tay Kak Sie

SEMARANG- Kirab Kiem Sien (arca) dan Kio (tandu) berkaitan dengan perayaan Tiong Jiu atau ucapan terima kasih kepada Kong Co Hok Tek Tjing Sien (Dewa Bumi) akan dilangsungkan, Kamis (11/9) atau bertepatan dengan Peh Gwee Cap Go 2554. Kegiatan tersebut melibatkan sejumlah kelenteng di Semarang, Solo dan Jakarta.

Sehari sebelum kirab atau Rabu (10/9), menurut wakil ketua umum panitia pelaksana Pek Hong Siong, peserta diharapkan sudah mendaftar di kelenteng Hoo Hok Bio, Jalan Gang Cilik.

''Pendaftaran sampai pukul 16.00. Untuk memudahkan kegiatan, Kiem Sien dibawa ke kelenteng Hoo Hok Bio, sedangkan Kio tamu atau perserta langsung ditempatkan di aula kelenteng besar Tay kak Sie, Jalan Gang Lombok 62,'' kata dia, kemarin.

Setelah pendaftaran dilanjutkan doa serta menghidangkan sesajian untuk Dewa Bumi. Di sela-sela ritual tersebut akan ada Tangsin, yakni atraksi potong lidah yang dipimpin oleh suhu Acai dari Jakarta.

Persiapan acara kirab esok harinya, mulai pukul 04.00 di kelenteng Tay Kak Sie. Semua Kiem Sien yang ikut dalam kegiatan tersebut tidak diperkenankan membawa bendera kebesaran kecuali dari kelenteng Hoo Hok Bio.

Sekitar pukul 12.00, Kiem Sien para peserta ditempatkan di Kio masing-masing. Selanjutnya pukul 14.00 mereka akan berjalan bersama liong dan samsi, mengikuti Kio dari kelenteng Hoo Hok Bio.

Dari kelenteng Tay Kak Sie, kirab melewati 13 kelenteng di kawasan Gang Pinggir dan berakhir di kelenteng Hoo Hok Bio, antara lain menyusuri Jalan Gang Warung, Jalan Kranggan, Jalan Plampitan, Jalan Sebandaran I, Jalan Jagalan, Jalan Pringgading, Jalan MT Haryono, Jalan Kapuran, Jalan Gang Besen, dan Jalan Wot Gandul Timur. (D7-63)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA