
| Selasa, 2 September 2003 | Budaya |
Pasar Malam di Pekarangan Rumah Kita (1)Kebersamaan yang Hangat ItuPADA hari-hari biasa, di pekarangan luas milik Hertoto Basuki, Ketua Kadinda Jateng di Jl Durian Raya No 8, Banyumanik, Semarang, itu tak pernah ramai. Namun, Sabtu (30/8) lalu mulai pagi, pekarangan menjelma tempat bazar dan aneka aktivitas (kesenian) yang meriah. Ya, pagi hingga malam, beragam ekspresi seni-budaya bersalngsung di sana dalam tajuk ''Pasar Malam di Pekarangan Rumah Kita''. Acara digelar Limpad, lembaga media pembelajaran komunitas di Semarang. Ada sarasehan pedalangan dan kebatinan Jawa, Wayang Dongeng, obrolan santai dengan Gubernur Mardiyanto, performance art, dan pergelaran wayang kulit. Apa yang ingin mereka capai? ''Semua acara seyogianya dimaknakan sebagai media pembelajaran. Tak melulu berbicara dalam tataran wacana, manifestasi praktis pun perlu dikemukakan. Acara menjadi ruangnya,'' ujar Adriani Sumampouw Soemantri, Koordinator Limpad. Ada tujuan yang lebih bersahaja. Yakni, penyajian acara yang melibatkan semua kalangan tanpa pagar pembatas. Tambahannya; rasa syukur atas ulang tahun Ke-61 budayawan Darmanto Jatman, serta terpilihnya Mardiyanto sebagai Gubernur Jateng kali kedua. Mari kita lihat, adakah kebersamaan itu tercipta? Lihatlah, sebelum acara benar-benar dibuka, di pekarangan rumah Hertoto berjajar stan kerajinan dan produk makanan-minuman. Lalu sekelompok perempuan dalam busana muslim melantunkan kasidah diiringi rebana dan jidor sejak sekitar pukul 10.00. Kelompok asal Magelang itu terus bermain, sementara acara sarasehan bertajuk ''Dalang dan Kebatinan Jawa'' dimulai di sebuah ruang yang tak jauh dari mereka. Sarasehan diawali dengan peluncuran dua buku terbitan Limpad berjudul Dalang, Negara, Masyarakat karya Dr M Jazuli (staf Pascasarjana Unnes) dan Bilung Kesasar karya Darmanto Jatman. ''Saya hanya ingin membuka wacana dunia pedalangan. Dalang itu agen, seperti banyak profesi lain.'' Wayang Dongeng Selepas sarasehan adalah pergelaran Wayang Dongeng dari Sanggar Seni Paramesthi di pekarangan. Agaknya, itulah saatnya tertawa setelah kening berkerut selama sarasehan. Penonton, termasuk Gubernur Mardiyanto, menyimak lakon ''Macan Gareng'' yang dibawakan dalang Trontong dasewa itu. Meski lakon itu telah dimainkan beberapa kali di berbagai tempat, namun siang itu Wayang Dongeng tampil dengan perangkat artistik yang agak berbeda. Ya, penonton sudah tertawa bahkan ketika Trontong baru membuka janturan. Apa pasal? Dia meminta mikrofon yang tergantung di lehernya dibetulkan. Bukan itu saja. Di akhir janturan awal, tak kompaknya musik pendukung membuat dia meminta untuk diulang dari awal. Penonton tergelak, tak terkecuali Mardiyanto. Tapi, aksi Trontong harus ''istirahat'', karena acara ngobrol bebas bersama Mardiyanto di joglo akan dimulai. Dibuka dengan doa syukur dan seremoni pemberian hadiah ulang tahun kepada Darmanto Jatman yang antara lain sebuah lukisan dari putrinya, Bunga Jeruk Pekerti. Obrolan bersama gubernur yang diharapkan bisa rileks justru berkesan monoton. terlebih banyak peserta yang memanfaatkan ''tatap muka'' itu untuk meminta dana. Usai obrolan, Wayang Dongeng beraksi kembali. Memikat dan menghibur. (Saroni Asikin/bersambung-79) |