logo SUARA MERDEKA
Line
  Selasa, 2 September 2003 Ekonomi  
Line

Inflasi Agustus 0,84 Persen

JAKARTA-Inflasi pada bulan Agustus 2003 sebesar 0,84%. Tertinggi terjadi di Banda Aceh 2,95% dan terendah di Mataram 0,02%. Demikian kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sudarti Surbakti, kemarin.

Inflasi selama Agustus, kata dia, didorong oleh kenaikan harga sejumlah komoditas dan tarif jasa. Beberapa komoditas yang naik harganya antara lain beras, cabai merah, cabai rawit, perhiasan emas, serta elpiji.

''Tarif jasa yang naik adalah uang sekolah SD, SLTP, SLTA, dan perguruan tinggi, serta listrik. Komoditas yang turun harganya adalah daging ayam ras, gula, bawang merah, telur ayam ras, ketimun, dan minyak goreng,'' tambahnya.

Soedarti menyebutkan dari tujuh kelompok pengeluaran yang tercakup dalam indeks harga konsumen (IHK) enam kelompok mengalami inflasi, yakni kelompok bahan makanan 0,15%, perumahan 0,61%, dan sandang 0,28%.

Kelompok lain, yakni pendidikan, rekreasi dan olahraga inflasi 7,82% serta transpor dan telekomunikasi 0,09%, sedangkan makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau deflasi 0,11%.

Selama Agustus, lanjut dia, kelompok komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar adalah bahan makanan 0,03%, perumahan 0,14%, dan sandang 0,03%.

Dari kelompok bahan makanan, ujar dia, komoditas yang memberikan andil inflasi antara lain beras, cabai merah, dan cabai rawit masing-masing 0,05%, serta tomat sayur dan ikan segar masing-masing 0,02 %. Kelompok perumahan yang memberikan andil inflasi antara lain tarif listrik 0,04%, sewa rumah 0,03%, dan kontrak rumah 0,02%.

32 Kota Inflasi

Menurut Sudarti, dari 43 kota yang disurvei IHK-nya 32 di antaranya mengalami inflasi yang diakibatkan oleh kenaikan harga kelompok barang dan jasa, misalnya bahan makanan 0,15%, perumahan 0,61%, dan sandang 0,28%.

Lalu kelompok kesehatan inflasi 0,23%; pendidikan, rekreasi dan olahraga 7,82%; serta transpor dan komunikasi 0,09%. Sebelas kota sisanya mengalami deflasi. Deflasi terbesar terjadi di Jambi, yakni 0,80%, dan terkecil di Bengkulu 0,04%.

Penyebab deflasi, kata dia, adalah makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau. Kelompok itu mengalami penurunan harga 0,11%.

''Laju inflasi tahun kalender Januari-Agustus 2003 mencapai 2,11%, sedangkan inflasi year on year Agustus 2003 terhadap Agustus 2002 adalah 6,38%,'' jelasnya.

Mengenai perdagangan, Sudarti mengatakan Indonesia membukukan surplus perdagangan 2,71 miliar dolar AS pada Juli, sedangkan pada periode yang sama tahun lalu 2,41 miliar dolar AS. Surplus perdagangan Juni 2003 tercatat 2,85 miliar dolar AS.

Ekspor Juli 2003 tercatat 5,25 miliar dolar AS atau naik dari 5,01 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun lalu. Pada Juni 2003 ekspor tercatat 5,28 miliar dolar AS.

Nilai impor pada Juli 2003 sebesar 2,54 miliar dolar AS atau turun dari 2,60 miliar dolar AS pada Juli 2002. Pada Juni 2003 impor mencapai 2,43 miliar dolar AS.(tri-53)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA