
| Selasa, 2 September 2003 | Ekonomi |
Terasa Makin Sulit Kita Mengejar Laju Perekonomian MalaysiaKEPUTUSAN Pemerintah Malaysia mematok nilai tukar mata uangnya, yakni 380 ringgit setara satu dolar AS, ternyata sangat membantu negara itu keluar dari krisis ekonomi. Baru-baru ini selama sepekan Budi SP wartawan Tabloid Cempaka Minggu Ini (Suara Merdeka Group) mengamati langsung dunia usaha dari Johor sampai Kuala Lumpur yang mulai bangkit. Perekonomian negeri jiran itu kian jauh meninggalkan Indonesia yang dahulu pernah menjadi ''guru ekonomi''-nya.
JARAK Jakarta-Kuala Lumpur memang tak jauh. Hanya butuh 1 jam 40 menit jika ditempuh dengan perjalanan udara. Sebuah perjalanan yang ringan kalau menyebut perjalanan ke luar negeri. Tetapi sangat manusiawi apabila ketika kali pertama berada di Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur Anda bergumam, ''Wah megah... wah mewah... wah indah ....'' Semua yang ditampilkan serbanomor satu, bergaya AS tetapi bernuansa Melayu. Malah ketika Anda melongok keluar dari dinding pembatas kaca, tampak berjejer Mercedes Benz yang di tempat kita hanya dimiliki oleh segelintir orang, tetapi di sana menjadi taksi omprengan. Dalam pikiran Anda mungkin muncul komentar: wah dengan Malaysia saja kita tertinggal. Itu baru pameran pertama lewat bandara. Mungkin perbandingan lewat fakta itu berkesan berlebihan, karena di Jakarta pun ada mobil Volvo yang digunakan untuk taksi. Masalahnya bukan itu yang akan kita bicarakan, tetapi betapa pesat perkembangan perekonomian Malaysia yang dihantam krisis ekonomi pada tahun 1997 bersama dengan sejumlah negara Asia lainnya. Namun negeri itu begitu cepat bangkit lagi. Jika di Indonesia pemulihan ekonomi sangat bergantung pada peran Dana Moneter Internasional (IMF), maka Malaysia justru ''lari'' dari lembaga tersebut. Dengan tidak mengikuti programnya negara itu justru menjadi lebih inovatif dan kreatif. Salah satu kebijakan yang diterapkan Perdana Menteri Mahathir Mohammad adalah mematok nilai tukar mata uangnya menjadi 380 ringgit/dolar AS. Hasilnya, sebagaimana dikatakan oleh Sheikh Ismail SH Ahmad, pelaku bisnis furniture Roos Wood, pengusaha makin bergairah. Nilai transaksi perdagangan mata uang dolar AS ke ringgit yang pada Agustus 1997 masih 20,2 miliar dolar AS meningkat menjadi 22,9 miliar dolar AS pada Oktober tahun yang sama. Bahkan Januari 1998 melonjak menjadi 32 miliar dolar AS. Pada saat yang sama Telekom Malaysia kian agresif melakukan ekspansi global. Dengan menggandeng SBC Communication dari AS perusahaan itu membeli 30% saham Telkom Afrika Selatan senilai 1,3 miliar dolar AS. Apa yang dilakukan pejabat pemerintahan di sana memang tampak bersungguh-sungguh. Gerilya investasi hampir dilakukan di semua lini perekonomian. Sebagaimana dilakukan di Inggris dan Australia, Malaysia mengandalkan hubungan sejarah masa silam sebagai daerah jajahan Inggris. Lalu ke India dan Sri Lanka yang banyak dilakukan oleh warga Malaysia keturunan India. Demikian juga gerilya investasi ke Cina yang dilakukan warga keturunan Cina yang cukup dominan di negara itu. Data Departemen Statistik Malaysia menyebutkan pada Desember 2002 pertumbuhan produk domestik riil pada kuartal ketiga tahun 2002 mencapai 5,6%. Padahal pada kuartal kedua tahun yang sama baru 3,9% dan kuartal pertama 1,1%. Dengan demikian pertumbuhan ekonomi selama sembilan bulan pertama mencapai 3,5%. Percuma Sekolah Mendengar kata percuma tentu yang ada dalam benak kita adalah segala sesuatu yang sia-sia. Tetapi kata percuma di Malaysia merupakan kabar yang menyenangkan bagi kita karena kata itu di sini sama dengan gratis. Selintas hidup di Indonesia dan di Malaysia memang tidak berbeda. Hanya kita patut iri ketika mendapati masyarakat di sana berbondong-bondong mendaftarkan anaknya sekolah namun tanpa dipungut biaya. ''Di sini masyarakat yang berpenghasilan kurang dari dua juta ringgit biaya pendidikannya ditanggung percuma oleh negara. Bahkan jika orang tua tidak atau lalai menyekolahkan anaknya akan terkena denda atau sanksi hukuman,'' kata Rehan, sopir Faiza Rice Company. Pemerintah Malaysia tampak ingin mencitrakan keadilan secara merata. Buktinya, mereka yang berpenghasilan besar dikenai pajak penghasilan yang besar pula. Pemerintah di sana menyadari bahwa kemajuan perekonomian tidak hanya ditentukan oleh pengusaha besar. Artinya, dorongan kepada para pengusaha kecil pun diutamakan karena mereka memberikan kontribusi cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi domestik. Penguatan ekonomi domestik merupakan pilihan penting untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, sekaligus meminimalisasi ketergantungan terhadap impor dan pinjaman luar negeri. Untuk itu berbagai stimulus dilakukan. Misalnya memberi bunga kredit rendah kepada masyarakat, yakni 10% per tahun. Semua lembaga keuangan diwajibkan mengalokasikan dana sekaligus memberikan pinjaman kepada usaha kecil sebanyak-banyaknya. Bahkan birokrasi yang menghambat proses perizinan dalam pendirian badan usaha dan permohonan kredit dipangkas habis sehingga pelaku usaha kecil gampang membuka akses. Demikian juga dengan birokrasi impor yang tidak terlalu membebani pelaku bisnis. Sebagaimana dikatakan oleh Fikri bin Abu Bakar, importir beras herba poni dari India, jika yang diimpor merupakan barang yang sangat bermanfaat bagi masyarakat maka pemerintah akan memberi kemudahan. ''Kali pertama saya ragu apakah beras antidiabetes yang saya impor akan mudah masuk Malaysia. Tapi karena beras tersebut sudah lolos uji klinis di India, Australia, dan Singapura, serta sangat bermanfaat bagi kesehatan, akhirnya mudah saja masuk. Malah diterima baik masyarakat di sini,'' kata Fikri. Harus diakui, Malaysia memang beberapa langkah lebih maju dari Indonesia, dan ketertinggalan itu rasanya makin sulit dikejar. Ibarat sebuah perpisahan, lambaian tangan Malaysia sudah terlihat sayup-sayup di mata kita. Malaysia memang memiliki visi dan program terpadu serta terarah. Mereka punya cita-cita yang jelas dan komitmen yang tegas terhadap penghambat pembangunan, yakni memberantas tuntas korupsi. Lalu kapan Indonesia bisa seperti itu kalau para petinggi negara sibuk mengurus diri sendiri?(53) |