
| Sabtu, 30 Agustus 2003 | Sala |
TerasIB di Wonogiri Peringkat TertinggiDITINJAU dari segi kualitas dan kuantitas, pelayanan Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik ternak sapi di Kabupaten Wonogiri, menduduki peringkat tertinggi di Jateng. Keberhasilan IB di Wonogiri ditandai dengan keberadaan jumlah sapi yang menjadi akseptor dan angka kelahiran IB yang juga mengalami peningkatan. Untuk mengetahui sejauh mana keberadaan pelayanan IB, berikut wawancara wartawan Suara Merdeka dengan Kepala Dinas Kehewanan Perikanan Kelautan (Wanperla) Kabupaten Wonogiri Ir Purwadi Hadi Susanto SH MM. Betulkah jumlah IB Wonogiri terbesar di Jateng? Betul, memang kenyataannya begitu. Dalam pelaksanaan IB, kami menduduki ranking teratas di Provinsi Jateng. Itu dapat dicermati dari data pelayanan IB di Kabupaten Wonogiri yang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang signifikan. Pada 2001 lalu misalnya, tercatat 34.066 ekor sapi sebagai akseptor IB. Kemudian 2002 meningkat menjadi 35.559 ekor. Hasil yang dicapai? Hasilnya sangat positif dan signifikan. Yang jelas, jumlah kelahiran pedhet (anak sapi) hasil IB dari tahun ke tahun juga mengalami peningkatan. Pada 2001 misalnya, ada 24.505 ekor kelahiran dari IB, dan 2002 meningkat menjadi 26.268 ekor. Apa yang mendorong peningkatan itu? Itu disebabkan oleh dua unsur. Pertama, kemampuan menyosialisasikan IB ternyata mendapat tanggapan positif serta antusias oleh kalangan petani dan peternak. Juga didukung perangkat landasan yuridis yang dibakukan ke dalam perda. Di sisi lain, ada kemudahan yang diberikan Dinas Wanperla beserta jajarannya, terutama para juru suntik yang menjadi ujung tombak pelayanan IB. Apa buktinya? Bukti kemajuan IB Wonogiri ditandai dengan ikut serta tim penilai pusat yang peduli menilai calon petugas inseminator teladan tingkat nasional 2003, pada Narto Tunggul Raharjo alias Koko. Dia petugas IB di Ngadirojo yang kini masuk nominasi 10 besar peringkat nasional. Sebagai juru kawin suntik sapi, Koko menjadi tokoh populer di kalangan petani peternak di wilayah kerja (wikel) Ngadirojo I. Dia petugas yang sering disebut sebagai mantri pacek dan mahir dalam menekuni tugas lapangan serta berdedikasi tinggi. Dia mengembangkan tiga sistem pelayanan, yakni pelayanan pasif (2%), semiaktif (5%), dan aktif (93%). Pelayanan aktif di sini diartikan sebagai model pelayanan jemput bola. Hebatnya lagi, hasil angka kebuntingan rata-rata mencapai 70-80%. (Bambang Pur-74s) |