logo SUARA MERDEKA
Line
  Sabtu, 30 Agustus 2003 Sala  
Line

Penderita Lepra di Sragen

Suami Mondok di RS, Anak Dirawat Tetangga

NASIB keluarga Suwarno (32), buruh tani warga Mlokolegi, Desa Celep, Kedawung teramat menderita. Bapak dua anak yang menjadi tiang keluarga itu tergolek tidak berdaya di bangsal isolasi RSUD Sragen. Dia menderita sakit lepra akut.

Sejak mendampingi suaminya, Ny Lasiem praktis tidak bisa bekerja sebagai buruh tani di desa. Sisa tabungan beberapa puluh ribu habis untuk berobat. Bahkan, sejumlah perabot rumah tangga habis dijual ke tetangga untuk menyambung hidup.

''Saya sudah entek-entekan (habis-habisan), perabot rumah tangga sudah terjual'' ungkap Ny Lasiyem sambil berlinang. Dua putranya David Saputro (10) dan Robin Adi Pamungkas (4) dirawat Warsini (30), adik iparnya. Namun, karena adiknya tidak tergolong mampu, dua putranya dirawat para tetangga dekatnya.

''Untuk kebutuhan makan sehari-hari dua anak saya ikut menumpang tetangga,'' tambah Lasiyem. Sejak dana pengobatan Suwarno ditanggung program Jaring Pengaman Sosial (JPS) Bidang Kesehatan, sebenarnya bebannya agak ringan. Namun, karena menunggui suami, dia praktis tidak bekerja dan tidak memperoleh penghasilan. Pikirannya pun bercabang. Dia harus menunggui suaminya tergolek tidak berdaya dan kerap mengeluh kesakitan. Di sisi yang lain, dia memikirkan dua anaknya yang masih kecil yang dirawat para tetangga. ''Saya seperti tidak kuat menanggung beban ini,'' katanya.

Perihal sakit suaminya itu sebenarnya terjadi sejak awal Mei 2003. Semula dia mengeluh sakit asam urat dan gula. Secara rutin, dia dibawa berobat ke Puskesmas Karangpelem, Kedawung.

Karena tidak kunjung sembuh, pada Juli dia dirawat di RSUD. Karena tidak mempunyai biaya cukup untuk keperluan berobat, pasien dibawa pulang. Selama perawatan di rumah, Lasiyem mencoba meminta bantuan lima orang dukun. Tapi kelima dukun ampuh yang dipercaya mampu mengobati penyakit berat, menyatakan angkat tangan.

Penyakit lepra makin menggerogoti tubuh Suwarno, hingga sekujur tubuhnya melepuh dan terasa panas dingin. Dengan bantuan JPS, pasien kembali dirawat di RSUD.

''Sekali menebus resep, hingga tiga ratus ribu rupiah. Namun, saya tidak membayar karena ditanggung JPS,'' katanya. Dia masih berharap, suaminya bisa disembuhkan. Sebab, dua anaknya masih kecil, masih butuh belaian kasih sayang kedua orangtuanya.(Anindito AN-34e)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA